039

702 47 11
                                        

Selamat membaca

.
.
.
.

⬇️⬇️⬇️

Hello!

Just info!

Sebagai permintaan maaf karena sudah lama tidak update, maka bab ini aku kasih 4500 kata lebih.

So, baca pelan-pelan ya, Babe 💋

Ceyamat malam minggu 😙

Kegundahan hati Thalassa tak kunjung mereda, hal yang membuat wajahnya tertekuk masih mengganjal dalam dada. Meski demikian, senyumnya tetap mengembang, menyembunyikan segala bimbang yang menyerang.

Para maid menyapanya dengan senang, seperti biasa di setiap harinya. Thalassa pun menyambut dengan hangat, seolah semuanya berjalan baik.

Para maid Mansion Arizona memulai tugasnya pagi ini, ada beberapa yang membersihkan lantai, mengelap berbagai furnitur ruang, mencuci pakaian, dan beberapa maid dapur yang sibuk memindahkan peralatan makan dari meja makan menuju dapur.

Thalassa melangkah pelan, melewati para maid yang sedang sibuk dengan tugasnya masing-masing. Biasanya di saat-saat seperti ini, ia akan menemui Caroline. Entah mereka akan menghabiskannya dengan memakan camilan, menonton, atau sekadar mengobrol ringan di selasar dapur.

Dan pagi itu, menjadi pagi yang sangat berbeda bagi Thalassa. Keputusannya menjauhi Caroline teramat menyiksa.

Hujan yang semula hanya berupa rintik kecil, kini berubah. Tetesan-tetesan kecil itu, turun dengan intensitas berlebih, ritme yang teratur dan lebih banyak. Thalassa menatap air langit itu dengan genangan air mata, seolah hujan pagi itu adalah cerminan atas perasaannya.

Di depan pintu kaca besar yang membatasi antara ruang makan dan balkon utama—Thalassa berdiri membisu—menatap hujan yang airnya mulai menyerbu pintu kaca, sehingga menciptakan jejak berupa buliran air yang semakin banyak dan mengaburkan pemandangan di luar.

"Caroline," lirihnya. "Mengapa harus kau?" Thalassa masih saja tidak bisa menerima kenyataan itu.

Perlahan tetesan air mata yang mati-matian ditahannya, luruh juga dan membasahi pipinya.

"Apa yang harus kulakukan?" Kini isakannya mulai naik, bahunya terlihat gemetar menahan tangis.

"Aku tak bisa terus seperti ini," keluhnya. Punggung tangannya terangkat, mengusap kasar pipi basahnya.

Bersamaan dengan itu, Thalassa melebarkan langkah untuk mencari keberadaan Caroline.

Tempat pertama yang ia datangi tentu adalah dapur. Sesampainya di sana, pemandangan pertama yang tertangkap mata Thalassa adalah riuhnya para maid dapur yang sedang bekerja. Dan dari banyaknya para maid dapur itu, Thalassa tak menemukan sosok yang dicarinya.

Segera wanita itu pergi. Langkahnya semakin cepat, menelusuri seluruh sudut ruang yang mungkin saja menyembunyikan Caroline. Namun, tak satu pun ruangan di dalam mansion besar itu yang menunjukkan tanda keberadaan Caroline.

The Blue ShineTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang