Part 35

247 22 43
                                        

🔔 Triiing Triiing 🔔

Bel sekolah berbunyi, pertanda upacara pembukaan semester segera dimulai. Reyna dan teman-temannya memasuki kelas baru mereka.

“Pagi semuanya,” sapa seorang guru.

“Pagi, Bu,” jawab murid serempak.

“Hari ini kita akan melaksanakan upacara pembukaan semester. Silakan semuanya ke lapangan.”

Mereka pun berjalan ke lapangan. Reyna mengikuti upacara dengan tertib, mendengarkan sambutan kepala sekolah dan perkenalan guru baru. Setelah selesai, mereka kembali ke kelas. Karena jadwal singkat, murid-murid dipulangkan pukul 10.00 WIB.

Reyna bersama Keyla dan Alisa memilih pergi ke kantin. Ia mengeluarkan bekal, sementara Keyla dan Alisa memesan makanan.

“Key, lo nggak bawa bekal?” tanya Reyna.

“Enggak lah, gue bawa duit aja yang banyak.” Keyla cengengesan.

“Si paling kaya,” sahut Alisa.

“Bukan gue, yang kaya emak bapak gue. Gue mah cuma serpihan kerupuk udang.” balas Keyla, membuat Reyna tertawa.

Mereka pun memesan bakso dan es teh. Suasana hangat tiba-tiba buyar ketika Riana datang membawa cat dan menyenggol bahu Reyna.

Byuur!

“Aduh, gimana sih jalannya. Bajuku jadi kotor,” keluh Reyna.

“Ups, maaf ya, saya nggak sengaja,” kata bu Riana, tapi nadanya seperti mengejek.

“Punya mata nggak sih bu? Kasian Reyna jadi kotor bajunya,” protes Keyla.

“Kan sudah saya bilang, nggak sengaja!” ucap Riana ketus.

“Kayaknya sih disengaja,” timpal Alisa.

Reyna mencoba menenangkan teman-temannya.“Sudah, biar aja, nanti aku ganti baju aja. Yuk, Key, habis ini kita mampir toko baju.”

“Siap,” jawab Keyla.

Namun, saat Reyna hendak berdiri, Riana sengaja menggeser kakinya. Reyna pun terjatuh.

“Rey! Astaga, lo nggak apa-apa?!” Keyla buru-buru menolong Reyna.

Keyla dan Alisa melotot ke arah Riana.
“Ibu apa-apaan sih?! Kalau bukan di sekolah, udah gue lawan deh sumpah!” gerutu Keyla.

“Dasar jomblo gabut,” sindir Alisa.

Wajah Riana memerah ia menahan amarah, namun Reyna menarik tangan sahabatnya. “Udah, yok pulang aja.”

Sementara itu, Satya tengah berbincang dengan kepala sekolah soal pernikahannya dengan Reyna. Ia menceritakan semua masalah yang sempat mereka hadapi. Seusai itu, Satya keluar menuju parkiran, tapi tiba-tiba bertemu Riana.

“Hai, Mas. Ketemu lagi. Mungkin ini jodoh ya?” kata Riana tersenyum lebar.

“Mau apa lagi kamu? Bukankah sudah jelas pembicaraan kita kemarin?” balas Satya dingin.

Riana mendekat dan mengelus dada Satya. “Jangan marah-marah, sayang. Aku nggak suka lihat kamu begini.”

“Lepas! Jangan sentuh aku!” bentak Satya.

Tatapan Riana berubah dingin. “Kalau aku tak bisa memiliki kamu, maka Reyna juga tak boleh.”

Satya mengepalkan tangan. “Jangan pernah ganggu rumah tanggaku!”

Namun Riana malah tersenyum mengejek. “Setelah putus sama aku, badanmu jadi kurus, ya. Kasian deh.”

“Dasar jalang! Kamu hanyalah masa laluku!” hardik Satya, lalu meninggalkannya.

Di sisi lain, Reyna dan Keyla menunggu taksi online di depan sekolah. Saat itu, mereka melihat mobil Satya melaju dengan kecepatan tinggi.

“Eh buset, Rey. Kenapa tuh Pak Satya?” tanya Keyla.

“Mana gue tahu, dari tadi kan gue sama lo,” jawab Reyna.

Keyla mengangkat alis. “Apa mungkin dia marah sama lo?”

Reyna menggeleng, namun hatinya gelisah. Ia memutuskan untuk pulang saja.

Beberapa menit kemudian, taksi datang. Reyna berpamitan pada Keyla dan segera naik. Dalam perjalanan, pikirannya penuh kecemasan. “Kenapa abang Satya marah? Semoga dia baik-baik aja deh.”

Sesampainya di rumah, Reyna langsung masuk. “Baaang, aku pulang!” teriaknya.

Namun Satya hanya duduk menatap laptop, tak menoleh sedikit pun. Reyna kesal. “Sepenting apa sih laptop itu? Aku teriak pun nggak didengar.” Ia menghampiri Satya. “Tadi kenapa kayak orang marah-marah?”

Satya menoleh sekilas. “Aku nggak apa-apa kok. Lagi ada kerjaan aja.”

“Abang ih terus aja begitu, sibuk sama laptop.” Reyna emosi lalu beranjak ke kamar mandi.

Satya hendak meminta maaf, tapi terkejut melihat baju Reyna kotor terkena cat. Ia berusaha menahan Reyna. “Kenapa bajumu? Siapa yang—”

“Sudahlah, fokus saja sama laptopmu. Jangan pedulikan aku!” Reyna menepis tangannya dan masuk ke kamar mandi.

“Sayang, tunggu. Maafkan aku, kakimu memar kenapa Itu? ” panggil Satya, berdiri di depan pintu.

“Diam! Tinggalkan aku sendiri!” teriak Reyna dari dalam.

Satya hanya bisa terdiam, hatinya perih melihat Reyna marah. Ia tahu, ada sesuatu yang disembunyikan Reyna darinya.

My teacher my husband-Telah TerbitTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang