.
.
.
.
.
Awan mendung berarak tertiup angin. Rintik hujan di sore itu mengetuk jendela kaca pelan. Suaranya tidak begitu terdengar karena suara gesekan kertas dan tarikan solatip.
Meski awalnya menolak, Celine tetap melakukan pekerjaannya dengan baik. Diluar dugaan Michael gadis itu mengemas cukup banyak hadiah dengan rapi dan cepat. Meskipun tidak dipungkiri jika raut kesalnya masih sedikit terlihat karena kedua alisnya masih sedikit bertaut.
Dering ponsel Celine mengisi keheningan. "Halo Zari." Gadis itu menatap Michael sekilas. "Iya, aku masih di rumah sakit."
Tangan kirinya meraih satu kertas kado lainnya. "Jemput saja setelah kau selesai nanti. Hubungi aku kalau sudah sampai." Kemudian panggilan berakhir. Celine menatap Michael tajam, "Kau menguping?"
Michael mengangkat bahu pelan. "Aku punya telinga." Jawabnya singkat membuat Celine beralih kembali pada hadiah di depannya. "Kenapa aku merasa seperti kembali ke masa lalu."
Tidak ada balasan.
"Kau mendengarku kan?" Tanya Michael yang Celine Jawab santai juga.
"Aku memilih untuk tidak mendengarnya."
"Kenapa?"
"Tidak penting."
Michael menghentikan kegiatannya. "Berbicara denganku tidak penting bagimu?"
"Topiknya tidak penting."
"Benarkah?" Michael melipat kertas di depannya perlahannya. "Apa bersikap defensif seperti ini membuatmu merasa aman?"
"Kau bukan dokterku."
"Makanya aku bertanya Cloe."
"Jangan panggil aku Cloe!" Ucap Celine tegas.
"Kenapa?"
Celine menghela napas. "Kau yang kenapa Mike. Kenapa kau banyak bertanya? Aku sudah kesal karena Lili memaksaku melakukan ini, dan kau terus menerus berbicara hal hal yang tidak penting."
"Apa menanyakan kabar teman itu tidak penting?"
"Aku di depanmu sekarang. Kau bisa lihat sendiri aku sehat tanpa luka. Apalagi yang ingin kau tahu." Gerutu Celine setelah menyelesaikan satu lagi hadiah.
"Perasaanmu. Suasana hatimu sekarang." Michael juga menyelesaikan hadiahnya. Dia menatap Celine lembut. "Kenapa kau membutuhkan konsultasi setiap minggu jika kau baik-baik saja? Kukira kau sudah memaafkanku, lalu kenapa kau tidak terbuka lagi padaku Celine? Kau tidak mau bercerita lagi padaku?"
"Kau sendiri yang bilang jika pemeriksaan jiwa tidak membuatmu di cap orang sakit jiwa. Yang kulakukan ini adalah salah satu cara menjaga kewarasaanku Mike. Jangan ikut campur."
"Kalau begitu kau tidak sesehat yang terlihat Celine."
Celine balas menatap Michael lurus. "Menurutmu, ada orang yang jiwanya masih waras setelah dilukai sedemikan rupa oleh orang yang sangat dicintainya. Bahkan kau orang yang kupercayai juga sudah membohongiku. Anggap saja ini memang caraku melindungi diriku sendiri."
"Waktu itu kau juga seperti ini." Michael membuka selembar kertas kado baru. "Saat sebelum kau kehilangan George Laurent. Kau menjadi gadis yang tegas, tidak mau didikte, semaumu sendiri. Jujur saja aku menyukai versi dirimu yang periang dan hangat. Meski itu kau dapatkan setelah bertemu Jason."
"Jangan sebut namanya di depanku."
"Sampai kapan?"
"Itu bukan urusanmu."
KAMU SEDANG MEMBACA
broken PRINCESS
Roman d'amourCeline James memiliki segalanya selain satu hal... Kebahagiaan. Sosok putri kerajaan terlihat begitu indah dari luar, namun siapa sangka jika di dalam diri Celine tidak tersisa apapun selain... Kehampaan. Bagaikan porselen kaca yang berkilau, Celine...
