CELINE - 48

25 2 0
                                        

.

.

.

.

.

Jason tahu dengan pasti apa yang akan dilakukannya ini adalah sebuah kejahatan. Memanfaatkan Celine untuk membalas luka keluarganya. Memastikan Louis Hamilton merasakan sakitnya tangis orang yang disayanginya.

Jason akan pastikan Louis Hamilton akan membayar semua perkataan dan perbuatannya. Dia harus membayar semua kesulitan yang dialami ibu, kakak, kakak iparnya, dan keponakannya. Jason akan mengajarkannya apa itu hukum tabur tuai.

Melalui Celine, Louis akan melihat apa itu derita luka lara. Jason akan membuatnya sadar jika semua yang dilakukannya adalah dosa. Dan cucunya akan menjadi alat untuk pembalasan Jason.

Jason memang pernah menyukai Celine. Pernah secinta itu pada gadis bermata indah yang sampai sekarang masih membuat jantungnya berdebar. Jason pernah sepeduli itu, hingga rela memberikan hidupnya untuk Celine.

Namun, rasa itu memudar. Bahkan hampir hilang. Jason akan membuktikannya. Bahwa dia bisa memanfaatkan Celine, tanpa merasa bersalah. Seperti, George Laurent ataupun Ezanio Peter.

Dan Jason pastikan Louis Hamilton akan melihatnya.

"Jason." Sapa Laurel yang berdiri di dekat pintu kamar. Yang Jason duga adalah kamar Celine.

"Nyonya Laurel." Balas Jason sopan.

"Terima kasih. Sudah mau menemui Celine."

"Saya sudah mendengar apa yang terjadi. Saya turut prihatin."

Laurel mengusap sikunya lemah. "Masuklah, dia akan senang bisa melihatmu." Ucap Laurel sembari membuka pintu.

'Jangan ragu. Jangan lemah. Jangan melunak.'

Jason berjalan pelan mengikuti langkah Laurel. Kedua matanya memilih mengamati keadaan kamar sekilas sebelum kedua matanya bertemu dengan mata legam indah Celine.

"Jason!" Seru Celine dengan senyum lebar. "Jason akhirnya kau datang!" Lanjutnya yang kemudian berjalan menghampiri Jason dengan langkah terburu-buru.

Laurel yang melihatnya, menggeser tubuh menjauh. Memberi ruang keduanya.

Dengan tertatih, Celine memaksa berjalan dengan kaki kiri dalam balutan gips tebal. Hingga akhirnya tubuhnya limbung. Reflek Jason segera merengkuh tubuh Celine dan membiarkan Celine mengalungkan lengan di lehernya.

"Jason, aku merindukanmu." Ucap Celine penuh dengan rasa lega. "Aku merasa bingung saat sadar dan tak bisa menemukanmu. Kata kakek kau masih sibuk dengan proyek dan akan datang segera. Syukurlah kakek tidak mengingkari janjinya, yaaa meskipun ini sangat terlambat. Tapi, tak masalah kau di sini sekarang dan itu sudah cukup."

Jason membeku. Pelukan Celine terasa begitu hangat. Dia bisa merasakan bagaimana kedua tangan kecil itu mengeratkan pelukannya.

"Aku sungguh-sungguh merindukanmu Jaz. Aku senang bisa bertemu denganmu."

Mencoba kembali memfokukan pikiran. Jason mengurai rengkuhan Celine perlahan, mengundang raut bingung sang gadis.
"Duduklah, jika berdiri terus kakimu akan semakin sakit." Ucap Jason yang membuat Celine kambali tersenyum lebar.

"Kau benar. Sakitnya mulai terasa, padahal tadi tidak. Aku terlalu bersemangat saat melihatmu Jaz."

Jason membantu Celine duduk di pinggir tempat tidur. "Kau belum makan ya?"

broken PRINCESSTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang