.
.
.
.
.
Harus Celine akui, semesta punya cara unik untuk memberi pertanda. Celine tak pernah menduga jawaban dari pertanyaannya akan datang secepat ini.
Kenyataan di depannya membuat dia sadar. Jika, meninggalkan dunia ini bukanlah solusi dari semua kesedihannya.
Celine melepaskan ponselnya segera. Tidak ada waktu untuk berdiam diri. Meski tubuhnya lemas dan kepalanya pusing. Dengan berani Celine mendekati mobil di depannya dan membuka pintu penumpang. Seorang gadis kecil nampak merintih kesakitan sembari memanggil nama ibunya.
"Kemarilah aku akan menolongmu. Ulurkan tanganmu." Celine memasuki mobil itu dengan penuh hati-hati dan membawa gadis itu ke dalam pelukannya. "Tunggu di sini sebentar akan kubantu ibumu oke."
Celine beralih untuk memutari mobil dan berusaha membuka pintu depan yang macet. Cukup lama, Celine berusaha dan akhirnya pintu terbuka. Wanita itu sudah tak sadarkan diri dengan darah di mana-mana.
Celine segera melepas sabuk pengaman dan dengan hati-hati menarik tubuhnya keluar dari mobil. Untungnya tak ada anggota tubuh yang terjepit sehingga Celine bisa dengan mudah membawa tubuhnya.
Saat Celine menarik tubuh itu sedikit jauh dari mobil mereka yang rusak, sang anak segera berlari dan memeluk tubuh sang ibu yang tidak sadar.
"Ibu! Ibu! Bangun." Di bawah hujan yang semakin deras Celine memangku kepala wanita itu dan menatap gadis itu pilu.
"Ibumu akan baik-baik saja. Aku sudah meminta bantuan." Ucap Celine dengan terbata.
Tak lama terdengar suara ambulan. Celine menatap arah kedatangan mobil itu dengan cemas. Berharap mereka segera sampai dan menolong wanita ini. Namun, belum sampai para dokter turun dari mobil sebuah ledakan terjadi.
Suara kerasnya membuat Celine menutup mata, namun tak melepaskan rengkuhannya pada wanita di pangkuan ataupun gadis kecil yang masih terisak.
"Pasiennya di sini! Nona biar kami bantu membawanya!"
"Ada anak kecil!"
"Nona anda juga terluka?"
Saat dokter sudah membawa sang ibu dan anak menuju ambulan. Suara-suara itu tiba-tiba terdengar jauh dari telinga Celine. Pandangan Celine mengabur. Dan pria dengan rompi di depannya tampak menghilang.
- -
- -
- -
- -
- -
Saat Celine sadar dari pingsannya. Laurel menjadi orang pertama yang muncul di pandangannya. Zari bicara banyak hal tentang khawatir. Dia menemukan anggota keluarga Dazl yang lain juga menjenguknya.
Namun, satu hal yang menarik perhatiannya hanya saat madam Dhita berkata jika Mike sempat melihatnya dirawat dari luar kamar.
"Kau tersenyum." Ucap Jason yang sejak tadi duduk di dekat Celine.
Haruskah Celine mengatakan jika sedikit merasa senang, saat Mike masih memedulikannya.
"Kau terluka sebelum hari pernikahan. Apa yang kau pikirkan?" Tanya Jason lagi.
"Aku mau pulang." Ucap Celine tegas. Mengundang decakan Jason.
"Kau dan keras kepalamu itu memang tidak bisa dipisahkan. Kau harus dirawat, tubuhmu lemah."
KAMU SEDANG MEMBACA
broken PRINCESS
RomansaCeline James memiliki segalanya selain satu hal... Kebahagiaan. Sosok putri kerajaan terlihat begitu indah dari luar, namun siapa sangka jika di dalam diri Celine tidak tersisa apapun selain... Kehampaan. Bagaikan porselen kaca yang berkilau, Celine...
