.
.
.
.
.
Api tidak bisa dilawan dengan api.
Jason pernah menjadi api namun, Celine hadir sebagai air yang meredakannya. Berkali-kali. Hingga Celine mencapai batasnya di bawah guyuran hujan kala itu.
Jika, sekarang Celine adalah api itu, Jason akan menjadi air yang balik meredam amarah Celine. Dia jelas tidak ingin berbuat gegabah lagi hingga membuat Celine makin membencinya.
"Kau terlalu berusaha Jason." Celetuk Brian yang mengamati Jason sibuk dengan nampan berisi aneka roti. "Kiranya apa bedanya kau dan Celine, jika kalian saling berpura-pura seperti ini." Ucap Brian yang masih sabar mengikuti Jason yang memilih roti untuk Celine dengan penuh hati-hati.
"Aku tidak berpura-pura Brian. Celine juga begitu, hanya saja ingatannya tidak bisa membantu." Jawab Jason yang berhenti di depan aneka cookies cokelat.
"Konyol sekali. Dulu dia seperti gadis gila yang melakukan semua hal untukmu. Sekarang lihat apa yang dia lakukan? Dia bahkan malas melihat wajahmu. Dan kau masih berpikir dia akan tetap menikahimu?"
"Dia masih memikirkannya. Mendesaknya akan membuatnya semakin jauh dariku."
"Lalu, kau pikir apa yang sedang kalian lakukan sekarang? Sibuk menyiapkan pernikahan padahal tidak tahu kapan menikahnya? Konyol." Brian berdecak sebal. Pasalnya dia tidak melihat kemajuan signifikan dari kedekatan Jason dan Celine. Tetapi, mereka berdua tetap melakukan persiapan pernikahan selayaknya sepasang kekasih yang sedang merancang mimpi bersama.
"Aku sadar, sejauh apa aku sudah menyakiti Celine dan membuatnya mengalami hal buruk itu. Tapi, kejadian itu juga membuatku menyadari jika dalam hidup ini hanya Celine yang kuinginkan. Terlepas aku harus membuang harga diriku."
Brian menatap Jason lurus, "Sebuah pengorbanan yang tidak perlu. Jika, semua ini tidak berakhir seperti seharusnya. Kau akan menjadi yang paling tersakiti."
"Tidak akan. Aku yakin Celine tidak akan mengecewakanku." Jawab Jason penuh keyakinan. Bahkan disaat dia tahu fakta yang terjadi saat ini adalah sebaliknya.
Jason tahu bagaimana gadis itu berusaha keras untuk bisa menemui Mike akhir-akhir ini. Dokter itu juga bersikap mengejutkan dengan mengabaikan Celine. Membuat Celine harus repot kesana-kemari hanya untuk mengetahui kabarnya.
"Kita harus segera pergi, sebaikmya jangan membuat para wanita itu menunggu lebih lama." Ajak Brian yang melenggang lebih dulu.
Hari ini Jason memiliki janji dengan ibu dan bibi Celine. Untuk melakukan pengepasan gaun dan melihat venue pemberkatan. Hanya dengan membayangkannya saja Jason sudah merasa senang. Entah apa yang akan dipikiran Celine. Apakah gadis itu sama sepertinya? Atau mungkin sebaliknya?
-
-
-
-
-
Jangankan Jason, Zari juga bertanya-tanya apa yang sedang dipikirkan Celine saat ini. Melihat puluhan gaun pernikahan yang indah dan mahal menggantung di sepanjang dinding butik ini dalam diam. Tak ada raut sebal atau amarah. Namun, ekspresi Celine saat ini juga tidak bisa dikatakan bahagia.
"Rasanya sangat berbeda sekali. Entah kenapa bibi sangat merasa emosional saat melihat gaun-gaun ini. Rasanya lebih berat daripada saat mengantar Olivia dulu." Ucap Laurel yang berdiri di dekat Celine.
"Bukannya sudah jelas." Celine menyentuh satu gaun di depannya pelan. Seolah, sentuhannya bisa merusak keindahan gaun di depannya. "Bersama Olivia bibi merasa senang karena akan menyambut anggota keluarga baru. Tapi, bersamaku bibi merasa sedih karena harus membuatku pergi menikahi orang yang tak seharusnya."
KAMU SEDANG MEMBACA
broken PRINCESS
RomanceCeline James memiliki segalanya selain satu hal... Kebahagiaan. Sosok putri kerajaan terlihat begitu indah dari luar, namun siapa sangka jika di dalam diri Celine tidak tersisa apapun selain... Kehampaan. Bagaikan porselen kaca yang berkilau, Celine...
