CELINE - 52

11 1 0
                                        

.

.

.

.

.

Redupnya cahaya matahari membuat pemandangan lampu di kota mulai terlihat jelas. Dengan hati-hati Jason membawa mobil dari jalanan yang padat kendaraan hingga lenggang. Tak ada sepatah katapun yang berusaha diucapkannya untuk memecah keheningan. Karena dia tidak ingin Celine bertindak gegabah sebelum rencananya hari ini berhasil.

Di sisi lain, meski tak begitu hapal jalanan sebab jarang berkendara jauh sendiri. Celine tahu jika Jason membawanya jauh meninggalkan kota saat mulai memasuki tol. Kedua matanya menatap setiap papan jalan yang terlewati sembari menerka kemana kiranya perjalanan ini akan berakhir. Sesekali Celine akan melihat ke arah spion mobil untuk memastikan jika Artyo tidak kehilangan jejaknya.

Awan sudah benar-benar berganti hitam saat Jason menghentikan mobilnya di sebuah Villa pinggir pantai. Deretan lampu berwarna kuning memberi kesan hangat, sudah berjejer di sepanjang jalan setapak tepat Celine turun dari mobilnya.

Jason masih tidak berucap satu katapun saat membawa Celine untuk menyusuri jalan yang sudah dihias itu. Meski nampak sangsi dengan apa yang akan dilakukan pria di depannya, Celine memberi isyarat pada Artyo untuk tidak mengikutinya lebih jauh. Lagipula, Celine ingin Artyo siap di mobil sewaktu-waktu Celine ingin segera pergi dari sini.

Suara debur ombak mulai menyapa telinga Celine. Hawa sejuk yang tidak menggigil menyapa kulit putihnya lembut. Semakin jauh Celine berjalan, semakin jelas pula hal apa yang telah disiapkan Jason di pinggir pantai. Meski begitu otaknya masih tak terpikirkan satupun skenario yang mungkin dilakukan Jason sekarang.

Jason berdiri di tengah lingkaran bunga yang memberika aroma harum semerbak, bunga kesukaan Celine. Di sekelilingnya terdapat hiasan sederhana namun elegan yang membuat Celine menatap lebih lama.

"Pertama kali kita pergi bersama, kau membawaku ke tempat dimana banyak lampu seperti ini berada. Malam itu setelah sekian lama, aku kembali jatuh hati padamu Cloe." Tutur Jason yang menarik perhatian Celine.

"Sebenarnya aku ingin menyiapkan ini di pulau pribadi seperti saat pertama kali kita berpacaran. Namun, itu terlalu jauh dan lama. Aku tidak bisa menahan selama itu untuk mengatakannya."

"Aku harap apapun yang akan kau katakan sepadan dengan waktuku yang terbuang untuk perjalanan jauh ini." Tukas Celine tegas.

"Celine... sebelum itu, aku ingin meminta maaf atas semua yang telah kulakukan padamu akhir-akhir ini. Aku pasti sudah kehilangan akal karena bersikap seperti berengsek padamu. Mengabaikanmu, mencurigaimu, bahkan memaksamu melawan traumamu."

"Tapi, Celine setelah semua itu aku tersadar. Jika aku tidak bisa hidup tanpamu itu nyata dan aku sangat tersiksa saat kau mengabaikanku." Jason memangkas satu langkah dari Celine. "Aku tahu kata-kata tak lagi bisa meyakinkanmu, maka aku akan buktikan kesungguhanku dengan nyata."

Jason merogoh salah satu kantung di celanannya dan mengeluarkan sebuah kotak beludru berwarna merah. Saat terbuka, di dalamnya terdapat sebuah cincin dengan sebuah hiasan permata. Bukan cincin besar, namun menampilkan keindahan dan keanggunan mirip seperti Celine.

"Menikahlah denganku Celine. Aku mencintaimu." Ucap Jason dalam satu tarikan napas yang membuat jantung Celine serasa berhenti sesaat.

Celine menatap cincin indah itu lamat, antara kagum akan keindahannya dan merasa jika dia baru saja melihat rantai baru di kehidupannya. Saat kesadarannya kembali Celine mundur satu langkah dan menatap Jason lekat.

broken PRINCESSTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang