54. Head Over Heels

500 21 10
                                        

Erys meregangkan tubuhnya yang kaku setelah seharian bergelut dengan laporan praktikum dan ujian. Memang jika ingin sukses harus berdarah-darah dahulu.

Dia juga sudah menguap beberapa kali karena mengantuk sejak semalam tugasnya sangat bejibun banyaknya. Erys sampai melupakan Eros yang hari ini juga sama sibuknya. Dirinya menghilang setelah mengucapkan selamat pagi sampai hari menjelang sore ini.

Maka dengan bermalas-malasan, Erys memberesi kekacauan yang dia buat dan berjalan menuju ke bawah untuk makan. Tetapi dia dikejutkan dengan Eros yang yang sudah duduk di meja makan rumahnya, masih dengan jas kerja.

"Loh?" Erys melirik jam dindingnya, "jam segini udah pulang?"

Eros berdiri lalu memeluk Erys sekilas, hal yang selalu dia lakukan saat bertemu kembali dengan Erys. Tidak lupa menanamkan kecupan singkat di rambut Erys. "Kamu kalau sibuk lupa segalanya. Kakak bawakan lasagna, katanya kemarin pengin makan yang di Blok M." Erys menarik lembut Erys untuk duduk di kursi makan.

Melihat lasagna yang sangat menggoda, Erys berbinar. "Wah, yang aku tunjukkin ke kakak kemarin kan?" Katanya dengan semangat.

Eros tersenyum. "Makan."

Erys tidak menyia-nyiakan makanan, jadi dengan cepat dia mulai makan. Tidak lupa sesekali menyuapi Eros yang hanya menatapinya. Mereka makan dengan sendok yang sama. Minum dengan sedotan yang sama. Sudah terbiasa seperti itu dan sepertinya kalau tidak begitu, Eros tidak merasa puas.

"Oh iya, Kak Eros habis ini balik ke kantor?"

"Kamu maunya kakak balik atau disini aja?" Eros balik bertanya, alisnya naik satu dengan bibir sedikit terangkat. Tersenyum tipis.

"Ih, sekarang nakal banget." Erys mencubit pinggang Eros, membuat Eros tertawa pelan. "Aku tanya serius."

"Disini aja boleh?" Eros sudah mengebut semua pertemuan dan kepentingannya tadi. Dia sudah rindu berat dengan Erys yang nakal ini. Setiap sibuk selalu melupakan dirinya padahal Eros sudah sangat merindukan Erys.

"Ganti baju dulu sana ke rumah. Sudah balik rumah?" Erys hanya melirik Eros singkat untuk melihat jawabannya.

Eros menggelengkan kepalanya lalu menjawab, "belum." Dia sekarang selalu menjawab dengan kata-kata, bukan hanya anggukan atau gelengan belaka.

Erys melotot, "emang Kak Eros mau jadi anak kurang ajar? Bukannya nyamperin mamanya duluan padahal sebelahan." Erys mengomel panjang kali lebar.

"Sudah kangen kamu." Jawab Eros dengan manja. Tangannya kini tidak diam saja, mengelusi pipi Erys dengan lembut sesekali mendaratkan ciuman di sana. "Enak banget."

Erys melotot lagi tapi pipinya memerah sampai ke telinga. "Kakak kira aku donat?"

Besoknya, Eros kembali datang dengan donat. Berbagai macam rasa; tiramisu, red velvet, cokelat, dan banyak lagi. Apa saja makanan yang keluar dari mulut Erys, besoknya akan ada yang Eros bawakan.

Sekali waktu, pernah di malam hari Erys tiba-tiba ingin makan bakso tetapi terlalu mager untuk keluar atau order online. Erys hanya mengajak Eros membeli bakso keesokan harinya tetapi bakso itu datang tiga puluh menit kemudian bersama Eros yang menentengnya.

"Kok Kak Eros selalu tahu aku pengin apa?"

Erys yang sedang makan bakso bertanya, mereka sekarang duduk lesehan di ruang belakang. Orang tua Erys juga dibelikan, tapi memberikan mereka berdua waktu.

Eros yang menyandarkan kepalanya di lengan Erys hanya terkekeh. "The power of love?" Jawabnya dengan main-main.

"Dasar gombal." Erys menjawab dengan main-main pula.

Fall ApartCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang