58

23 1 0
                                        

Wajah Leonar memucat, keningnya mengernyit seolah ia menghadapi sesuatu dalam tidurnya, selang infus dengan obat khusus menjuntai disisi tempat tidur sementara jarum menusuk lengannya.

Dokter Lee berdiri disamping pembaringan memeriksa denyut nadi dan tanda vitalnya, Laki-laki separuh baya tersebut memandang Marco yang berdiri tak jauh darinya sementara Grifson duduk bersandar disofa.

"Kapan ia bisa sadar?" Tanya Marco khawatir karena sudah lima hari Leonar masih saja belum bangun.

"Obat yang dikirim orang tersebut bukan hanya mengandung Halusinogen tapi juga ada racun mematikan, mungkin Mr. Leo sudah memperhitungkan hal ini, juga sebuah keberuntungan Mr. Leo mempunyai keahlian dalam meracik obat jadi saya hanya menambahkan beberapa komposisinya dan mengatur dosisnya, sekarang hanya menunggu waktu saja Mr. Leo bisa sadar kembali" Jelas Dr. Lee.

Marco mendesah panjang, ia menatap Dr. Lee agak cemas, Laki-laki di depannya ini terkenal dengan keahliannya mengendalikan obat apapun, lantas dia bisa mengatakan hal tersebut pasti sudah sangat mengenal Leonar.

Dr. Lee menggaruk keningnya, ia sedikit tersenyum, Grifson menghubunginya saat dia berada dekat dengan Lokasi Vila milik Leonar jadi setidaknya tidak membutuhkan waktu lama untuk mengambil tindakan. Mengambil sample darah Leonar sebentar mengujinya dan menemukan obat-obatan yang disimpan oleh Leonar dalam rumah kecil itu.

"Dr. Lee sungguh sangat mengenal Mr. Leo" Ucap Marco menyadari senyum sekilas yang tersembul dari bibir paruh baya tersebut.

"Tidak ada kejang dalam lima hari ini, dia melewatkan masa kritisnya" Dr. Lee duduk di sebelah Grifson, ia sudah berjaga untuk merawat tiga orang ini bergantian, merasa sedikit lelah ia menyenderkan punggungnya.

"Kamu sudah membaik Grifson?" Tanya Dr. Lee

"Sudah lebih baik, kalau nona Neira tidak mengambil inisiatif mana mungkin saya masih tetap hidup"

Marco hanya mendengar percakapan mereka, ia sangat ingin menemui Neira barang sebentar setelah Hota menceritakan kalau Neira mengalami retak tulang rusuk dan pingsan. Namun sampai hari ini ia bahkan belum menemui wanita kesayangan Leonar tersebut.

"Anda sepertinya sangat gelisah tuan Marco?"Grifsom menatap tajam Marco yang masih bergeming disisi pembaringan,

Marco menghela panjang, ia sebentar terdengar berdecak dan menghela lagi.

" Harusnya anda menelepon saja kalau tahu orang-orang itu dikirim untuk menghabisi kita lewat tangan Mr. Leo, setidaknya saya bisa membersihkan mereka segera"
"Anda menyalahkan saya?"
"Ah, setidaknya hal ini tidak akan terjadi dan menghambat Mr. Leo untuk menyelesaikan semuanya"

Dr. Lee hanya tersenyum mendengar perdebatan kedua orang ini. Ia sejenak memejamkan mata, namun terkejut karena tiba-tiba saja Leonar terbangun dan langsung memukul Marco jatuh di pembaringan lantas mencekiknya.

"Apa kamu sungguh ingin membunuhku?!" Ucap Leonar dengan nafas terengah.

Sontak Grifson dan Dr. Lee melompat lantas menarik dan memegangi tubuh Leonar.

"Apakah obat itu belum hilang efeknya?" Marco mengusap dada dan lehernya yang terasa sakit. Ia perlahan bangkit mendapati Leonar yang masih berusaha untuk menyerangnya meski dipegangi tubuhnya.

Reflek Marco menampar wajah Leonar, rasa hatinya sungguh diaduk cemas.
"Kalau sudah bangun setidaknya anda juga tersadar dari pengaruh obat itu!" teriaknya kesal tak peduli wajah Leonar sampai berpaling oleh pukulannya dan bekas merah di pipi nya.

Mengernyit, Leonar berdiri terhuyung sembari melepas pegangan Dr. Lee dan Grifson.
"Mengapa kau memukulku?" tanya Leonar dengan rasa tidak bersalah, ia menggosok pipi yang terasa sakit.

TOUCH MY HEARTTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang