57

118 3 0
                                        

"Bagaimana anda bisa terpikir untuk melakukannya?" Marco menatap sengit pada Neira sambil berusaha bangkit meski rasa tubuhnya babak belur, ia bahkan tidak bisa melawan Leonar meski berdua dengan Grifson, ia juga tidak mengira kalau Neira membekap Leonar dengan obat bius sehingga sekarang ia serta Grifson dapat bernafas lega meski hanya sejenak.

"Hhah!... Anda baik-baik saja tuan Grifson?" Marco menghempas nafasnya beralih memandangi pria yang sekarang memuntahkan darah dari mulutnya, Grifson berusaha bangkit sambil memegangi dadanya namun hanya bisa duduk bersender dinding rumah, kemudian mengerang putus asa.

Marco perlahan menghampiri Neira, wanita ini duduk disebelah tubuh Leonar yang kini tergeletak tidak sadarkan diri.

"Anda tidak apa? " Marco berusaha memastikan keadaan Neira, menyadari wajah wanita tersebut begitu pucat.

Neira meringis mendengar pertanyaan Marco, merasa begitu sakit di tulang rusuknya akibat pukulan Leonar yang sempat terarah padanya.
"Kenapa? Kenapa kalian berdua membahayakan diri dengan orang yang seperti dia, apa kalian tidak sayang nyawa sendiri?" Runtuk Neira menyembunyikan rasa sakitnya.

"Akan berbahaya jika Mr. Leonar tidak sadarkan diri! " Grifson sedikit berteriak dari sana, berusaha bangkit lagi tapi masih tidak kuasa dan memilih untuk memposisikan diri seperti semula.

Seolah laki-laki itu mengatakan kalau tidak ada cara selain menghadapi Leonar dengan berhadapan langsung dengannya.

Sudut bibir Neira sedikit berkedut, ada rasa khawatir menyergapnya, bukankah yang dilihatnya tadi Leonar seperti hilang kendali dan tidak mengenali mereka, sejenak ia memandangi wajah suaminya yang agak pucat terlelap

"Anda menghawatikan itu sementara ia bisa mengakhiri hidup anda disini? Hah, pikiran anda sungguh hilang kemana! " Neira mengusap kepalanya yang berdenyut dan bertambah sakit, entah kenapa ia berpikir dua orang ini begitu bodoh mempertaruhkan nyawa mereka dengan pilihan menghadapi Leonar secara langsung.

"Lebih baik dia tidur begini, daripada membunuh kalian!" Neira mencoba menghibur diri sendiri bahwa ini akan baik- baik saja dengan kata-kata yang dilontarkannya.

Marco berjongkok meraih tangan leonar, memeriksa denyut nadinya, sejenak ia akhirnya menatap Grifson,
"Bisakah anda berdiri? Keadannya tidak begitu baik!" ucap Marco sedikit cemas.

Mendengar suara Marco, Grifson segera meraih ponselnya dan menghubungi seseorang tanpa mengubah posisinya, menyuruhnya bergegas datang. Sementara Neira perlahan menyentuh kening Leonar memeriksa suhu tubuhnya, ia baru menyadari kalau ada luka yang tertutup plester disana.

"Apakah ini berhubungan dengan wanita itu?" Desis Neira masih bisa di dengar oleh Marco, tangannya gemetar menyentuh luka yang tertutup plester tersebut.

"Tidak ada hubungannya, anda tidak perlu khawatir kalau Mr. Leo mencintai wanita itu sehingga bertaruh nyawa deminya"

Tertegun, Neira mengerutkan bibir, Marco begitu cepat menangapi seolah hal tersebut yang ia khawatirkan, padahal sejauh ini Neira menganggap Leonar bukan pria biasa, dia hanya menginginkan penjelasan yang masuk di akal sehatnya, ia tidak ingin terus bertanya-tanya tanpa ada jawaban pasti seperti pertanyaan tentang siapa ayahnya dan hal apa yang dikerjakannya, hingga ia bahkan belum menemukan kejelasan dari hal tersebut, sampai ia kehilangan sang ayah ia tetap tidak mendapat jawaban apapun tentang pertanyaannya. Neira juga tidak bisa terus penasaran tentang siapa sebenarnya sosok Leonar, sehingga ia bisa lebih mempercayai Leonar dan terus berada disisinya.

Sekitar sembilan orang bergegas memasuki rumah termasuk Hota, dua orang membantu Grifson dan membawanya pergi, sementara yang lainnya membawa Leonar dan Marco.

TOUCH MY HEARTTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang