59

33 1 0
                                        

Dengan tenang Neira duduk di bangku mobil belakang, menaruh genggaman tangan yang tidak begitu erat dipangkuan, sementara Frentina begitu gelisah duduk di sampingnya hingga mereka berganti mobil di persimpangan jalan.

Frentina masih tetap terlihat gelisah, ia beberapa kali membolak balikkan ponsel ditangan dan beberapa kali juga mengetik pesan dan mengirimkannya, tidak ada pertanyaan apapun yang di dengarnya dari mulut Neira yang terlihat memejamkan mata di sampingnya.

Neira awalnya menolak saat Frentina tadi memasuki kamar dan meraih tangannya hampir menyeret tubuhnya untuk membawanya keluar vila, tapi ia akhirnya menuruti keinginan wanita itu kalau ada seseorang yang ingin bertemu.

Sampai di resto kecil tidak jauh dari bandara mobil mereka berhenti, tanpa berkata Neira menyeret langkah mengikuti Frentina karena dua orang bertubuh besar yang membawa mereka tadi memberi arahan untuk memasuki resto tersebut.

Sampai didalam Frentina menendang kursi di sisi seorang laki-laki yang sedang meneguk kopi menunggunya di pojok ruangan. Neira mengenalnya tapi ia tetap diam.

"Cepat sekali kamu datang Frentina" ucap laki-laki tersebut tanpa expresi.

Frentina mendengus, ia merapikan rambutnya sebelum memutuskan untuk duduk
" Berkat siapa kalau aku sampai begitu cepat, Andreas! " cibir frentina sembari melirik Neira yang duduk perlahan agak jauh dari mereka.
" Orang-orangmu begitu kompeten dalam menjalankan tugas nya... Ah! Seharusnya kamu menungguku pulang dan membicarakannya di rumah" sambung Frentina sembari menyilangkan kakinya.

Andreas menyorongkan secangkir kopi yang sudah dipesannya ke hadapan Frentina dengan jarinya, ia menatap lekat wanita yang berwajah sunguh cantik luar biasa itu, tapi hatinya sudah dipenuhi rasa kecewa dan tidak percaya,
"Aku tidak mau menunggu untuk segera lepas darimu" suara Andreas terdengar seperti sembilu yang dengan kejam menggoreskan luka tak nyata.

Frentina membalas tatapan Andreas setengah tidak percaya, apakah benar Andreas tidak mengharapkannya.
"Kamu sangat terburu-buru tuan Andreas...apa alasannya masih sama?"
Frentina meraih cangkir di depannya lantas meneguk nya perlahan, pahit rasa mengalir melewati kerongkongannya melebihi rasa kopi tanpa gula yang paling ia sukai.

" Kita tidak saling suka, dari awal sudah begitu bukan?"

" hanya itukah alasanmu? Haah! ... Bukannya karena wanita itu? "Frentina tersenyum sinis, ujung matanya melirik kearah Neira yang sedang meneguk teh yang dipesannya barusan.

Neira terdiam mematung untuk beberapa detik dengan cangkir yang ada di ujung bibirnya, apa yang sedang didengarnya saat ini, bukankah seharusnya ia tidak berada disini, namun nasi sudah menjadi bubur, ia hanya akan diam sambil menikmati teh yang sungguh enak, tentu karena harganya sangat mahal untuk secangkir teh yang dia sanggup untuk membuatnya sendiri kalau ada bahannya.

" Kamu tahu apa yang kamu bicarakan Frentina? Kamu sendiri tidak pernah ada di rumah. Untuk apa lagi kita terus bersama, bukankah perjodohan sial itu juga membelenggumu?" Andreas menatap lekat Frentina yang bak boneka porselen yang tidak bergerak.

"Jadi jangan suka mengkambing hitamkan seseorang"

Terdengar Frentina menarik nafas panjang lantas menghempaskan nya, ia menggerakkan sedikit kepalanya dalam hati menertawakan dirinya bahwa untuk waktu yang tidak lama ia sudah di buang dan ditolak oleh dua laki-laki yang sungguh diharapkannya.

Bisakah dia bicara dengan Andreas saat laki-laki tersebut kekeh dalam pendiriannya untuk berpisah. Berpikir untuk kembali ke jalan yang benar seperti kata Leonar dan membangun keluarga yang utuh, bisakah dia melepas segala yang dimiliki dan yang dia lakukan saat ini.

Menikah dengan Andreas adalah jalan terakhir untuk bisa memenangkan kepercayaan sang bos dengan menguasai segala hal milik keluarga pratama, ia bahkan menginginkan lebih dari sekedar itu dari seorang laki-laki yang di panggilnya sang bos tersebut, namun tidak menyangka ia tetap akan tersisih dan tidak dianggap.

Rasa harap muncul saat Frentina melihat keseharian Andreas, ia diam-diam mengaguminya.

Tapi rasa kecewa itu mulai merayap menggerogoti hati yang sudah menaruh harapan terakhir pada Andreas kalau pria ini bisa mentolelir segala hal yang sudah dilakukan Frentina, menerimanya dengan lapang sekaligus meraih dan membimbingnya untuk kembali. Wanita ini kemudian tersenyum miris  benar-benar menertawakan dirinya sendiri, menghempas angan yang sudah jadi buih.

"Kamu seperti cenayang saja Tuan Andreas, bisa tahu segala hal tentangku. Tapi bukankah kamu tidak pernah memikirkanku? Yang ada cuma dia, dan hanya dia bukan?" Frentina memandangi mulut cangkir di depannya, entah ia tiba-tiba tidak bisa menguasai perasaannya.

Andreas langsung berdiri mendengarnya, memasukkan kedua tangan pada saku celana, ia memandangi Frentina yang menatap kosong pada meja, dan akhirnya menghela.

" Anggap saja kamu bukan wanita terbaik untukku Frentina, semua dokumen sudah siap diajukan ke pengadilan kalau kau tetap tidak mau berpisah" Andreas sempat mengetuk ngetuk meja setelah berkata demikian.

@@@@@

Ulu hati Neira teremas begitu sakit, kenapa juga ia harus mendengar dialog antara Frentina dan Andreas, seperti melihat adegan drama yang paling ia tidak suka, tak sadar kalau ia memegang cangkir begitu kuat sampai memecahkan benda tersebut. Apakah Frentina sengaja menyeretnya serta adalah untuk ini, supaya ia mendengar apa yang mereka bicarakan.

"Jika aku tidak ingin berpisah?"

"Jika kamu memilih berpisah secara baik, dokumen-dokumen itu tidak akan kuserahkan ke pengadilan" masih terdengar suara Andreas disana

Neira segera bangun dari duduknya, namun keseimbangannya goyah oleh serangan sakit kepala yang tiba-tiba, tubuhnya ambruk, tapi seseorang menangkapnya tidak membiarkan jatuh ke lantai yang keras.

"Neira! " Suara itu milik Andeas, memaksa Neira untuk membuka mata dan segera melepas lengan laki-laki ini yang merengkuh tubuhnya, Enggan berurusan panjang dengannya.

"Kamu tidak apa-apa? " tanya Andreas saat Neira mencoba melepaskan diri darinya, ia menggenggam kedua pergelangan tangan Neira sadar kalau tangan kanan wanita ini berlumuran darah.

Neira mundur beberapa langkah, menjaga jarak dari laki-laki ini. Ia tidak ingin  berada di situasi yang tak pernah di inginkan nya, berada ditengah Andreas dan Frentina sungguh membuatnya serba salah, entah itu karena ia mendengar bahwa perseteruan mereka disebabkan oleh dirinya walau ia hanya salah satu alasan di antara sekian banyak alasan atau hal yang sudah selesai ternyata masih saja belum selasai.

"Tidak.. Tolong lepaskan! " lirih suara Neira tapi masih bisa di dengar Andreas. Alis pria terangkat demi mendengarnya, perlahan Andreas-pun melepasnya namun ia mengeratkan kembali pegangannya.

"Tidak bisa, kamu terluka" ucap Andreas menolak.

Sejenak Neira memejamkan mata, ia tidak ingin disalahpahami dan berada begitu lama dalam situasi ini, pikirannya berontak, namun tubuhnya seolah terpaku tak bisa bergerak.

"Kita harus segera mengobatinya, ayo ikutlah dengan ku!" Andreas berusaha membujuk, ia meraih pundak Neira ingin membawanya pergi tak peduli Frentina yang berdiri dari kursinya menyadari apa yang dilakukan Andreas saat ini.

"Tidak, lepaskan aku" Neira masih berusaha menolak namun Andreas tetap saja membawanya.

"Anda ingin membawa wanita yang sudah bersuami itu kemana, Tuan Andreas yogi Pratama?" Seorang laki-laki yang sedang bersandar di sebuah kursi pengunjung dekat pintu keluar resto mematikan rokoknya di atas asbak porselen yang bertengger begitu cantik diatas meja.

Laki-laki tersebut bangkit untuk menghalangi langkah Andreas
" Istri sendiri secantik itu kamu tinggalkan untuk pergi membawa istri orang lain??Apakah itu pantas!? "

TBC...........

@@@@@@@

HAPPY NEW YEAR 2026
---------------------------------
05 of January 2026

Kenapa hanya bayangmu yang berdiri disana tanpa suara.
Kenapa hanya tatapanmu yang selalu menghujam tanpa ada kata.
Disela langit yang memerah.
Di sudut jingga yang berubah warna.
Menjadikan gelap gulita terganti surya.
Menjadikan hati ini masih berharap masa.






Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jan 05 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

TOUCH MY HEARTTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang