#64

92 6 2
                                        


HALO GUYS, KALIAN SEHAT KAN?

SEHATLAH, JANGAN SAKIT-SAKIT


SISA SEDIKIT LAGI ENDING YA TEMAN-TEMAN

YANG MASIH SETIA BACA SAMPAI BAB INI DAN TETEP NGEVOTE, AKU BERTERIMA KASIIIIIH BANYAK-BANYAK SAMA KALIAN. LOPE YOUUUUUU SEKEBON!


MAKIN SEDIKIT YANG BACA, MAKIN GREGET AKU UNTUK CEPET-CEPET NAMATIN CERITA INI. KEZEL AJA GITU LIHAT ANGKA READER APALAGI YANG NGEVOTE BISA DIHITUNG PAKE JARI, 5O PEMBACA BEEUUHH RASANYA MUSTAHIL UNTUK SEKARANG WKWKWK



YUKLAH LANJUT, DARIPADA NGEBACOT MULU TAPI NGGAK DIMENGERTI PARA READERNYA. TETEP JANGAN LUPA VOTE DAN COMMENT!




Ruang seluas 10x14m2 terasa tak begitu senyap dengan televisi yang menyala, tapi jika benda berukuran empat puluh tiga inci itu bernyawa, benda itu akan amat kesal dengan manusia yang berada di hadapannya. Laras Gartiana, ia sengaja menyalakan televisi sejak satu jam yang lalu, tapi dipandangi dengan tatapan kosong dan bahkan tanpa sadar gadis kelahiran Jakarta ini beberapa kali mengerutkan kening.

Ini semua karena cerita dari sahabat tercintanya di telepon kemarin malam. Tiba-tiba bertunangan dan bahkan telah memutuskan hari dimana gadis berwajah tampan itu melepas masa lajangnya. Meskipun Laras telah mengambil keputusan sulit untuk bertunangan dengan Rasyid dan perlahan-lahan membuka hati, tapi keinginan yang salah itu tetap mencengkramnya.

Deru halus mobil dan suara gesekan antara tanah berpaving dengan ban mobil yang berhenti di depan rumah membangunkan Laras dari lamunan.

"Siapa ya? Apa tamunya Pak Gusdar?" Gumam Laras.

Suara dentuman halus pintu mobil yang ditutup membuat Laras menurunkan kedua kakinya yang berselonjor di atas sofa ke lantai lalu segera beranjak mendekat ke jendela.

"Oh iya-iya Noe pulang sekarang." Laras menepuk jidatnya dengan telapak tangannya.

Seharusnya Laras senang atas kembalinya sahabat tercintanya itu dari kampung halaman setelah lima hari meninggalkannya dalam kesendirian. Namun, kenyataannya ia melupakannya karena rasa di hatinya kini.

Gadis mungil berpipi chuby itu segera mematikan televisi lalu bergegas keluar dari ruang santai dan segera menuju beranda rumah. Ia membuka pintu pagar lalu menunggu dengan bersandar pada pagar yang terbuka sambil tersenyum melihat Noe yang sedang memeluk Anaya.

"Mama No harus sering-sering main ke rumah ya?"

"Kalau sering, nanti Anaya nggak belajar lagi? Apalagi Anaya kan sudah mau ujian? Iya nanti kalau Anaya ada waktu luang, mama juga ada waktu luang nanti kita bertemu, oke?"

"Oke Ma."

"Ya sudah yuk kita pulang. Biar Mama Noe istirahat dulu."

"Iya Yah."

"Dadaaaah."

Senyuman yang tadinya terukir di bibir Laras kini perlahan-lahan turun dan menghilang, tatapannya pun teralihkan ke arah lain yang penting tidak menatap calon keluarga yang hangat. Ia tahu semua akan terjadi sebagaimana mestinya, dirinya pun akan menikah dan hidup dengan keluarga kecilnya begitu pun dengan Noe. Namun, Laras tak bisa memungkiri rasa takut akan berpisahan dengan sahabat tercintanya yang telah tujuh tahun tinggal satu atap dengannya dan belum lagi adanya berubahan yang pasti terjadi antara ia dan Noe.

Salah Hati [Noe&Laras]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang