Part 3c: Lust or Love?

19.9K 2K 23
                                        

Teriakan seorang laki-laki dan ditimpali oleh jeritan seorang wanita yang terdengar hingga ke ruang back office yang merupakan ruangan tempat Dimitri bekerja. Dimitri mengalihkan perhatiannya dari kertas-kertas hasil print transaksi yang ia periksa ke arah suara itu. Di gedung itu mungkin hanya empat orang yang tersisa yang belum pulang, yaitu Pak Arif sang pimpinan cabang, Bu Sonya sang marketing supervisor, seorang security yang berjaga di lantai dasar dan dirinya sendiri yang baru beberapa bulan menduduki posisi supervisor operasional.

Dimitri menghela nafasnya, ia tidak ingin menguping semua pembicaraan yang sekarang menjadi pertengkaran, tetapi semua yang dikatakan dua orang itu terdengar sangat jelas. Semua yang dirahasiakan selama ini oleh mereka terkuak, Dimitri mengerti apa yang menjadi permasalahan yang terjadi.

Dan juga ia tahu, dirinya menjadi sumber utama pertengkaran mereka..

Tameng ketidakpedulian mulai dipasang Dimitri, sikap yang begitu ahli ia mainkan akhir-akhir ini karena keterpaksaan. Dimitri menggelengkan kepalanya, kemudian melanjutkan memverifikasi dokumen kembali.

DOR!!

Tiba-tiba suara tembakan menggema, membuat Dimitri terlonjak dan jantungnya mencelos, karena ia bisa memastikan suara tembakan itu datang dari ruang pimpinan cabang. Dimitri gemetar, kertas yang ia pegang berjatuhan di lantai. Laki-laki itu segera berlari menuju ruangan Pak Arif dengan jantungnya yang berdentam.. dan begitu sampai di sana, pemandangan yang ia lihat membuat ia terpana.

Di lantai, Arif Grahito Raffardhan, pimpinannya dan laki-laki yang pernah sangat ia hormati, terbaring di lantai dengan pistol yang masih berada di tangan kanannya dan pelipis kanan yang hancur akibat timah panas yang bersarang di otaknya. Tubuh pimpinannya masih bergetar tanda kehidupan yang akan segera tercabut, sementara Sonya hanya berdiri menatapnya hampa dengan wajah pucat. Dimitri segera bersimpuh di lantai, di samping tubuh Arif, ia mencoba memberi pertolongan pertama walaupun ia tahu itu sia-sia. Tangan Dimitri menopang kepala pimpinannya dan hangat aliran darah memenuhi telapak tangannya. Arif yang berada diujung kehidupannya menyadari kehadiran Dimitri di sampingnya, walau ia mulai kehilangan kesadarannya, ia menggenggam tangan dimitri erat, seolah ada pesan terakhir yang ia sampaikan. Tetapi kepala Arif terkulai dan Dimitri menahan nafasnya, satu jiwa telah pergi dan Dimitri tak pernah menyangka dengan cara seperti ini.

Kemudian Dimitri menyadari ada sesuatu dalam telapak tangannya, Arif memberikan sesuatu ketika di akhir detik-detik kehidupannya. Laki-laki itu membuka telapak tangannya, sebuah foto kecil yang kusut dan kotor terkena darah ada di sana. Dimitri tertegun, foto wajah yang ia kenal sebagai putri tunggal Arif yang biasanya berada di dalam pigura foto di atas meja kerja pimpinannya berada di dalam genggamannya.

Lalu ruangan itu memudar...

Dimitri terbangun dari tidurnya, tubuhnya penuh dengan keringat dingin. Ia menatap sekeliling dan bersyukur ternyata semuanya hanya mimpi.

Setelah sekian lama, mengapa baru sekarang mimpi buruk itu hadir dalam tidurnya kembali. Mimpi itu terasa begitu nyata, ia hampir bisa merasakan rasa lengket darah di jemariinya.

Apakah ini peringatan atas pikirannya yang kotor terhadap Reefa?

Apakah ini sebuah pertanda?

Dimitri memejamkan matanya, menggeleng dan baru menyadari ia gemetar hebat. Laki-laki itu segera mandi untuk menjernihkan pikirannya walaupun waktu menunjukkan pukul dua dini hari.

***

Tindakan Dimitri yang meminta meja Reefa agar dipindahkan ke dalam ruangan kerja pribadinya mengundang gosip kembali. Reefa berusaha mengabaikan bisikan sinis para sekretaris direksi dan juga tatapan sedikit melecehkan dari para kaum laki-laki di tempat kerjanya.

A Perfect LieTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang