Kalau kamu sudah selesai dengannya, maukah kamu mempertimbangkan untuk menjalin hubungan denganku?
Kata-kata Dimitri terus terngiang dan bermain di benak Reefa. Sebenarnya, ini suatu kesempatan agar ia bisa lebih dekat dengan Dimitri. Seharusnya Reefa mengambil peluang itu tetapi ia masih memikirkan Adithya, kekasihnya. Bagaimanapun hubungannya dengan laki-laki yang umurnya hanya terpaut dua tahun darinya masih berlangsung walaupun sekarang Adith seolah menggantungnya. Dan ia tahu Dimitri adalah seorang womanizer, mungkin laki-laki itu hanya penasaran dengannya dan ingin menambah pengalaman menjalin hubungan dengan gadis lusuh seperti dirinya. Reefa paham benar, dirinya tak seujung kuku Ariadna ataupun Carol, para model yang pernah menjalin hubungan dengan Dimitri.
Tapi Reefa tetap akan mengambil celah dari kesempatan yang diberikan Dimitri, ia akan memanfaatkan rasa suka laki-laki itu padanya.
Reefa berbalik, ia tidak bisa tidur. Matanya menatap ke seluruh dinding kamar yang dipenuhi potongan koran mengenai kematian ayahnya, berita tentang bank tempat ayahnya dan dirinya bekerja, dan juga semua hal tentang Dimitri. Reefa mengumpulkan semua itu semenjak ia bertekad untuk membalas dendam pada sang paman bermata abu-abu, Dimitri. Kesemua potongaan koran itu ia tempelkan di dinding kamarnya, agar ia tidak pernah melupakan rasa dendam dan sakit ini.
***
Esok paginya Reefa memasang wajah profesional, seolah kejadian di dalam mobil bersama Dimitri tidak pernah terjadi. Sikap gadis itu membuat Dimitri bingung, baru kali ini ia menghadapi seorang wanita yang sangat tidak perduli ataupun terpengaruh dengan rayuannya. Dimitri hanya tahu kalau Reefa tidak nyaman apabila hanya berdua dengannya dalam satu ruangan tertutup.
Gosip tentang kedekatan mereka makin merebak, karena hampir separuh orang yang bekerja di gedung ini melihat peristiwa pemaksaan yang dilakukan Dimitri terhadap Reefa. Dan pandangan sengit makin sering diterima Reefa dari barisan sekretaris Dimitri, para fans Direktur Operasional itu semakin jelas memusuhinya.
Reefa dengan sikap tidak peduli dan masa bodohnya menghadapi semua itu tanpa ambil pusing. Tak punya teman pun tak apa karena tujuannya bekerja di institusi perbankan ini hanya untuk membalaskan dendam dan membuat perhitungan dengan Dimitri, membuat lelaki itu membayar semua apa yang telah ia lakukan pada dirinya dan keluarganya.
***
Dimitri memasuki ruang kerjanya dan melihat Reefa telah sibuk bekerja, beberapa hari setelah penawarannya pada sang asisten pribadi, gadis itu bersikap netral dan sedikit lebih ramah terhadapnya. Reefa lebih sering mengajaknya mengobrol daripada sebelumnya. Tapi Dimitri masih tidak bisa menebak apa yang ada di dalam pikiran Reefa tentang permintaannya.
Dimitri melewati meja kerja Reefa dan gadis itu mendongak, tersenyum dan mengucapkan selamat pagi padanya. Dimitri membalasnya dengan anggukan dan senyum yang sama profesionalnya.
Setelah duduk di kursi kerjanya, Dimitri bersantai sejenak sebelum memulai aktifitas kerja. Mata Dimitri memandang Reefa, ia suka memandang gadis itu yang terlihat sangat serius bekerja. Laki-laki itu memandang rambut Reefa yang digelung tinggi karena mulai panjang dan matanya terpaku pada tengkuk gadis itu, Dimitri menjilat bibirnya... ia membayangkan bagaimana rasa kulit yang halus itu di lidahnya.
"Pak Dimitri?"
Sapaan Reefa yang pelan membuatnya terkejut. Laki-laki sedikit gelagapan dan mengerjapkan matanya.
"Ya?"
Reefa melangkah menuju pintu ruangan, ia menutup pintu yang memang dibiarkan Dimitri terbuka seperti biasanya.
"Saya rasa lebih baik pintu ruangan ini tetap tertutup. "
Dimitri menaikkan alis matanya mendengar penyataan Reefa, ia tahu benar gadis itu tidak suka berduaan dengannya. Dimitri berdiri dan berjalan mendekati tempat Reefa berdiri. Tapi Dimitri tahu, ia menjaga jarak dengan Reefa karena tubuhnya masih terasa panas akibat khayalannya. Berada terlalu dekat dengan Reefa akan menimbulkan masalah.
Laki-laki itu berdiri, menunduk dan menatap Reefa tajam... bibirnya tersenyum geli. Ia melihat Reefa sedikit gentar karena ia mendatanginya.
"Mengapa?"
"Saya tidak ingin terlihat memanjakan ego saya. Bagaimanapun Pak Dimitri adalah Direktur yang mempunyai privasi dan saya adalah staf seharusnya mendahulukan kepentingan Anda." Reefa tersenyum manis kembali, senyum andalannya apabila ia sudah terdesak. Ia langsung mundur ke belakang meja kerjanya, menjadikan meja itu sebagai pemisah antara dirinya dan Dimitri.
"Ah. I see." Dimitri kembali mengangguk dan tersenyum. Ia berjalan memutari meja dan berdiri di belakang kursi Reefa.
"'Mendahulukan kepentingan saya'.. Saya suka itu. Dan oleh karena kamu mendahulukan kepentingan saya, saya meminta jawaban dari kamu terkait apa yang saya minta beberapa hari yang lalu dalam perjalanan pulang kita yang sangat romantis. Bagaimana?" Dimitri menunduk dan berbisik di tengkuk Reefa, membuat Reefa bergidik kembali.
Dengan cekatan Reefa mendorong kursinya yang beroda dengan kakinya, menjauhi Dimitri. Ia tersenyum menatap Dimitri penuh percaya diri.
I will get you soon, Mr. Dimitri..
"Sebaiknya masalah pribadi diselesaikan di luar jam kerja Pak Dimitri." Reefa berdiri dan mengangguk, gadis itu membuka pintu dan menutupnya kembali, meninggalkan Dimitri yang masih terperangah dengan sikap Reefa.
Tawa terlontar dari bibir laki-laki itu. Ia tidak menyangka gadis lugu yang ia kenal mulai sedikit bermanuver, ia sangat paham bahasa tubuh Reefa yang menyiratkan ia tertarik dengan tawaran Dimitri.
Dimitri juga baru menyadari, meja kerja dan kursi kerja Reefa telah diubah posisinya. Meja gadis itu berhadapan dengannya dengan jarak yang lebih dekat dan artinya ia akan dapat menikmati wajah Reefa tanpa halangan.
Gadis yang sangat cerdas, cerdas dalam segi akademis dan juga berkelas dalam bersikap. Reefa tidak bersikap malu-malu kucing yang norak ataupun menempel secara agresif padanya.
Dimitri makin menyukai Reefa, ia menyukai semua yang ada pada gadis itu.
***
Jantung Reefa berdebar kencang, ia menghembuskan nafasnya dalam-dalam. Baru kali ini ia bertindak di luar batas-batas yang telah ia tetapkan. Tapi apa boleh buat, ia tahu Dimitri menyukai perempuan yang murahan ataupun sok alim. Ia memandangi wajahnya di kaca wastafel dan mengatur nafasnya kembali.
Rencananya untuk mendekati Dimitri telah dimulai, Reefa memindahkan posisi mejanya karena ia tahu Dimitri suka menatapnya diam-diam dari belakang. Pun juga tentang pintu ruangan yang selalu dibuka Dimitri, Reefa memutuskan lebih baik memang ia berdua dengan laki-laki itu dalam ruangan tertutup... paling tidak Dimitri merasa bebas membicarakan apa saja dengannya tanpa didengar oleh orang lain.
Reefa tahu ia akan bermain api dan ia mempersiapkan kemungkinan untuk terbakar hingga menjadi abu bersama laki-laki itu.
***
Hallo... bnr2 fast update dua hr ini dan maaf cm dikit2 hehehe.
Ttp meminta vote dan comment apabila berkenan y..
Thanks!
VLeeRhysMancini
KAMU SEDANG MEMBACA
A Perfect Lie
RomansOPEN PO 25 JUNI S/D 10 JULI 2019. BISA DILIHAT DI PART OPEN PO LEBIH JELASNYA. PROSES PENERBITAN! BEBERAPA PART AKHIR TELAH DIDELETE! Highest Rank #5 in Romance (20122017) Apa yang akan kamu lakukan, ketika orang yang menghancurkan keluargamu, membu...
