Part 22b: Officially Yours, Unconditionally Yours

7.3K 1.2K 135
                                        

Reefa menyapu tatapannya di padang gersang yang tak bertepi, tanah yang ia injak terlihat retak dan tandus. Tidak ada suara apapun di sana, sepi dan hampa.

Tiba-tiba Reefa merasa tangannya digenggam dan ia menoleh ke samping, Ayahnya berdiri di sana terlihat kurus, kumal dan kesepian. Laki-laki tua itu menatap ke depan, memandang kosong padang gersang di depan. Sesaat Reefa kehilangan kata-katanya,

"Ayah?" ucap Reefa gemetar, ia segera memeluk laki-laki yang sangat ia rindukan.

Ayahnya menoleh, tersenyum lembut pada Reefa. Bibirnya terllhat pucat dan kering, wajah Arif Grahito Raffardhan terlihat lelah dan tirus. Pelan-pelan, laki-laki itu melepaskan pelukan Reefa dan mengecup keningnya.

"Perjalanan Ayah masih panjang, Reefa. Berbahagialah bersama orang-orang yang mencintaimu. Kamu sudah menemukan belahan jiwamu," bisiknya pelan di telinga putri tercintanya.

"Jangan pergi."

Laki-laki itu berjalan lurus ke depan, seolah tidak mendengar isakan Reefa. Dan dalam satu kedipan mata kemudian, ayahnya telah menghilang...

Reefa terbangun, sinar matahari sore menembus masuk melalui tirai jendela kamar pengantin mereka. Ia menarik nafas, air mata masih menggenangi pelupuk matanya. Mimpi itu terasa sangat nyata, ia masih merasakan genggaman sang ayah di jemarinya.

Kemudian Reefa sadar, ia bangun di atas tubuh telanjang Dimitri, yang beberapa jam lalu resmi menjadi suaminya. Reefa tersenyum lembut, menatap Dimitri yang tertidur tertelungkup disampingnya. Lengan kokoh laki-laki itu memeluknya protektif, Reefa berusaha melepaskan tangan Dimitri yang melingkari pinggangnya.

"Honey...," Dimitri menggeliat, menyadari bahwa Reefa tidak berada di dalam pelukannya. Aroma manis tubuh Reefa bagaikan candu yang membuat Dimitri ingin terus menghidunya, merasakannya. Laki-laki itu bangun dan kembali mendorong Reefa ke tempat tidur.

"Hmm, mau ke mana?" Dimitri menatap Reefa dengan wajah mengantuk, lalu menyadari air mata yang membasahi pipi istrinya.

"Kenapa, Reefa? Apa aku tadi terlalu kasar dan menyakitimu?" tanya laki-laki itu. Kecemasan dan rasa malu terlihat dari sorot mata Dimitri, menyadari mungkin ia terlalu bernafsu pada saat pertama Reefa.

Reefa menggeleng, membelai rahang kokoh Dimitri. Reefa memang masih perawan sampai beberapa saat yang lalu dan ia tidak pernah mengalami saat-saat intim bersama laki-laki lain, tapi ia tahu bahwa Dimitri sangat memperlakukannya sangat lembut. Dengan sabar Dimitri membuatnya siap terlebih dahulu sebelum perlahan-lahan menyatukan tubuh mereka. Laki-laki itu terus mengucapkan kata-kata pemujaannya terhadap Reefa selama percintaan mereka yang terasa lembut dan kenikmatannya tak pernah berakhir bagi mereka berdua. Memang terasa pedih, tapi Reefa menahan semuanya untuk Dimitri karena ia mencintai laki-laki itu. Seusai percintaan mereka, jemari Dimitri mengusap punggung Reefa seolah ingin menenangkan Reefa hingga ia tertidur lelap dalam pelukan suaminya. Dari semua yang dilakukan Dimitri sepanjang siang itu, Reefa tahu ia memang dicintai tanpa syarat oleh laki-laki itu.

"Aku bermimpi tentang Ayah," ucap Reefa pelan dan membuat Dimitri menarik napasnya dalam-dalam. Ia merengkuh kembali Reefa dalam pelukannya, sedikit gentar dengan apa yang akan dikatakan Reefa .

Reefa menyadari sikap tubuh Dimitri yang gamang.

"Tidak apa-apa, Dimka. Mimpinya tidak buruk dan aku sangat menyukainya. Sudah lama aku tidak bermimpi tentang beliau. Ayah sepertinya merestui kita, ia menyebutmu sebagai belahan jiwaku." Reefa menyandarkan keningnya di dada Dimitri, merasakan kekuatan dan dan perlindungan di tubuh laki-laki itu.

Dimitri memejamkan matanya, mengembuskan nafas lega.

"Reefa, don't you know that your father wanted me as his son in law?" Dimitri membelai lengan Reefa, matanya menerawang mengenang masa lalu ketika ia mengira atasannya hanya bercanda ketika mengutarakan niatnya untuk mengambilnya sebagai menantu untuk putrinya yang masih duduk di kelas 6 SD.

A Perfect LieTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang