Part 7b: Complicated Heart

19.4K 2K 54
                                        

Hai....

kembali apdet, tetapi sedikit hahahaha...

Bagi yang menanyakan siapa yag ada di multimedia di part 7a, mereka adalah Armie Hammer dan Alicia Vikander.

Terima kasih karena masih mengikuti tulisan saya... berharap vote yang lumayan banyak karena di part ini ada scene yang mungkin dinanti2kan pecinta Dimitri hahahaha. Dan juga komen tentunya..

Esoknya sebelum berangkat kerja, Reefa tidak sengaja menonton infotainment ketika ia tengah memeriksa tas tangannya, memeriksa apakah ada barang yang penting tertinggal. Suara pembawa acara yang ceria mengatakan bahwa supermodel Ariadna tengah menjalin kembali dengan mantan tunangan yang memutuskan hubungannya beberapa tahun yang lalu.

Reefa terkesiap dan menoleh pada televisi kecil yang hampir tidak pernah ia tonton dengan serius. Hidupnya terlalu sibuk untuk menikmati televisi yang lebih sering menayangkan berita sampah. Di layar, Reefa melihat Ariadna dengan pesona yang sama seperti yang ia lihat kemarin, tersenyum dan mengatakan ia mungkin akan benar-benar menikah dengan tunangan yang masih ia rahasiakan.

Reefa mendesis kesal, baru beberapa hari yang lalu menyatakan cinta, lalu masih membujuknya kemarin sore, tetapi hari ini telah bertunangan dengan wanita lain.

Bisa-bisanya! Dasar brengsek!

Reefa memasang wajah masam seharian, membuat Adith bertanya-tanya dan Dimitri menggeleng melihat wajah judesnya. Dimitri tidak tahu kalau dirinya adalah penyebab buruknya suasana hati Reefa.

"Ini dokumen yang harus ditandatangani, kalau Pak Dimitri tidak yakin dengan pekerjaan saya... Bapak bisa memeriksa kembali." Dimitri meletakkan setumpuk kertas, wajah gadis itu sama sekali tidak bersahabat.

"Ada apa sih, Reefa?" Dimitri bertanya danmengerutkan keningnya pada gadis itu, merasa geli melihat bibir manyun Reefa.

"Saya tidak ingin satu ruangan dengan Pak Dimitri lagi."

"Heh?"

Dimitri menatap Reefa dengan tatapan bertanya.

"Kalau tunangan Bapak masih datang ke sini dan sekonyong-konyongnya mencium Bapak tanpa rasa sungkan di depan saya..." Reefa berhenti, menghembuskan nafasnya, kombinasi antara kesal dan muak. "Lebih baik meja saya dipindahkan ke luar ruangan."

"Oh jadi itu sebabnya." Dimitri terkekeh geli.

"Yup. Tahu nggak, Pak, melihat yang kayak gitu bikin polusi mata. Apalagi kalau Bapak berbuat yang tidak benar di ruangan ini. Saya yang tahu dan mendengar bisa sial empat puluh hari." Reefa mencerocos, tidak memperdulikan wajah Dimitri yang tersedak menahan tawa.

"Ach so... jadi begitu. Tidak ada bedanya dengan kamu yang dicium oleh tunanganmu di dalam mobil tiap hari."

Reefa melongo mendengar jawaban Dimitri, sama sekali tidak menyangka kalau Dimitri memata-matai apa yang ia lakukan bersama Adith di depan drop off setiap pagi dan sore.

"Itu cuma di kening, Pak. Tidak sebanding dengan ciuman Anda yang basah dan saling bertukar ludah dan saling memasukkan lidah."

Tawa meledak dari bibir Dimitri, cara Reefa mengucapkan semua kata yang teramat vulgar itu dan juga sangat kocak baginya.

Reefa mengerutkan kening dan memajukan bibirnya melihat Dimitri yang terlihat senang. Gadis itu tidak habis pikir mengapa ada orang yang rasa malunya sudah punah bagaikan harimau jawa dan selera humor aneh seperti direktur operasional di depannya ini.

"Reefa..." Dimitri masih tertawa kecil ketika menyebut nama gadis itu lalu melanjukan obrolannya kembali, "Kamu cemburu dengan apa yang saya lakukan dengan Ariadna?"

A Perfect LieTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang