"Saya rasa tidak pantas kita pergi ke kantor dalam mobil yang sama," ucap Reefa sambil berjalan di samping Dimitri, mereka berjalan bersama menuju gedung parkir.
"Apa yang salah? Kita satu kantor jadi wajar saja." Dimitri masih berjalan tanpa berhenti, ia hanya memperlambat ritme langkahnya.
"Orang kantor akan mengetahui kita tinggal bersama." Reefa meninggikan nada suaranya, kesal karena Dimitri tidak menanggapi ocehannya.
Akhirnya laki-laki itu berhenti, tersenyum dan menghela napas, memandang Reefa dengan tatapan memaklumi. Dimitri terlihat lebih menawan hari ini dengan setelan jasnya yang berwarna gelap, ia berpakaian resmi karena akan menghadiri rapat komisaris bersama para direktur.
"Jika mereka tahu kita tinggal bersama juga tak masalah, Reefa. Tidak ada peraturan kantor yang melarang hal itu, kecuali kalau kita menikah, maka salah satu dari kita harus mengundurkan diri."
Reefa menaikkan alis matanya tinggi-tinggi. Apakah semua lelaki memang tolol dan tidak peka?
"Bukan masalah peraturan kantor, tapi gosip yang akan semakin santer." Reefa bersedekap, menatap Dimitri sebal.
Gadis itu tidak ingin reputasi yang ia bangun dengan baik tercoreng dan ujung-ujungnya mengakibatkan ia dikeluarkan dari perusahaan.
"Gosip? Sudahlah, aku sudah kebal dengan semua itu, Reefa. Biarkan saja. Semakin kita tidak peduli, maka gosip akan semakin cepat menghilang." Dimitri tertawa kecil dan kembali berjalan, sementara Reefa berlari-lari kecil berusaha menyamakan langkahnya dengan laki-laki itu.
Akhirnya mereka sampai di depan mobil Dimitri. Laki-laki itu membuka pintu mobil dan mempersilahkan Reefa masuk terlebih dahulu. Reefa menatap Dimitri kesal lalu memutar bola matanya sebelum masuk ke mobil.
"Anda mungkin sudah terbiasa, tapi saya tidak." Protes Reefa, ia melanjutkan kembali debat yang tertunda setelah Dimitri di belakang setir mobil.
Dimitri terkekeh. Gadis yang sangat gigih, pikirnya senang. Dimitri membayangkan akan sangat menarik kehidupan rumah tangga mereka kelak.
"Kamu tidak ingin mendapatkan masalah dengan kedekatan kita. Kamu tidak ingin dipecat, kalau aku tebak."
"Nah, itu Anda mengerti."
Dimitri menyalakan mesin dan mengendarai mobilnya. Ia memikirkan apa yang dikatakan Reefa. Ia tahu gadis itu cemas dengan nama baiknya yang akan tercoreng kalau menjalin hubungan dengannya. Ia juga mengerti kalau gosip terlalu jauh maka Reefa atau dirinya dapat diPHK karena dianggap mencoreng nilai-nilai perusahaan.
"Terima saja lamaranku, Reefa. Dan semuanya akan baik-baik saja." Dimitri kembali menawarkan pernikahan pada Reefa membuat Reefa tersenyum masam.
"Anda tidak bosan-bosan melamar saya, Pak. Saya belum bisa mengatakan 'ya' atau 'tidak. Saya ingin memastikan perasaan saya terlebih dulu."
Dimitri tergelak, ia sudah kebal dengan penolakan Reefa tapi ia bertekad tidak akan pernah berhenti membuat gadis itu mengatakan 'ya'. Jika memang suatu saat Reefa memang tidak ingin menikahinya, ia tidak akan menyesal karena ia telah berjuang mati-matian. Ia akan menerima semua kekalahannya dengan jiwa besar.
"Hmm... mungkin kamu belum bisa memastikan perasaanmu padaku tapi aku sudah tahu bagaimana cocoknya hasrat kita satu sama lain. Paling tidak, tubuh kita saling menginginkan." Secara vulgar Dimitri meledek Reefa dan membuat wajah gadis itu merah padam dan terdiam hingga mereka tiba di kantor.
***
"Reefa, what's going on?" Dita menyeretnya ke toilet wanita begitu Reefa sendirian. Dimitri sedang menghadiri pertemuan rutin Direksi dengan komisarisi tiap hari senin pertama tiap bulan. Laki-laki itu langsung menuju ruang rapat utama dan tidak menyertai Reefa menuju ke ruang kerja mereka. Seperti biasa, mereka berdua selalu datang terlalu pagi .
"Maksudmu?" Reefa memandang Dita dengan wajah bingung. Ia tidak bisa menebak apa yang akan disampaikan Dita.
"Kamu pacaran dengan Pak Dimitri?"
"Ha? Kamu dengar darimana?" Wajah Reefa yang terlihat kaget cukup memberi jawaban pada Dita bahwa temannya tidak berbohong.
"Berita tentang kalian menjalin hubungan lebih dari sekedar rekan kerja sudah beredar luas dari beberapa hari yang lalu. Kamu liburan dengan Pak Dimitri dan juga keluarganya, kan?"
Reefa terdiam sesaat, memikirkan terlebih dahulu apa yang harus ia katakan pada Dita.
"Ya, itu benar, tapi itu tidak berarti kami pacaran. Kami hanya berteman."
Dita mengangguk dan mendesah. "Aku percaya denganmu tapi kamu harus tegar menghadapi reaksi para perempuan dan bahkan laki-laki yang memuja Dimitri. Siapkan mentalmu karena baru kali ini Pak Dimitri tertarik dengan rekan kerjanya sendiri,bahkan asistennya sendiri. Kamu benar-benar memecahkan rekor, Reefa."
"Omong-omong, darimana kamu tahu tentang liburanku dengan Pak Dimitri?"
"Dari laman media sosialnya. Sebenarnya Pak Dimitri jarang mengunggah hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan pribadinya, tetapi ia dia dit-tag oleh adik perempuannya di dalam foto liburan kalian. Kau tahu, malam itu grup WA kantor geger sampai subuh."
Reefa memejamkan matanya dan menggigit bibirnya. Ia membayangkan apa yang akan ia terima dari semua penggemar Dimitri.
Tiba-tiba pintu toilet terbuka, barisan sekretaris direksi masuk dan melihat Reefa. Wajah mereka serentak terlihat sinis.
Ini baru permulaan, Reefa.
"Minggir dong, gantian ih." Salah satu yang paling menor menabrak bahu Reefa dan tanpa mengucapkan maaf, ia mengeluarkan bedak dan melakukan touch-up pada riasannya
yang sebenarnya sudah terlalu tebal.
Menahan amarah, Reefa hanya melakukan itu. Ia ingin membalas, tapi ia tahu situasi tidak menguntungkan baginya. Dia hanya berdua dengan Dita, sedangkan para sekretaris terdiri dari lima orang. Reefa menarik lengan Dita, lalu ia berjalan keluar dari toilet. Lebih baik ia menjauhi sumber masalah.
***
Reefa tahu, ia harus melakukan sesuatu agar gosip tidak semakin melebar ke mana-mana dan menghancurkan reputasinya.Gadis itu sengaja pulang sedikit lebih terlambat karena tidak ingin berbarengan dengan Dimitri.
Ketika gadis itu sampai di lobby, tiba-tiba Dimitri datang dan berdiri di
sampingnya. Laki-laki itu tersenyum dan mengangguk.
"Menghindariku, Reefa? Tidak ingin pulang bersama?"
Reefa berpura-pura tidak melihat atau mendengar apa yang dikatakan Dimitri. Ia membuang muka, seolah laki-laki itu tidak ada. Sejumlah mata memperhatikan mereka, penasaran
dengan apa yang akan terjadi.
Dimitri terkekeh dan menggeleng lalu dengan santai ia mengaitkan lengannya pada lengan Reefa. Reefa menoleh dan menatap Dimitri marah tapi ia kehilangan kata-katanya karena menyadari semua mata di lobby tertuju pada mereka. Kemudian Dimitri menunduk dan berbisik pada Reefa, jelas dengan sengaja mempertontonkan kemesraan di depan umum.
"Ikuti saja apa yang mereka mau. Posisimu akan lebih aman kalau kamu terlihat sebagai kekasihku."
Gadis itu mengerjap, menyadari bahwa yang diungkapkan Dimitri benar. Dengan sedikit gemetar -karena ia ditatap oleh sebagian besar oleh orang yang ia kenal walau hanya
nama- ia menggenggam tangan Dimitri dan menyandarkan kepalanya di lengan laki-laki itu.
Dimitri hampir tertawa dengan tindakan Reefa tapi dengan bijak ia hanya tersenyum lembut dan mengacak puncak kepalanya. Banyak wajah yang tercengang dengan tindakan sepasang manusia itu di lobby, tapi yang membuat mereka terpana adalah sikap Dimitri. Sang Direktur Operasional yang terkenal dingin dan angkuh, seketika berubah menjadi pemuda yang terlihat tergila-gila pada seorang perempuan dan tidak malu-malu memperlihatkan perasaannya. Kali ini Dimitri terlihat sangat tulus dan bersikap sangat manis, hal yang tidak pernah ia tunjukkan pada perempuan-perempuan yang pernah bersama ia sebelumnya.
***
Halo all readers
Maaf, dikit aja ya kali ini karena memang sudah partnya
disusun seperti ini.
Btw, apdet malam2 lagi hahaha. Mumpung bocils lg tidur nih.
Mohon vote dan komennya ya.
Terima kasih.
With love and respect
KAMU SEDANG MEMBACA
A Perfect Lie
RomanceOPEN PO 25 JUNI S/D 10 JULI 2019. BISA DILIHAT DI PART OPEN PO LEBIH JELASNYA. PROSES PENERBITAN! BEBERAPA PART AKHIR TELAH DIDELETE! Highest Rank #5 in Romance (20122017) Apa yang akan kamu lakukan, ketika orang yang menghancurkan keluargamu, membu...
