Semua bergerak terlalu cepat, di luar kendali Reefa. Sebelumya, gadis itu tidak pernah memprediksi apa yang mereka lakukan tadi siang di ruang Direktur Operasional.
Satu sentuhan di bibir telah mengubah semuanya...
Reefa tercenung, Ia menunduk menatap ke bawah, pada tangannya yang ia letakkan di atas kedua pahanya... menatap jari manisnya yang telah terpasang cincin berlian sederhana, tanda bahwa ia adalah milik Adithya Prakarsa. Mirisnya, Reefa menyadari bahwa ia tidak merasa bahwa ia telah menjadi tunangan Adith ketika bibir Dimitri memagut bibirnya.
Laki-laki itu benar-benar sanggup melakukan apa saja.
Reefa tidak tahu apakah ia sanggup bertahan untuk terus berada di dekat Dimitri, sedangkan tidak secuilpun informasi bisa ia dapatkan untuk menjatuhkan atasannya. Setelah ia kembali dari kamar kecil ke ruangan untuk bekerja kembali, Dimitri bersikap biasa... seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Hal itu sedikit menenangkan hati Reefa walau ia merasa sangat tidak nyaman satu ruangan dengannya. Reefa tahu, laki-laki itu selalu mengawasinya, menatapnya dari sudut mata elangnya yang tajam.
Matanya yang sempat menerawang memandang kesibukan orang-orang di lobby kembali ia tundukkan. Reefa benar-benar merasa kehilangan arah saat ini
"Reefa..."
Reefa sedikit terkejut, ia tidak menyadiri kehadiran Adith di dekatnya. Ia menutupi kegugupan dengan tersenyum kecut.
"Aku kira kamu akan langsung menghampiriku begitu di drop-off seperti biasa. Aku sampai diklakson beberapa kali dan ternyata kamu duduk disini. " Adith duduk di sofa di samping Reefa.
"Oh."
Reefa terdiam, ia menggigit bibirnya. Ia benar-benar merasa linglung, kepalanya terasa kosong.
"Kenapa, Beb? Kamu nggak enak badan?"Adith memajukan tubuhnya, menyentuh Reefa dengan sebelah tangannya.
"Nggak demam, kok. " Adith menepuk pipi Reefa lalu menarik tangan gadis itu "Yuk, kita jalan."
Reefa mengangguk dan berdiri, ia menuruti semua yang dipinta Adith. Tapi gadis itu diam seribu bahasa dan Adith tidak menyadari perubahan diri Reefa saat ini.
***
Reefa menghindari Dimitri, walau itu adalah hal yang hampir mustahil dilakukan karena memang mereka bekerja di dalam satu ruangan. Tetapi Reefa menyiasatinya dengan membuka pintu, untungnya Dimitri sama sekali tidak keberatan dengan hal itu. Komunikasi langsung di antara mereka semakin minim dan hanya dilakukan dengan memo ataupun kertas post-it yang ditempel di meja kerja ataupun disposisi yang diterima Reefa.
Reefa merasa patah arang, ia tidak akan bisa menuntaskan misinya apabila keadaannya seperti ini. Ia harus segera mematikan semua perasaannya secepat mungkin apabila berhadapan dengan sang laki-laki bermata abu-abu itu, apabila ia menginginkan apa yang ia tuju tercapai.
***
"Aku ingin membawamu pergi menemui orangtuaku, Reef." Adith mengatakan hal itu di suatu sore ketika mereka jalan berdua usai jam kerja di suatu taman yang cukup teduh dan hijau di dalam sebuah mall.
"Apa?" Reefa mendadak berhenti berjalan, memastikan ia tidak salah dengar.
"Aku ingin orangtuaku mengenalimu sebagai calon menantunya. Aku tidak ingin tiba-tiba memperkenalkanmu ketika mendekati hari H." Adith nyengir dan menatap Reefa.
"Dith, aku kira kita akan menikah paling tidak dua atau tiga tahun lagi."
"Nggak. Aku sadar, Reefa, kalau aku benar-benar mencintaimu. Kemarin sebulan tanpamu membuatku menyadari arti dirimu sebenarnya bagiku."
KAMU SEDANG MEMBACA
A Perfect Lie
RomanceOPEN PO 25 JUNI S/D 10 JULI 2019. BISA DILIHAT DI PART OPEN PO LEBIH JELASNYA. PROSES PENERBITAN! BEBERAPA PART AKHIR TELAH DIDELETE! Highest Rank #5 in Romance (20122017) Apa yang akan kamu lakukan, ketika orang yang menghancurkan keluargamu, membu...
