Part 22a: Officially Yours, Unconditionally Yours

8.6K 1.2K 197
                                        

"Reefaaaa!!!!" Katie menjerit ketika Reefa membuka pintu apartemen, gadis berambut coklat itu langsung memeluknya erat sementara Reefa hanya tersenyum dan tertawa kecil dalam pelukan calon saudara iparnya.

"Oh my gosh... I miss you, Reefa. Aku kangen," kata Katie sekali lagi dengan sedikit bahasa Indonesia yang berlogat aneh di kuping Reefa.

"I miss you too, Katie," balas Reefa sambil menepuk pelan punggung Katie.

"Oh iya, where's Majka and Ayah?" tanya Reefa, heran karena hanya ada Katie yang terlihat. Beberapa jam yang lalu, Dimitri menjemput keluarganya ke bandara karena besok adalah hari pernikahan mereka.

Katie mengedikkan ibu jarinya ke belakang, dan di koridor terlihat kedua orangtua Dimitri dan tentu saja Dimitri yang sedang kerepotan membawa sejumlah koper.

Reefa segera berlari kecil, memberi kecupan selamat datang pada Majka dan mencium tanganAyah Dimitri. Majka tersenyum senang melihat Reefa, tetapi tatapan Ayah sedikit menyelidik walau wajah laki-laki itu terlihat bahagia. Kemudian Reefa segera membantu Dimitri membawa koper.

"Naughty girl, you leave me alone with your heavy luggage," omel Dimitri setelah sampai di depan pintu apartemen.

Katie nyengir tak berdosa, membuat Dimitri gemas dan mengacak puncak kepala adiknya.

Dimitri mempesilahkan semua anggota keluarganya masuk dan Reefa segera meletakkan tas di ruang duduk lalu sibuk menata meja di ruang duduk dengan teh, kopi dan makanan kecil buatan sendiri.

"Wah, homemade cooking, Reefa?" Majka langsung melihat kue-kue tradisional yang tertata cantik di meja. Ia mengerti mengapa Dimitri ingin menikahi gadis ini. Tanpa dikatakan pun, Majka tahu kalau masakan Indonesa buatan dirinya tidak layak dikonsumsi dan Dimitri terpaksa memakannya

"Koper-koper diletakkan di mana, Dimka?" Ayahnya bertanya, tentu ia ingin beristirahat sebentar setelah penerbangan 8 jam dari Korea, tempat ia dan keluarganya kecuali tentu saja Dimitri, ditugaskan sekarang.

"Oh iya, koper ditempatkan di kamar masing-masing. Omong-omong, Ayah dan Majka bisa menempati second bedroom, aku di kamar paling belakang. Dan Katie bisa menempati master bedroom, kamar Reefa yang akan menjadi kamar pengantin." jelas Dimitri dengan santai, ia tidak menyadari perubahan wajah ayahnya.

"Kamar Reefa? Jadi Reefa sudah tinggal bersamamu selama ini?" Ayahnya menatap Dimitri menuduh, ia tidak suka dengan pernyataan Dimitri. Walaupun telah tinggal di berbagai negara asing dan menikahi wanita berkebangsaan Bosnia, laki-laki itu teguh dalam memegang prinsip-prinsip ketimurannya. Sementara Ibunya menghela napas dan Katie nyengir selebar kucing chesire sambil mengacungkan jempol pada Reefa.

Wajah Reefa merah padam, ia tidak mengira kalau Dimitri belum menceritakan keadaan yang memaksa mereka untuk tinggal bersama.

Dimitri membuka mulutnya hendak menjelaskan tetapi tangan ayahnya memberi tanda pada Dimitri untuk diam.

"Aku ingin mendengar alasan yang dikemukakan calon menantuku. I don't believe you, Dimka. Cukup sudah kamu meminta restu untuk menikah secara siri secara tiba-tiba. " Ayahnya berkata tegas dan membuat Dimitri meringis.

"Dear, mari kita bicarakan baik-baik. Coba lihat, makanan apa yang disiapkan oleh calon menantu kita." Majka menggandeng lengan suaminya, berusaha meredakan kemarahan laki-laki itu.

***

Wajah ayah Dimitri berangsur-angsur melembut lalu senyum yang terlihat ditahan muncul di wajah tampan walau banyak kerut kebijakan menghiasi wajahnya. Ia mendengar semua yang dikatakan Reefa tanpa sedikit pun menyela, sementara Dimitri nyengir bersedekap di sofa paling ujung, mengagumi Reefa yang tenang menghadapi ayahnya.

A Perfect LieTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang