Part 19b: Pieces Of Memory

7.8K 1.1K 88
                                        

Tawa Reefa meledak seketika setelah keluar dari ruang praktik dokter. Setelah mengunjungi ibu Reefa, Dimitri mengajak Reefa untuk menemaninya ke dokter untuk kembali berkonsultasi. Dimitri sangat cemas dengan bekas luka yang terlihat sangat mencolok itu, karena setelah ia mencari informasi di internet dan bertanya pada teman-temannya, bekas luka di kepala atau lazimnya disebut pitak tidak akan pernah ditumbuhi rambut kembali.

"Ah, aku kira kamu berkonsultasi mengenai efek luka, ternyata pitaknya yang membuatmu gelisah," kata Reefa terkikik geli. Dari ruang praktik ia sudah menahan tawanya, tapi demi kesopanan dan menjaga perasaan Dimitri ia hanya bisa nyengir di sepanjang pembicaraan antara Dimitri dan sang dokter wanita yang masih menatapnya menggoda. Reefa sama sekali tidak merasa cemburu, ia yakin Dimitri sama sekali tidak tertarik dengan si dokter.

"Setelah luka ini benar-benar sembuh, aku akan melakukan transplantasi rambut," desah Dimitri sebal. Ia melirik Reefa, senang melihat senyum kembali merekah di wajah gadis itu. Setelah kunjungan ke rumah sakit jiwa, Reefa menangis dan bagian bahu polo-shirt Dimitri basah oleh air mata , ia terlihat muram di sepanjang jalan. Baru di ruang praktik tadi, Dimitri memerhatikan sinar mata gadis itu kembali hidup dan secercah senyum yang ditahan tampak di wajahnya.

Reefa mengangguk, "Seperti yang aku bilang, Dimka Sayang, sebesar apapun pitakmu... tidak akan pernah mengurangi rasa cintaku padamu." Ia menyandarkan kepalanya pada bahu Dimitri.

Laki-laki itu kembali tersenyum, Reefa sekarang tidak malu-malu lagi bersikap mesra di depan umum. Mereka sekarang berjalan bergandengan tangan menuju pintu keluar rumah sakit. Lirikan orang-orang yang mungkin sedikit risih dengan kemesraan mereka, sama sekali tidak dipedulikan oleh Reefa.

"Kalau begitu, sepertinya aku ingin memangkas rambutku, Reefa. Supaya pitak ini tidak terlalu mencolok. Temani aku lagi, ok?" kata laki-laki itu lembut dan Reefa mengangguk. Ia mulai terbiasa dengan kehadiran Dimitri yang selalu berada di sampingnya dan apabila laki-laki itu mempunyai kesibukan sendiri dan tidak bisa membawa Reefa bersamanya, gadis itu merasa ada yang hilang dari dirinya.

***

"How do I look? Do I look a like Chris Evans?" Dimitri menaikkan alis matanya, nyengir menatap Reefa sambil mengelus kepalanya yang menyisakan rambut sepanjang 1 senti. Kata Pak Tua yang mencukur rambutnya, ini disebut potongan ABRI.

Reefa kembali tergelak, ia tidak menyangka Dimitri mengajaknya ke taman kota dan menggunakan jasa tukang cukur kaki lima di bawah pohon.

"ABCD itu namanya, Dimka." Tawa masih keluar dari bibir Reefa. Sungguh, Dimitri sangat tidak bisa ditebak. Ia tidak pernah mengira laki-laki itu tidak malu menggunakan jasa tukang cukur keliling dan bisa mengobrol dengan luwes dengan sang tukang cukur.

"Apa itu?" Dimitri mengerutkan kening, sepertinya gadis ini punya seribu cara untuk meledeknya.

"Abri Bukan Cepak Doang." Reefa nyengir menatap Dimitri jenaka.

Dimitri menggelengkan kepalanya, ia juga tidak pernah menyangka Reefa tertawa begitu lepas dan berbagi canda dengannya. Dulu, ketika hubungan mereka sebatas pekerjaan, gadis itu terlihat dingin dan sangat menjaga jarak.

"Dimka, merunduk sedikit dong." Masih dengan tatapan jenakanya, Reefa mengerjap meminta.

"Kenapa?" Dimitri merasa was-was, apa gadis ini ingin menciumnya? Dimitri tidak munafik, ia senang kalau Reefa melakukan hal itu.

Tetapi yang benar saja, ini taman kota. Banyak anak-anak dan remaja di bawah umur yang menyaksikan mereka.

Dimitri akhirnya menunduk, menyerah dengan keinginan Reefa.

Tangan Reefa terulur ke atas kepalanya, jemari gadis itu mengelus rambutnya dengan lembut.

"Mmm, rasanya seperti beludru."

Dimitri memutar matanya, Reefa benar-benar kekanakan. Tetapi, bagaimanapun ia menyukai sentuhan jemari gadis itu di rambutnya. Sedikit pikiran nakal terlintas di pikiran Dimitri.

"Kamu menyukainya?" Dimitri tersenyum nakal, tangan gadis itu masih berada di kepalanya.

Reefa mengangguk polos, ia tidak menyadari nada suara Dimitri yang berubah.

"Kenapa?"

Dimitri menggeleng dan masih tersenyum. Pikirannya mencatat apa yang ia dengar tadi dari Reefa, kemungkinan besar informasi ini akan berguna ketika mereka telah menikah nanti. Ia kembali tersenyum mesum. Lalu, Laki-laki itu mengambil tangan Reefa dan menggenggamnya erat.

"Sudahlah, daripada memperlakukanku seperti kucing, lebih baik kita berjalan-jalan mengelilingi taman." Dimitri mengecup jemari Reefa lalu menggandeng gadis itu menyusuri jalan yang membelah lapangan hijau tempat banyak anak-anak bermain dengan ibu mereka.

"Dimka..."

"Ya?"

"Kamu mengingatkanku pada Ayah."

Langkah Dimitri terhenti, ia memandang Reefa tegang. Ia tahu, topik mengenai ayah gadis itu adalah hal sensitif di antara mereka.

"Kamu membuatku merasa menjadi putri yang selalu dimanja dan dipenuhi keinginannya. Kamu membuatku merasa berharga kembali. Hanya Ayah yang memperlakukanku seperti itu. Dia seorang ayah yang sempurna, laki-laki terbaik di dunia bagiku saat itu dan hingga sekarang," bisik Reefa lembut, ia kembali menyandarkan kepalanya pada lengan Dimitri.

Dimitri masih diam, ia tahu suatu saat ia harus bicara mengenai apa yang terjadi pada ayah gadis itu. Tetapi Dimitri ingin memastikan tujuan Reefa menyebut ayahnya dalam pembicaraan ini.

"Kamu tahu Dimka, pertama kali melihatmu ketika sesi wawancara,aku membencimu hingga ingin membunuhmu. Tapi, sekarang semua berubah... aku mencintaimu lebih dari apapun di dunia ini." Reefa masih berbisik di lengan Dimitri.

Dimitri tersenyum, bimbang apa ia akan membicarakan mengenai kebenaran mengenai Arif Raffardhan. Sedangkan gadis ini sangat memuja dan mencintai ayahnya.

Tidak, biarkan saja seperti itu Dimitri. Biarkan hanya kenangan indah yang hidup dalam pikiran Reefa tentang Ayahnya. Jangan menghancurkan hal itu karena hanya itu yang tersisa dari ingatan Reefa tentang ayahnya.

Ia memutuskan untuk mengubur rapat-rapat rahasia tentang ayah Reefa. Dimitri menundukkan kepalanya, mengecup puncak kepala Reefa sekilas."Terima kasih, Reefa. Aku juga sangat mencintaimu."

Mereka sampai di sebuah kolam besar yang berada di tengah taman. Reefa melepaskan jemari Dimitri dari tangannya, mengambil sebuah batu dan melemparkannya ke tengah kolam.

"Lihat, aku bisa melempar batu hingga ke ujung sebelah sana. Ayo, bertanding denganku." Reefa bertepuk tangan, lalu menantang Dimitri. Wajah gadis itu memerah karena terlalu bersemangat.

Dimitri mengambil batu dan melemparkan dengan separuh tenaganya, karena apabila ia mengerahkan semua kekuatannya batu itu akan menyeberangi danau dan bisa membuat orang yang berada di pinggir sisi kolam lain terluka.

Reefa kembali tertawa karena lemparan Dimitri tidak lebih jauh dari miliknya. Lalu Dimitri menunjuk papan pengumuman di pinggir yang berisi tentang larangan berenang dan melemparkan barang ke kolam.

Reefa terkikik dan menempelkan telunjuk pada bibirnya. Gadis itu segera menyeret Dimitri menjauhi kolam itu dan memaksa minta ditraktir Dimitri ketika melihat penjual gula kapas yang berada tidak jauh dari tempat mereka.

Sore itu taman kota penuh dengan gelak tawa mereka. Reefa mencoba menutup semua masa lalunya yang gelap dan penuh dengan dendam, ia ingin menemukan kebahagiaannya dengan Dimitri. Gadis itu hanya ingin mencintai dan tentu saja dicintai... setelah kata itu terhapus dari hatinya semenjak kehancuran keluarganya.

***

Halo all readers..

Kembali apdet malam2... mumpung idenya lagi ada. Seperti biasa, masih didominasi adegan romance receh walau diselipkan beberapa clue untuk konfliknya.

Jangan lupa vote ya dan juga komen.

See u.. have a nice dream after read this story..

With Love

VLeeRhysMancini

A Perfect LieTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang