Part 25b: The Hardest Thing

6K 960 109
                                        

"Kami telah melaporkan hilangnya Ibu Atika setelah kami memastikan beliau tidak ditemukan di rumah Mbak Shareefa," jelas kepala bagian rumah tangga panti pada Dimitri. Laki-laki yang umurnya yang mungkin hanya lebih tua beberapa tahun dari Dimitri itu agak takut melihat ekspresi wajah Dimitri yang terlihat kesal. Ia juga tahu Dimitri merupakan salah satu eksekutif muda yang cukup disegani di dunia perbankan nasional dan Ibu Atika yang tercatat sebagai lansia dengan fasilitas VIP, yang artinya harus diperlakukan secara khusus.

"Bagaimana dengan sistem pengamanan kalian? Bagaimana seorang wanita sepuh bisa hilang dari pengawasan?" Dimitri mencecar kepala bagian dengan pertanyaan yang membuatnya tergagap sementara lengannya merengkuh Reefa yang terlihat bingung sekaligus cemas.

"Ibu Atika memanfaatkan waktu sholat shubuh yang juga waktu pergantian petugas jaga panti." Kepala Bagian segera menjawab pertanyaan Dimitri. Ia pun juga merasa heran, baru kali ini ada lansia yang bisa kabur dari panti mereka.

Dimitri menggeram, hendak menyerang kembali tetapi Reefa meremas jemari Dimitri, ia menatap suaminya dan menggeleng, meminta tanpa kata agar Dimitri mengendalikan emosinya. Desahan napas kesal terdengar dari laki-laki itu, lalu ia mengangkat tangannya pada kepala bagian, tanda ia sudah selesai.

"Ibu adalah salah satu wanita yang paling cerdas yang pernah aku temui, Dimka. Jadi jangan menyalahkan panti ini," bisik Reefa pelan, lalu ia menggamit lengan Dimitri keluar dari ruangan itu.

"Sebentar, Mbak Reefa..."

Langkah Reefa terhenti, sang kepala bagian berjalan mendekati Reefa lalu memberikan amplop surat sederhana berwarna putih dan bertuliskan namanya, Reefa tahu itu adalah tulisan tangan ibunya.

"Ini kami temukan di dalam lemari ibu anda. Sekali lagi kami minta maaf Mbak Shareefa dan Pak Dimitri, kami akan menemukan ibu anda sesegera mungkin." Kepala Bagian segera meninggalkan mereka, karena mengerti bahwa Reefa memerlukan ruang pribadi untuk membaca surat itu.

Reefa menerima amplop itu, tangannya gemetar. Ia cepat-cepat merobek amplop dan membaca isinya.

Shareefa, putriku tersayang...

Maafkan ibu kalau pergi tanpa pamit padamu. Ibu hanya tidak bisa menerima kalau semua yang ibu nikmati selama ini adalah uang dari laki-laki keparat itu. Maaf, Nak.. ibu juga tidak sanggup menuliskan namanya dengan benar karena ibu membencinya.

Mungkin kamu memang lebih bahagia di sampingnya tanpa ibu. Ibu hanya akan menjadi beban bagimu... jadi, jangan cari ibu. Ibu akan menghubungimu kembali kalau ibu sudah merasa tenang.

Peluk dan Cium,

Ibu

Reefa menggigit bibirnya, ia memejamkan matanya. Seharusnya ia sadar kalau ibunya tidak akan menerima semua keadaan ini semudah itu. Ia terisak dan Dimitri segera merengkuh Reefa erat, menenangkan kembali istrinya.

"Reefa, semua akan baik-baik saja. Aku berjanji." Dimitri berbisik di puncak kepala Reefa, jemarinya mengelus punggung Reefa dengan lembut.

***

Hari itu mereka berdua mengambil cuti mendadak selama tiga hari. Dimitri dan Reefa tidak peduli lagi dengan gossip apa yang akan mereka terima dengan tindakan ini. Sore itu setelah dari panti, Dimitri dan Reefa memeriksa beberapa rumah sakit di sekitar panti, mencari info mengenai keberadaan orangtua terlantar yang tidak sadarkan diri di sana. Sejauh ini, tidak ada nama atau wajah ibu Reefa di tempat yang merka cari.

"Dimka? Aku baru menyadari sesuatu..." Mata Reefa terus menatap televisi, melihat berita terkini, berharap siapa tahu terselip wajah ibunya di berita mengenai kecelakaan ataupun orang hilang.

A Perfect LieTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang