Reefa semakin dikucilkan di kantornya, hanya Dita yang menjadi temannya. Dita pun juga tidak setiap hari ngobrol atau makan siang bersama, mereka bertemu kalau salah satu atau kedua dari mereka punya waktu luang. Semuanya diakibatkan load pekerjaan mereka berdua yang cukup tinggi, Reefa yang menduduki jabatan asisten direktur operasional dan Dita juga supervisor di bidang SDM.
Tetapi hari ini, Reefa mengirim pesan whattsap pada Dita. Ia meminta Dita untuk datang ke ruang kerjanya. Tepat jam 12 siang, gadis tinggi semampai dengan rambut pendek sekuping itu muncul di ruangan Reefa.
"Tumben, whatssap aku. Ada masalah?" Dita menyandarkan pinggulnya di pinggir meja kerja Reefa, tersenyum penasaran pada sahabatnya.
"Maaf, seharusnya kalau aku yang perlu padamu, aku yang datang ke ruanganmu. Tapi, aku nggak mau pembicaraan kita terdengar oleh orang lain." Senyum malu terlihat dari wajah Reefa, jelas terlihat gadis itu menyimpan masalah di mata Dita.
"Ada apa sih, Reef? Omong-omong, si Hottie Dimi lagi makan siang bersama para direktur yang lain?" Dita melemparkan pandangannya ke meja kerja Dimitri yang berada di depan meja kerja Reefa.
Tawa kecil keluar dari bibir Reefa, mendengar julukan Dita pada Dimitri.
"Cukup ah, ketawa-ketawanya. Jadi masalahnya apa?" Dita menatap Reefa serius.
"Dit, memangnya kalau bekerja satu kantor nggak boleh menikah ya?" tanya Reefa pelan, ia tidak ingin suaranya terdengar hingga keluar ruangan.
Bibir Dita membuka, kaget dengan pertanyaan Reefa. Dalam satu detik, ia tahu maksud sahabatnya.
"Ha? Kamu mau menikah dengan Dimitri?" volume suara Dita yang cukup keras membuat Reefa meringis, ia sampai menoleh ke pintu, takut ada yang mendengar apa yang dikatakan Dita.
"SSttt!! Please, Dita... ngomongnya jangan teriak begitu," desis Reefa gemas.
"Oke..oke. Jadi benar kamu mau nikah sama dia?" Dita juga ikut berbisik, wajahnya masih terlihat penuh rasa ingin tahu.
Reefa menggeleng, "Belum pasti."
"Ampun deh, kayak menikah itu beli tiket mau liburan saja. Yang jelas memang ada peraturan itu. Kalau kalian menikah, salah satu harus mengundurkan diri." Dita memutar matakesal karena tidak mendapat jawaban yang memuaskannya.
Tapi bukan Dita kalau menyerah begitu saja, pertanyaan gadis itu berikutnya lebih vulgar dan membuat Reefa cukup ternganga.
"Tapi kalian sudah tinggal bareng, kan? Sudah ngapain aja?" cengir Dita usil.
Reefamengunci mulutnya rapat-rapat, tidak sedikitpun ia menjawab pertanyaan Dita. Ia hanya tersenyum setelah terkejut mendengar rasa ingin tahu Dita. Dimitri dan Reefa tidak pernah melakukan hal di luar batas selama tinggal bersama, tapi mereka pernah menghabiskan malam yang panas ketika di Yogyakarta. Reefa tak akan membiarkan seorangpun tahu tentang kebersamaan mereka malam itu.
***
"Reefa, besok aku ditugaskan menggantikan direktur utama menghadiri pertemuan antar pimpinan perbankan seasia tenggara di Singapura. Jadi kamu sendirian di apartemen selama tiga hari, ya?" Dimitri memberitahu Reefa tentang keberangkatannya besok pagi.
"Eh? Mendadak sekali." Reefa mengerutkan keningnya, mengalihkan perhatian dari buku thriller yang ia baca. Reefa merasa heran karena tugas ke luar negeri seperti itu biasanya diberitahukan jauh-jauh hari sesuai prosedur peraturan di kantor mereka.
"Tadi, ketika makan siang bersama para direksi dan direktur utama, beliau yang memberi perintah langsung kepadaku. Beliau punya kepentingan lain menyangkut keluarganya. Dan omong-omong, aku masuk ke kamarku dulu, ya. Aku butuh beberapa pakaian di closet room, bersiap packing untuk besok." Dimitri tersenyum dan mengedikkan jempolnya ke arah kamarnya, meminta ijin pada Reefa.
KAMU SEDANG MEMBACA
A Perfect Lie
RomanceOPEN PO 25 JUNI S/D 10 JULI 2019. BISA DILIHAT DI PART OPEN PO LEBIH JELASNYA. PROSES PENERBITAN! BEBERAPA PART AKHIR TELAH DIDELETE! Highest Rank #5 in Romance (20122017) Apa yang akan kamu lakukan, ketika orang yang menghancurkan keluargamu, membu...
