Seperti biasa, Reefa datang pagi-pagi sekali dan masih sedikit orang terlihat di ruangannya yang berada di lantai 25 tempat ia dan Dimitri bekerja. Sebelum memasuki ruangan, seseorang mencekal lengan Reefa tiba-tiba.
"Pak William!" Reefa terkejut, laki-laki seperti memang menunggunya.
"Apa kabar, Reefa?" William tersenyum, laki-laki berumur awal 50-an tahun itu menyapa Reefa ramah, tapi Reefa paham di balik keramahannya tersembunyi maksud yang selalu bertujuan menguntungkan dirinya sendiri.
"Baik, Pak. Ada perlu apa ke sini? Ada pekerjaan yang harus saya selesaikan?" tanya Reefa, berusaha tetap sopan dan professional walau dia tidak menyukai gaya William yang cenderung sombong dan bossy.
"Pekerjaan?" William terkekeh, sementara Reefa hanya diam, ia menunggu dengan sabar apa yang sebenarnya diinginkan sang direktur pemasaran.
"Bukan itu. Aku ingin tahu perkembangan informasi yang bisa kamu dapat sejauh ini."
"Belum ada." Reefa menggeleng.
"Oh, baiklah. Bangun kepercayaan dia terhadap dirimu. Begitu dia lengah, ambillah informasi sebanyak mungkin. Tapi ingat, waktu semakin pendek,Reefa."
Reefa diam, hanya memandang lawan bicaranya tanpa ekspresi.
"Ok, kalau begitu saya pamit dulu. Omong-omong, Reefa, gosip mengenaimu dengan Dimitri beredar sangat cepat. Kamu terkenal sebagai satu-satunya gadis yang berada di dalam lingkungan kantor yang bisa mendekati dia." William terbahak dan berjalan menjauhi Reefa.
Reefa masih diam dan menatap kepergian laki-laki itu, kemudian Dimitri datang dan memandang Reefa dengan tatapan bertanya.
Aduh!
"Ada apa Pak William ke sini?" Ia mengedikkan jempolnya ke belakang.
"Tidak ada apa-apa. Beliau kebetulan lewat." Reefa menjawab sambil lalu dan meletakkan tas kerjanya di atas meja kerja.
"Tapi mengapa dia tertawa. Aku mendengar tawanya tadi, Reefa." Dimitri mengikuti Reefa, masih penasaran dengan apa yang dibicarakan atau dilakukan William dengan Reefa.
"Beliau meledek kedekatan Anda dengan saya, Pak."
Dimitri ingin mengatakan sesuatu mengenai hubungan mereka tetapi diurungkannya niatnya tersebut, ia hanya tertawa dan kembali ke meja kerjanya yang hanya berjarak beberapa meter dari Reefa.
***
Reefa tahu bahwa Dimitri berusaha membuatnya nyaman. Laki-laki itu ingin hubungan persahabatan antara dirinya dan Reefa terjalin baik tanpa kendala. Dimitri sangat berhati-hati dalam menjaga perasaan Reefa, tidak ada lagi sikap menjurus yang biasanya ditunjukkan laki-laki itu. Terakhir kali hanya lamaran yang ia lakukan di taman beberapa hari yang lalu, itu pun masih dikatakan dalam konteks yang sopan.
Sejujurnya, Reefa merasa kesulitan dalam berinteraksi dengan Dimitri. Ia tidak bisa mengenyahkan bayangan Dimitri malam itu dari pikirannya, tetapi ia memaksakan dirinya sendiri bersandiwara seolah semua baik-baik saja dan dia tidak terpengaruh sedikitpun dengan kehadiran Dimitri di dekatnya.
Sekarang, Reefa berusaha memusatkan konsentrasinya pada rangkuman laporan operasional dari tiap daerah yang harus ia selesaikan sore ini, sedangkan hatinya masih terasa hangat karena tawa Dimitri yang masih bergema di pikirannya. Ia merindukan sosok Dimitri yang begitu mendambakannya malam itu.
Ponsel Reefa bergetar, gadis itu menghentikan kegiatannya lalu membuka kunci layar ponselnya. Dimitri mengirim pesan singkat pada jam kerja.
Luar biasa!
KAMU SEDANG MEMBACA
A Perfect Lie
عاطفيةOPEN PO 25 JUNI S/D 10 JULI 2019. BISA DILIHAT DI PART OPEN PO LEBIH JELASNYA. PROSES PENERBITAN! BEBERAPA PART AKHIR TELAH DIDELETE! Highest Rank #5 in Romance (20122017) Apa yang akan kamu lakukan, ketika orang yang menghancurkan keluargamu, membu...
