Part 26b: One Last Cry

6.8K 911 120
                                        

Dimitri menyadari ada perubahan besar pada sikap Reefa, dimulai setelah malam ketika ibunya dimakamkan. Reefa menolak untuk disentuh atau menyentuh Dimitri secara intim, hanya kecupan ringan di kening atau genggaman jemari yang bisa ditolerir istrinya, bahkan pelukanpun enggan ia terima. Padahal laki-laki itu hanya ingin menunjukkan bahwa ia peduli dan turut berbagi duka dengan Reefa, istrinya.

Keadaannya persis seperti ketika Reefa baru tinggal bersamanya, tapi kali ini lebih suram karena Reefa hampir terdengar tidak tertawa ataupun tersenyum lepas. Dimitri kembali menganggap mungkin hanya karena Reefa masih dalam suasana berduka karena kematian ibunya.

"Honey, besok kamu ingin melanjutkan cuti atau ke ke kantor?" tanya Dimitri, ia meletakkan segelas susu hangat beraroma mint serta lemon cheese cake di depan Reefa. Laki-laki itu memperhatikan dari kemarin Reefa tidak berselera makan nasi ataupun makanan berat lainnya, jadi pagi ini ia memutuskan membuat cheesecake karena Reefa menyukai apapun yang berbau keju.

Reefa melihat cheesecake yang sekarang berada tepat di depan matanya, ia mendongak menatap Dimitri lalu mengucapkan terimakasih melalui tatapan matanya. Reefa mengerti kalau Dimitri mengkhawatirkan keadaannya tapi ia masih tidak ingin disentuh oleh suaminya.

"Aku mau ngantor saja, Dimka. Aku masih harus bekerja dua hari lagi sebelum tanggal aku resmi resign." Reefa masih belum menyentuh kue, ia hanya menyeruput susu hangat dan kembali merebahkan tubuhnya di sofa sambil melamun menatap jendela.

"Kalau kamu mau menambah cuti, bisa aku urus," tawar Dimitri kembali.

Reefa menggeleng, lalu tergoda mencolek cheesecake dengan telunjuk lalu menjilatinya. Ia mengerjap ketika merasakan manis dan gurihnya kue itu di lidahnya, ia segera mengambil piring lalu memotong kue itu dalam satu potongan besar, menghabiskannya hingga ke remahan terakhir. Dimitri terkekeh melihat Reefa, artinya ia tidak perlu mencemaskan lagi keadaan istrinya, paling tidak fisiknya. Satu loyang cheesecake yang ia buat cukup untuk Reefa hingga sarapan esok hari.

***

Mimpi-mimpi buruk itu kembali lagi, bisikan-bisikan itu kembali memenuhi kepala Reefa. Reefa terbangun dengan keringat dingin membasahi tubuhnya, ia melihat ke samping Dimitri masih lelap tertidur. Tangan laki-laki itu menggenggam erat jemarinya.

Reefa menatap wajah tampan Dimitri, memikirkan semua yang terjadi pada mereka. Bagaimana takdir mempermainkan hidup mereka dengan kejam dengan mengakhiri satu kisah cinta dengan kematian orang yang ia cintai juga, yaitu ibunya. Dan itu adalah kesalahan dirinya yang berani menentang takdir.

Seharusnya ia tetap menjalankan rencananya, membalaskan semua dendam ke laki-laki ini...

Jemari Reefa menelusuri wajah Dimitri pelan, merasakan rahang kokohnya, matanya yang terpejam, dan bibirnya.

Sebenarnya, aku dapat dengan mudah membalas dendam... misalnya saat ini aku bisa membunuh Dimitri dengan satu hunjaman pisau di dadanya atau yang lebih mudah lagi, cukup bekap wajahnya dengan bantal.

Reefa tersentak, merasa takut dengan apa yang ia pikirkan. Di satu sisi, ia membenci Dimitri kembali tapi di sisi lain ia masih mencintai suaminya. Ia mengingat semua yang telah Dimitri lakukan padanya, cinta dan kasih sayang yang diberikan laki-laki itu seolah tidak terbatas pada Reefa. Tapi kalau ia membayangkan kembali wajah ibunya, ayahnya, dan kehidupannya yang hancur karena Dimitri, rasa benci itu kembali membakar jiwanya.

Bunuh dia, Reefa...

Bunuh dia, Reefa...

Bunuh dia, Reefa...

Perlahan Reefa mengambil bantal dan dengan gemetar akan menutup wajah suaminya.

Begitu mudah, Reefa. Kamu hanya butuh mengerahkan sedikit tenagamu dengan membekap wajahnya dengan bantal, berakhir hidup orang yang selama ini menghantui dirimu.

A Perfect LieTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang