"Kita tidak pulang menuju apartemen Anda?" Reefa mengerutkan dahi, menyadari jalan yang diambil Dimitri berbeda dari jalan yang mereka tempuh tadi pagi.
"Makan malam dulu. Ada restoran yang sangat ingin aku coba."
Reefa hanya diam. Ia tidak memprotes ataupun menyanggah Dimitri karena ia juga sangat lapar. Jujur saja, Reefa enggan memasak kalau perutnya sudah ribut minta diisi, lebih baik ia makan nasi goreng abang-abang gerobak seperti ketika ia masih tinggal di rumah kontrakan.
***
Ternyata restoran yang membuat Dimitri penasaran adalah restoran Indonesia asli yang berada di di sebuah mall bilangan Jakarta Selatan. Reefa tersenyum melihat banyaknya jenis makanan yang dipesan Dimitri.
"Kelihatannya Anda sangat menyukai makanan Indonesia, Pak."
"Sangat. Kamu tahu aku lebih memilih beasiswa di Singapura daripada kuliah di Jepang karena waktu itu Ayah ditugaskan di sana. Paling tidak kalau di Singapura, tiap hari aku bisa makanan masakan Melayu. Sedangkan Majka kemampuannya dalam memasak makanan Indonesia payah sekali." Dimitri mengerling pada Reefa, lalu ia memajukan tubuhnya sambil berbisik, "tolong yang terakhir dirahasiakan kalau kamu bertemu Majka lagi."
Reefa kembali tertawa, ia tidak pernah membayangkan sisi lain Dimitri yang seperti ini, yang bisa mengobrol dan berbicara tentang keluarga laki-laki itu dengannya tanpa ada sekat-sekat yang memisahkan mereka. Lalu pelayan mulai datang dan meletakkan piring-piring berisi makanan di atas meja mereka. Setelah semua makanan terhidang, Dimitri mengambil piring dan mengisinya dengan nasi lalu meletakkan piringnya di depan Reefa.
"Lady first." Dimitri mengerjap dan tersenyum. Ia tahu Reefa terlihat sangat lapar ketika memandang para pelayan yang menghidangkan makanan. Reefa tersenyum dan mengucapkan terima kasih dan mengambil lauk secukupnya.
"Jangan malu-malu, Reefa. Ambil semua yang kamu mau."
"Tenang saja, Pak. Saya tidak akan bersikap malu-malu. Mungkin saya malah akan mempermalukan Bapak dengan makan menggunakan tangan. Itu ada kepala kakap bukan, saya akan menyeruput otaknya dan saya pastikan akan berisik sekali."
Dimitri tergelak, ia sangat menyukai sikap Reefa saat ini. Gadis itu tidak menutup dirinya.
Ketika mereka sedang menyantap makanan, ponsel Reefa berdering. Gadis itu melirik ponselnya dan ekpresinya berubah datar. Ia mengambil ponselnya dan memberi tanda pada Dimitri kalau ia akan menjawab telpon.
"Halo, Adith?"
Seketika Dimitri terdiam, ketika nama itu keluar dari mulut Reefa.
"Ya. Aku baik-baik saja. Kamu juga baik-baik saja, kan?" Suara Reefa terdengar dingin, membuat Dimitri takjub.
Tiba-tiba Reefa bangkit dari kursinya, menatap Dimitri meminta tanpa kata privasi untuknya dan ia berjalan ke sudut restoran yang sepi. Dimitri tahu kalau Reefa tidak ingin percakapannya terdengar, tapi ia tetap mengikuti gadis itu diam-diam.
"Jangan macam-macam. Aku bisa melaporkanmu pada polisi. Sidik jarimu pada pisau pasti ada karena langsung aku amankan."
Kemudian Reefa diam, mendengar kembali Adith yang berbicara.
"Pikirkan lagi, Adith. Kamu bisa dipenjara dan karirmu seketika tamat. Ketika kamu keluar dari penjara gelarmu hanya residisvis. Kehidupanmu juga tamat karena tak ada yang mau memperkerjakan mantan tahanan." Reefa terdengar dingin, tak ada sedikitpun rasa takut di dalam suara gadis itu.
Dimitri mengerjapkan matanya, ia tidak menyangka sisi lain Reefa pada waktu malam penyerangan itu kembali lagi dan bahkan lebih tidak manusiawi saat ini. Laki-laki itu bersedekap dan membiarkan Reefa menjauh. Tak lama kemudian, Reefa menutup ponselnya dan sedikit terkejut karena mendapati Dimitri berada tak jauh darinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
A Perfect Lie
RomansaOPEN PO 25 JUNI S/D 10 JULI 2019. BISA DILIHAT DI PART OPEN PO LEBIH JELASNYA. PROSES PENERBITAN! BEBERAPA PART AKHIR TELAH DIDELETE! Highest Rank #5 in Romance (20122017) Apa yang akan kamu lakukan, ketika orang yang menghancurkan keluargamu, membu...
