Part 19a: Pieces of Memory

8.3K 1.1K 119
                                        

Reefa bangun pagi-pagi sekali, beberapa hari yang lalu ia menjadwalkan kunjungan ke rumah sakit untuk menemui ibunya pukul delapan pagi hari ini. Biasanya ia datang seminggu atau dua minggu sekali pada hari jumat sore sesudah jam kerja. Sudah 2 minggu ia tidak menjenguk ibunya karena kecelakaan yang menimpa Dimitri membuatnya memberikan waktu dan perhatian eksta pada laki-laki itu.

Setelah mandi dan berdandan, Reefa keluar dari kamar tidur. Begitu membuka pintu kamar, ia disambut wangi manis yang membuat perutnya bersenandung lapar. Reefa tersenyum, pasti Dimitri yang sedang memasak. Laki-laki itu punya tangan yang ahli dalam membuat kue ataupun makanan barat populer.

"Masak?" tanya Reefa, ia mengambil tempat duduk di depan Dimitri yang sedang menghias satu loyang bread pudding dengan taburan blueberry dan potongan almond. Pantry milik Dimitri berdesain 'U shape' dan langsung berbatasan dengan meja makan.

"Besar sekali. Untuk kita berdua?"

Dimitri mengalihkan perhatiannya dari meja dapur lalu menatap Reefa ceria."Tentu saja, aku memasak dua loyang." Lalu laki-laki itu memotong seiris besar bread pudding, meletakkannya dalam piring dan memberikannya pada Reefa.

"Tidak terlalu banyak? Mubazir." Reefa memasukkan satu potong besar kue itu ke dalam mulutnya. Ia belum merasa bosan dengan bread pudding ala Dimitri, mereka sering memasak bersama di pagi hari atau di hari libur.

"Satu untuk kita, satu untuk kamu bawa ke rumah sakit." Dimitri menjawab pertanyaan Reefa sambil memasukkan loyang keramik ke dalam box besar kue yang cantik.

"Untuk Ibu?" Reefa hampir tidak bisa menelan karena ucapan Dimitri.

Laki-laki itu mengangguk dan menggeser pelan box kue ke arah Reefa.

Mata Reefa terasa hangat, ia tidak pernah menyangka Dimitri bangun sangat pagi hanya untuk menyiapkan buah tangan untuk ibu. Tidak munafik, Reefa menyukai kalung berlian berinisial namanya yang diberikan Dimitri beberapa hari yang lalu... tetapi hal yang sederhana yang dilakukan laki-laki ini sangat menyentuh hatinya.

"Terima kasih, Dimka." Reefa menahan air matanya, tidak ingin terlihat cengeng di mata Dimitri.

Dengan cepat, Reefa menghabiskan kuenya dan mengambil box kue. Ia tidak tahan untuk menangis.

"Aku mungkin pulang menjelang makan siang." Ia mengumumkan sambil lalu pada Dimitri, berjalan cepat ke arah pintu. Tetapi, tanpa Reefa kira, Dimitri segera melepas celemeknya."Aku ikut, Reefa."

Reefa berhenti, mengerjap pada Dimitri yang memberi tanda meminta waktu padanya. Laki-laki itu berlari kecil ke kamar dan muncul kembali beberapa detik kemudian dengan sebuah topi baseball berwarna hitam yang bertengger di kepalanya.

"Kamu tidak perlu mengantarku, Dimka."

"Aku ingin ikut. Sepertinya ibumu menyukaiku, Reefa." Laki-laki itu nyengir dan berkaca sambil membalikkan badannya pada cermin yang terletak di ruang duduk. Reefa terkekeh, ia tahu laki-laki itu memakai topi karena tidak ingin bekas lukanya terlihat jelas. Reefa mengakui, pitak sebesar itu cukup memalukan. Gadis itu tersenyum geli.

Gadis itu mengaitkan lengannya pada lengan Dimitri, menarik halus laki-laki itu agar mereka cepat bergegas.

"Sebesar apapun pitakmu, aku tetap mencintaimu," bisik Reefa lembut. Dimitri tergelak, lalu mengecup puncak kepala Reefa lembut.

***

Reefa mengerjapkan matanya, rasanya ia tidak bisa percaya Dimitri bisa mengambil hati ibunya. Ibu tertawa mendengar cerita Dimitri. Tadi juga Ibu terkejut mendengar bahwa Dimitri yang memasak bread pudding yang mereka bawa. Melihat ibunya terlihat normal membuat Reefa berharap semoga dalam waktu dekat beliau akan cepat sembuh. Tapi Reefa tidak tahu, keinginannya itu akan menjadi bumerang untuknya di saat meendatang

A Perfect LieTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang