Shui termangu mendengar percakapan ibu dan anak tersebut. Setelah makan malam dan meminum obat yang diracik Iksook Inarha, Shui masuk ke kamar dan merebahkan diri. Harusnya ia tidur, tetapi matanya sama sekali tidak mau terpejam. Akhirnya, yang ia lakukan di atas tempat tidur cuma menatap langit-langit kamar.
Shui memejamkan mata, mengingat kembali percakapan antara Sheya dan ibunya barusan. Ia tak bermaksud menguping, tetapi dinding yang memisahkan kamar mereka terlalu tipis, sehingga Shui bisa mendengar jelas setiap kata yang diucapkan Sheya maupun ibunya.
'Yunda dan Ramma memberikan kami keluarga yang begitu hangat dan perhatian. Kami bahagia memiliki kalian.'
Shui tahu, kalimat Sheya tadi hanyalah hiburan untuk sang ibu. Dengan keadaan keluarga yang seperti ini, Shui yakin, semuanya akan semakin sulit dari tahun ke tahun. Apalagi gadis itu dalam usia menikah dan 1 atau 2 tahun lagi, Mila dan Hessa juga akan mengalami hal yang sama. Dibutuhkan biaya yang tidak sedikit untuk melangsungkan pernikahan, bahkan yang paling sederhana sekalipun. Dan calon suami Sheya pun harus punya kesabaran serta keuletan supaya bisa menaikkan martabat keluarga ini. Apa gadis itu sudah memiliki calon suami yang pantas?
Shui meragukan itu.
Ia teringat percakapannya dengan Iksook Inarha dan kepala desa Shamashinai sore tadi. Setelah mengusir Sheya secara halus, dengan menyuruhnya membuatkan minuman hangat untuk mereka, Iksook Inarha maupun kepala desa mulai menanyakan tentang identitasnya dan alasan kenapa ia hampir terbunuh di Inairakhi.
"Sheya tadi memanggil Anda 'Tuan Shui', apakah itu nama Anda, Tuan?" tanya Inarha setelah memeriksa keadaannya. Dia mengatakan bahwa kondisi badannya sudah lebih baik. Cukup mengejutkan, ia bisa cepat pulih setelah hampir mati karena dikutuk serta kena teluh.
Shui sendiri baru tahu kalau dirinya terkena teluh. Waktu Inarha menceritakan mengenai muntahan cairan hitam dan bangkai kelabang, mau tak mau Shui merasa mual dan ingin memuntahkan makanan yang tadi dimakannya. Kemungkinan besar kesehatannya yang menurun beberapa minggu terakhir, gara-gara teluh itu. Dia sering cepat lelah dan seluruh badannya berat, belum lagi bila malam tiba, tubuhnya terasa panas menyiksa hingga badannya terus-menerus berkeringat.
Kalau dipikir secara rasional, Shui tidak akan mempercayainya. Ia terbiasa berpikir praktis dan sering berhadapan dengan serangan 'nyata' di hadapannya. Baru kali ini ia mendapatkan serangan 'tidak nyata' seserius ini. Padahal di sisinya selalu ada pendoa yang siap merapalkan doa-doa pada Dewa Tua Yang Agung, tetapi... kenapa teluh itu tetap bisa menembus dirinya? Ini membuat Shui bertanya-tanya. Ia memang tidak terlalu mempercayai mengenai kekuatan supranatural, meski lingkungannya sudah menunjukkan banyak bukti mengenai itu. Pendoa yang ada di sisinya pun pilihan dari adik perempuannya. Ia menerima kehadiran wanita itu hanya untuk menentramkan adik perempuannya.
"Itu memang nama saya, Iksook," Shui tersenyum, sengaja menggunakan bahasa sopan pada pria kecil berumur 50-an itu. Ada sesuatu dalam diri Inarha yang membuat Shui merasa segan. Walau pakaiannya terkesan aneh karena warna-warnanya saling bertabrakan serta topi bundarnya begitu mencolok dengan manik-manik berwarna-warni, tetapi ada kebijaksanaan serta kerendah-hatian dalam diri pria itu yang membuat Shui merasa tidak pantas bersikap angkuh maupun pongah.
"Nama lengkap Tuan?" Inarha kembali bertanya.
"Jika saya menyebutkannya, apakah Iksook dan Shamashinaike bisa merahasiakannya? Terutama dari keluarga ini?" Shui menatap keduanya bergantian.
Ada ketegangan yang terlihat dari ekspresi kepala desa Shamashinai. Sorot matanya menyiratkan kecemasan. Berkebalikan dengan kepala desa, Inarha justru terlihat tenang.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Conquered Throne
FantasíaSeorang Jenderal Kekaisaran menikahi gadis desa yang tinggal di perbatasan. Tidak ada senyum, tidak ada kebahagiaan, dan hanya ada rasa sakit. Mampukah keduanya bertahan dalam pernikahan tersebut? Atau... Bisakah mereka menyelami perasaan masing-mas...
