Bab 38. Sheyana

1K 165 35
                                        


Maaf atas ketidaknyamanan karena unpub tadi. Ada sedikit kesalahan yang perlu saya perbaiki tadi 😅😅
--------------------------------------

Istana bukan tempat ramah, yang bisa langsung kusukai ketika pertama kali menginjakkan kaki di sini. Walau pun bangunannya indah dan megah, tetapi tempat ini terasa dingin dan mencekam.

Para dayang dan pelayan bersikap acuh tak acuh, meski mereka menundukkan kepala dan melayaniku dengan baik. Tidak ada rasa menghargai di mata mereka terhadapku, pun... tidak ada keramahan yang tersirat dari ucapan serta tindak-tanduk mereka. Bila tidak ada sokongan Permasuri di belakangku dan juga kehadiran Nyonya Suani di sisiku, aku tahu, mereka bisa bersikap jauh lebih buruk dari ini.

Sikap kedua selir pun sama tidak ramahnya. Selir Sheena memperlakukanku dengan dingin, bahkan saat berpapasan di tengah koridor Istana pun dia mengganggapku seperti hantu yang tidak terlihat. Selir Mirhetta lebih kasar. Dia sering mencemooh dan menghina asal-usulku. Lidahnya setajam belati yang sering kugunakan untuk berburu, sangat melukai hati.


(22 Oktober 2018)

-----------------------

Note:

Happy monday!

Yeaaay...., akhirnya saya bisa kembali menulis cerita ini! Setelah dua minggu disibukkan dengan urusan keluarga (tilik saudara yang baru melahirkan dan persiapan sepupu yang menikah), senang rasanya bisa melanjutkan cerita ini.

Hehehehe..., biasanya saya menulis di akhir minggu, karena bebas lepas tanpa beban mikirin kerjaan di kantor. Tapi mengingat udah dua minggu absen update cerita ini, mau nggak mau saya merasa bersalah.

Jadi, silakan nikmati updatetan ini dan tunggu chapter berikutnya :D/


Update (Sabtu, 5 April 2025)

Mulai bulan ini saya akan pindah lapak, begitu juga dengan cerita-cerita saya. Sengaja saya sisakan sebagian cerita untuk menunjukkan kapan cerita saya pertama kali ditulis di sini. Terima kasih~~

The Conquered ThroneTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang