Shorya muncul di dalam kamar pengantin Shui dan Sheya. Dia berdiri di depan meja ruang tamu, enggan mendekati tempat tidur yang tertutup tirai. Ada semacam energi agung yang menyelimuti dua manusia yang sedang tertidur di sana dan Shorya tak ingin energinya semakin ditekan. Kelelahannya sudah bertumpuk, selain karena energinya banyak termakan untuk perjalanan lintas dunia, pikirannya juga disibukkan dengan beragam rencana yang masih acak. Shasenkai enggan membantu, yang artinya dia harus berjuang sendirian.
Shorya merasakan gerakan samar dari arah tempat tidur. Shui tampaknya terbangun akibat kehadirannya dan bersikap waspada, sehingga Shorya memutuskan mengutarakan kehadirannya secara terbuka.
"Ini aku," kata Shorya, memecah keheningan di dalam kamar yang gelap.
Tirai tersibak sesaat. Shui turun dari ranjang dan memungut bajunya yang terserak di lantai. Dia mengenakan pakaiannya dengan tenang, seolah ketelanjangannya bukan sesuatu yang memalukan.
Shorya memperhatikannya, mengamati sikap Shui yang begitu tenang. Tak ada penyesalan, tak ada kesedihan yang dirasakan Shorya darinya, seakan-akan semua hal yang dilakukannya hari ini adalah sesuatu yang dia jalani tanpa paksaan.
"Bukankah ini terlalu pagi untuk menemuiku, Shorya?" Suara Shui begitu pelan, ketika dia duduk di kursi tamu yang ada di kamar.
(19 Maret 2019)
------------------------------------
Note:
Halo...., akhirnya saya bisa posting lagi cerita ini. <3
Shasenkai ini... agak nyebelin ya. Tahu kalau kondisi lagi darurat, bukannya ikut membantu, malah lepas tangan. Salahkan semuanya pada Rhei yang membuatnya jadi sakit hati. Dan untuk kemungkinan terburuk, selalu terjadi yang lebih buruk. Semoga Shorya masih mampu menanganinya.
Jangan lupa vote dan komen cerita ini yaa... :D:D
Update (Sabtu, 5 April 2025)
Mulai bulan ini saya akan pindah lapak, begitu juga dengan cerita-cerita saya. Sengaja saya sisakan sebagian cerita untuk menunjukkan kapan cerita saya pertama kali ditulis di sini. Terima kasih~~
KAMU SEDANG MEMBACA
The Conquered Throne
FantasySeorang Jenderal Kekaisaran menikahi gadis desa yang tinggal di perbatasan. Tidak ada senyum, tidak ada kebahagiaan, dan hanya ada rasa sakit. Mampukah keduanya bertahan dalam pernikahan tersebut? Atau... Bisakah mereka menyelami perasaan masing-mas...
