Glosarium:
Shonja : panggilan untuk seorang Jenderal.
Animmu : sebutan untuk adik dari---
Miri : sebutan untuk Tuan Putri.
Renim : sebutan untuk adik laki-laki pangeran.
----------------------------------------------
Shui merasa sangat letih. Dengan masalah yang datang beruntun serta kondisi kesehatannya yang belum pulih, ia merasakan beban yang bertumpuk. Penyerangan yang terjadi di desa Shamasinai tidak akan menjadi serangan yang terakhir. Ia tahu, pamannya maupun musuh-musuhnya akan melakukan beragam cara untuk menyingkirkannya dengan segera. Walau selama ini ia terkesan mendiamkan tindakan mereka, bukan berarti Shui tidak merasakan kemarahan terhadap mereka. Setiap kali rencana pembunuhan mereka gagal, setiap itu pula kemarahan Shui bertambah.
"Kau masih membutuhkan banyak istirahat," ucapan itu datang dari Shorya yang duduk di dekat tempat tidurnya. "Lebih baik kau memulihkan diri di sini untuk sementara sebelum kembali ke Shasenka."
Shui tersenyum getir, "Semakin aku menunda pulang, semakin mereka memikirkan langkah baru untuk menikamku dari jauh."
Shui ingin sekali mengakhiri semua permainan pamannya. Ia sudah lelah dengan tindakan mereka. Tidak cukupkah kesetiannya pada kekaisaran hingga mereka terus-menerus mencurigainya? Apa mereka tidak melihat bahwa ia tidak menginginkan takhta adiknya?
Lelaki berambut emas itu mendesah pelan sambil menatap peta Shenouka yang terbentang di atas meja kerjanya. Sehari setelah kembali ke markasnya yang ada di perbatasan, ia langsung mengadakan pertemuan singkat dengan letnan-letnannya. Pasukan yang telah disusun akan diatur ulang dan ditempatkan pada pos-pos tertentu, termasuk di area Shamasinai.
Desa itu bisa menjadi sasaran amukan pamannya, karena mereka berani menolongnya. Seperti yang telah terjadi, orang-orang yang menolongnya akan disingkirkan, sehingga keberadaannya seperti membawa kesialan bagi rakyat jelata yang membantunya.
"Dari waktu ke waktu, tindakan mereka semakin agresif," Shui meletakkan beberapa pion di atas peta. Ia kembali diam, mengamati bidak-bidak tersebut sambil memikirkan langkah-langkah apa yang akan ia gunakan nanti. Sinar lilin yang temaram sesekali goyah karena diembus angin malam yang terkadang masuk melalui celah-celah jendela kamar.
"Animmu terlalu lemah," komentar Shorya. "Bukan dia yang seharusnya menjadi Kaisar. Dia dihantui oleh ketakutan dan amarah, membuatnya mudah dikendalikan orang lain."
Mata biru Shui melirik Shorya. Penguasa Shoryaken itu sepertinya tahu banyak mengenai kondisi politik Shenouka.
"Jangan bicara sembarangan," tukas Shui perlahan. Walau ia bisa melihat Shorya, bukan berarti yang lain pun bisa. Orang-orang yang berjaga di luar kamarnya hanya mengetahui, bila ia sendirian di dalam. "Takhta itu adalah milik Renim. Ayah mewariskan itu padanya."
Shorya tertawa ringan. "Betapa setianya kau padanya, tapi dia sama sekali tidak memercayaimu. Ironis sekali. Kenapa kau masih bertahan untuk menyokongnya, Shui? Bila aku jadi kau, pasti sudah sejak lama aku meninggalkannya."
Shui bukannya tidak merasakan keinginan itu. Sudah lama sekali ia ingin kembali pada kehidupan lamanya––menjelajah, hidup berbaur bersama rakyat jelata tanpa harus mengkhawatirkan upaya-upaya pembunuhan. Meski hidup seperti itu sulit dan penuh perjuangan, setidaknya ia merasakan kedamaian. Tidak seperti ini, kehidupannya selalu dibayang-bayangi kecemasan.
"Jika aku meninggalkannya, maka akan semakin banyak orang tamak yang berusaha mengendalikannya," air muka Shui terlihat muram. Jari telunjuknya memainkan sebuah bidak yang ia letakkan di atas tulisan 'Shasenka'. "Selama aku masih ada, perhatian mereka akan tetap tertuju padaku."
KAMU SEDANG MEMBACA
The Conquered Throne
FantasySeorang Jenderal Kekaisaran menikahi gadis desa yang tinggal di perbatasan. Tidak ada senyum, tidak ada kebahagiaan, dan hanya ada rasa sakit. Mampukah keduanya bertahan dalam pernikahan tersebut? Atau... Bisakah mereka menyelami perasaan masing-mas...
