Bab 13. Shuikan

1.8K 263 9
                                        

Haiii..., Maaf ya, lama banget saya hiatus. Minggu-minggu kemarin saya fokus rewrite The Golden Anshok, jadi perhatian saya tercurah di sana semua. Setelah ini, insya Allah saya bisa mulai unggah cerita-cerita yang lain.

Glosarium:

Jugook : Makhluk halus yang tinggal berdampingan dengan manusia.

Draguir : Jugook yang berasal dari suku pemburu, berbentuk anjing hitam.

Shorya : Nama panggilan untuk Jugook penguasa provinsi Shoryaken yang berbentuk harimau putih.

Inaike : Nama panggilan untuk Jugook yang melindungi desa Shamasinai, tempat Sheya tinggal.

Tadakhua : Nama Dewa Tua Penguasa Semesta yang dipercaya oleh penduduk Shenouka.

Yuuni : Panggilan untuk kakak perempuan.

Iksook : Sebutan untuk pemuka agama laki-laki yang tinggal di desa.

-------------------

Melawan Jugook memang bukan keahliannya, tetapi pembunuh-pembunuh bayaran itu lain soal. Mereka manusia. Mereka nyata! Jadi ia tak perlu bingung atau pun takut ketika menerjang ke arah pembunuh-pembunuh yang ingin melenyapkan mereka. Begitu keluar dari pelindung Inaike, Shui melesat ke orang terdekat yang hendak memanah mereka. Ia memberikan dua tendangan memutar sebelum mengakhiri kehidupan orang itu dengan satu tikaman di leher.

Inaike sempat mengumpat melihatnya melawan pembunuh-pembunuh tersebut secara langsung. Namun, Jugook itu segera membantunya menghalau panah-panah yang sulit dilihat di keremangan malam. Cahaya yang berasal dari tubuh Inaike memang membantu Shui untuk mengetahui di mana musuh-musuhnya berada, tetapi cahaya itu tidak cukup terang untuk membuatnya mewaspadai panah-panah yang meluncur dari tempat-tempat tersembunyi yang gelap.

"Aku menyuruhmu berlindung, Sialan!" Inaike mengumpat. Perhatiannya terbagi-bagi antara melindungi Shui, Sheya, dan membanting draguir-draguir yang menyerangnya.

"Kalau cuma berlindung, masalah kita tidak akan pernah selesai!" Shui balas berteriak di tengah-tengah pertarungannya dengan orang-orang berpakaian serba hitam yang sebagian wajahnya tertutup kain.

"Sialan!" lagi-lagi Inaike mengumpat sambil menyepak salah satu draguir yang mengincar bagian belakang tubuhnya. "Tuanku dan Inarha menyuruhku kemari bukan untuk membiarkanmu bertarung!"

Shui yakin, kalau ia membalas pernyataan Inaike, pasti makhluk itu akan mengumpat dengan kata-kata yang lebih kasar. Sambil menghindari serangan dari pihak lawan, Shui berusaha menilai situasinya sekarang. Di halaman belakang mereka diserang oleh draguir dan pembunuh bayaran. Jumlah mereka cukup banyak. Tadi Inaike mengatakan Tuannya dan Inarha? Siapa yang dimaksud Inaike dengan Tuannya? Lantas..., apakah Inarha ada di sini pula?

"Di mana mereka?" tanya Shui setelah berhasil membunuh dua orang berurutan. Belatinya kini kotor oleh darah, begitu pun baju serta wajahnya. Walau merasa lelah dan menahan sakit di kaki dan bahunya yang terluka, Shui tidak berhenti melawan orang-orang itu. Paha kirinya mulai berdenyut-denyut dan ia hanya bisa berharap lukanya tidak terbuka dalam pertarungan ini.

"Di depan, melawan para penyihir," jawab Inaike singkat, lalu menanduk seekor draguir yang mengincar lehernya.

Itu berarti, rumah ini sudah dikepung. Mereka berniat membunuhnya sekaligus penghuni rumah ini juga. Shui menggertakkan gigi, merasakan amarah menggelegak di dalam dadanya. Ini bukan pertama kalinya mereka membunuh orang-orang yang menolongnya. Pamannya mengira, dengan melakukan hal itu maka ia tidak akan mendapat pertolongan dari siapa pun lagi. Namun, sepertinya dia salah. Pada kenyataannya, setiap kali ia terdesak dan dalam kesulitan, Tadakhua selalu mengirim penolong tak terduga.

The Conquered ThroneTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang