Seorang Jenderal Kekaisaran menikahi gadis desa yang tinggal di perbatasan. Tidak ada senyum, tidak ada kebahagiaan, dan hanya ada rasa sakit. Mampukah keduanya bertahan dalam pernikahan tersebut?
Atau...
Bisakah mereka menyelami perasaan masing-mas...
Akhirnya Tadakhua memberkati tanah ini dengan kehidupan! Musim kemarau sudah berakhir, musim tanam akhirnya tiba!
Aku membayangkan, awan-awan hujan ini tertiup sampai ke Shamasinai dan memberikan kebahagiaan yang sama pada penduduk desaku seperti penduduk ibu kota. Pasti menyenangkan melihat mereka semua berlarian keluar rumah dan menyambut datangnya hujan yang telah dinanti selama dua tahun terakhir.
Hujan mengguyur Shasenka mulai dari siang kemarin, hingga sekarang. Sesekali ada jeda, tetapi itu tak lama. Air akan kembali turun dari awan-awan gelap yang menaungi Shasenka. Karena pencahayaan yang kurang baik, lilin-lilin maupun lampu minyak segera dihidupkan di setiap sudut rumah, tak terkecuali di ruang jahit yang sedang kutempati bersama Aminirta dan Nyonya Suani.
Kami sedang membuat pakaian untuk para pelayan, yang nantinya akan dibagikan saat tahun baru. Sejauh ini, sudah ada tiga setel pakaian yang selesai kusulam. Berbeda dari gaun pelayan perempuan, pakaian lelaki cukup disulam di bagian lipitan pakaian. Saat sedang memusatkan perhatian pada gaun yang sedang kusulam, suara gaduh terdengar dari luar ruang jahit.
"Nyonya, Nyonya, Nyonya!" Seruan itu mengalihkan perhatianku, Nyonya Suani, dan Aminirta.
Dua pelayan muda seumuran Aminirta memasuki ruang jahit dengan membawa setumpuk kain dari berbagai jenis dan warna. Namun, yang paling menarik adalah ekspresi mereka yang terlihat pucat, kalut dan juga gugup.
Joori—pelayan berkepang satu segera meletakkan kain yang dibawanya ke salah satu kursi panjang yang dipinggirkan di dekat jendela. Sementara Muena—si pelayan muda yang rambutnya dikuncir dua, bergegas menutup pintu ruang jahit sebelum menghadap Nyonya Suani.
"Kalian ini kenapa?" Nyonya Suani berhenti menyulam.
(26 Agustus 2018)
----------------------
Note:
Akhirnyaaaa.... part ini berhasil ditulis. Membayangkannya mudah, tetapi menuangkannya dalam bentuk kata-kata ternyata tidak semudah seperti yang saya pikirkan. Setelah beberapa kali ganti adegan dan kalimat, karena merasa nggak sreg dengan isinya, akhirnya jadilah satu bab cerita yang lumayan panjang.
Saya harap, part ini mengobati rasa penasaran kalian untuk kelanjutannya. Jangan lupa, saran, vote, dan komentarnya. Oh, ya... dan ada satu gambar imut yang dikirimkan oleh Ryururiver mengenai sosok Kestha, si kucing yang jadi bawahan Shasenkai. :D
Berikut penampakannya~~
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Update (Sabtu, 5 April 2025)
Mulai bulan ini saya akan pindah lapak, begitu juga dengan cerita-cerita saya. Sengaja saya sisakan sebagian cerita untuk menunjukkan kapan cerita saya pertama kali ditulis di sini. Terima kasih~~