Kebun di depanku tidak jauh berbeda dengan kebun-kebun lain yang ada di desa Shamasinai, berbentuk kotak memanjang yang sebagian besar tanahnya mengerak karena panas dan kurang air. Luasnya bahkan masih kalah dengan kebun milik tetangga dekatku, tetapi... keistimewaan kebun ini bukan pada luasnya, melainkan kedekatannya pada sumber mata air.
Saluran irigasi memang dibuat di seluruh bagian kebun. Setiap kali ada kebun dibuka, pasti saluran irigasi akan dibuat ditepiannya untuk memenuhi kebutuhan air. Namun, laju air yang datang dari sumber mata air, yaitu sungai Amuryan, semakin melambat dari waktu ke waktu karena kemarau panjang, sehingga air tak menjangkau kebun yang letaknya terlalu jauh dari sumber mata air.
Kebun ini memang terlihat sedikit kekeringan, tetapi tanaman yang tumbuh di atasnya tampak hijau dan segar, walau tidak gemuk, tanda bahwa selama ini dirawat dengan baik. Ini... benar-benar hadiah yang sangat besar.
"Saya... merasa tidak pantas mendapatkan ini," Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak merasa sungkan saat tahu bahwa dua kebun milik tetanggaku telah dibeli Tuan Shui dan diberikan pada keluarga kami. "Ini terlalu banyak."
Iksook Inarha yang menemaniku melihat lahan yang diberikan Tuan Shui hanya mengulas senyum maklum. Mungkin beliau sudah mengira aku akan mengatakan hal ini.
"Kain, perbaikan rumah, tabib dari kota, lalu perhiasan...," Aku teringat barang-barang yang kini menumpuk di dalam rumah Iksook Inarha. "Semua itu rasanya sudah cukup banyak. Ditambah lahan pertanian ini, saya merasa seperti orang yang tidak tahu diri."
"Aku bisa mengerti, kenapa kau segan menerima semua pemberiannya. Namun, aku juga memahami, kenapa Jenderal memberikan semua ini padamu," Iksook Inarha menatap hamparan tanaman hijau yang ada di depannya. Angin bertiup sepoi-sepoi, menggerakkan daun-daun muda di cabang-cabang tanaman yang kurus. Cuaca hari ini cerah dan tidak terlalu panas, sehingga menyenangkan untuk dipakai beraktivitas di luar rumah.
"Kenapa Jenderal memberikan ini pada saya?" Aku bertanya sambil mengusap lengan kananku yang masih dibalut perban. Walau Ishaara Amaria mengatakan lukaku membaik, tetapi aku tidak boleh menggerakkannya terlalu sering. Beliau sengaja membebatnya dan menggantung tangan kananku supaya aku tidak banyak menggunakannya.
"Karena kau telah menyelamatkan nyawanya," jawab Iksook Inarha.
(14 Januari 2018)
Note:
Terima kasih karena mau menunggu kelanjutan The Conquered Throne. Maafkan saya, karena baru bisa update sekarang. Saya baru longgar akhir-akhir ini. Bulan kemarin benar-benar dihajar sama kerjaan. Berangkat pagi, pulang tengah malam, sampe badan remuk rasanya karena tiap hari lembur terus.
Nah..., apa kalian mulai merasakan detik-detik perpindahan konflik?
Setelah ini, saya berharap bisa membuat Shui makin nelangsa dan Sheya tambah tertekan. *Muahahaha* #modejahat
Apa yang terjadi ke depannya? Kenapa Shui dan Sheya bisa menikah? Apa Sheya akan mencintai Shui dan Shui akan mencintainya juga?
Mari kita nantikan bersama-sama.... *Dilempar martabak*
(Saya pun belum menulis kelanjutannya, jadi ikut penasaran dengan masa depan mereka nanti *ngahahah*)
Bubye..., sampai jumpa di chapter berikutnya...
Update (Sabtu, 5 April 2025)
Mulai bulan ini saya akan pindah lapak, begitu juga dengan cerita-cerita saya
KAMU SEDANG MEMBACA
The Conquered Throne
FantasySeorang Jenderal Kekaisaran menikahi gadis desa yang tinggal di perbatasan. Tidak ada senyum, tidak ada kebahagiaan, dan hanya ada rasa sakit. Mampukah keduanya bertahan dalam pernikahan tersebut? Atau... Bisakah mereka menyelami perasaan masing-mas...
