Haiii.... I'm back!
Maaf udah hiatus lama banget. Akhir tahun kemarin memang lebih rame dari pada tahun sebelumnya. Hampir tiap hari berangkat jam 7 pagi, pulang jam 1 2 malem. Lebih sebelnya lagi, udah direwangi lembur, kerjaan masih belum tuntas. Selesai tapi nggak tuntas. Itu rasa ngganjel banget.
Dan awal tahun ini harus segera setor rekapan dari pekerjaan yang lama. Kadang.... rasanya males. :))
Nah, hayuk mulai babak baru dalam kehidupan Shui dan Sheya. Saya harap kalian suka dengan chapter ini. :D
PERINGATAN : Mohon chapter ini dibaca dan dinikmati secara bijak. Bila ada yang merasa belum cukup umur, silakan lewati saja chapter ini.
------------------------------
"Seharusnya Tuan tersenyum saat ini," komentar Mahanan, yang membantunya berganti pakaian di kamarnya sendiri.
Kebiasaan dalam upacara pernikahan dalam keluarga bangsawan sedikit berbeda dari keluarga biasa. Bila pasangan dari keluarga biasa langsung dipertemukan dalam satu kamar setelah pesta pernikahan, tetapi tidak dengan mereka yang dari keluarga menengah ke atas. Hal ini dikarenakan biasanya pasangan suami istri memiliki kamar yang berbeda, sehingga kamar yang dipersiapkan untuk mereka bertemu pun berbeda-beda. Apalagi lelaki dari golongan ini bisa memiliki lebih dari satu istri.
"Pasangan suami-istri memang seharusnya berbahagia atas pernikahan mereka," Shui mengenakan jubah biru gelap yang telah disiapkan Mahanan. "Namun aku lelah karena harus tersenyum terus-menerus di depan orang."
Pesta telah usai beberapa jam yang lalu, tetapi Shui masih merasa penat meski telah beristirahat selama beberapa saat. Padahal, sebentar lagi dia harus melanjutkan ritual pernikahan yang paling merisaukan. Jika hal tersebut dilakukan tanpa ada ikatan pernikahan dan bukan Sheya orangnya, kemungkinan Shui tidak akan terbebani seperti ini. Namun, karena yang akan ditemuinya adalah istrinya dan wanita itu adalah Sheya, Shui merasa perlu berhati-hati.
"Jika Tuan keluar dengan ekspresi mendung begitu, para pelayan akan mengira Tuan tidak menyukai Nona Sheya. Bukankah itu tidak bagus? Mereka bisa bersikap kurang ajar padanya."
Shui tersenyum letih. "Bukankah ada dirimu dan Ibu yang akan melindunginya?"
Pernyataan tersebut membungkam Mahanan. Lelaki paruh baya berambut hitam pendek dan bermata biru gelap itu tahu, Tuannya tidak ingin dibantah lagi. Shui hanya ingin beristirahat sejenak, setelah hari menjemukkan yang mengharuskannya mengenakan topeng kebahagiaan.
"Saya yakin, Tuan telah membuat pilihan yang bijak." Mahanan kembali berujar, "Tuan pasti mampu menghadapinya."
(12 Januari 2019)
----------------------------
Note:
Saya nulis ini sambil keder juga. Beberapa kali tulis ulang karena ragu, apakah penyampaiannya sudah benar atau belum, apa tidak senonoh, ataukah masih dalam penyampaian yang halus.
Berharap kalau chapter kayak gini nggak banyak, tapi saya nggak yakin. :))
Jangan lupa vote dan komennya yaaa~~~
Update (Sabtu, 5 April 2025)
Mulai bulan ini saya akan pindah lapak, begitu juga dengan cerita-cerita saya. Sengaja saya sisakan sebagian cerita untuk menunjukkan kapan cerita saya pertama kali ditulis di sini. Terima kasih~~
KAMU SEDANG MEMBACA
The Conquered Throne
FantasySeorang Jenderal Kekaisaran menikahi gadis desa yang tinggal di perbatasan. Tidak ada senyum, tidak ada kebahagiaan, dan hanya ada rasa sakit. Mampukah keduanya bertahan dalam pernikahan tersebut? Atau... Bisakah mereka menyelami perasaan masing-mas...
