Shui tahu ada yang tidak beres semenjak ia datang ke desa ini. Ketidakhadiran Sheya dalam penyambutannya, permintaan Inarha supaya dia menginap di desa ini, dan kegugupan Junuran yang tidak kentara. Ada yang mereka sembunyikan darinya dan Shui baru mengetahuinya ketika memasuki rumah Sheya yang baru.
Setelah meminta orang-orang yang mendampinginya pergi ke tempat pesta, Shui memasuki rumah bersama Junuran, Sheya, Inarha, Ornuk, dan Kokhan. Pertama kali menginjakkan kaki ke sana, yang dia lihat adalah ruang tamu sederhana beralaskan permadani cokelat tanah. Tidak ada yang aneh dengan ruangan tersebut.
Namun, saat memasuki ruang tengah, Shui melihat perbedaan yang sangat mencolok. Pajangan-pajangan yang terlalu ramai, permadani yang warnanya tidak sesuai dengan kain-kain yang tergantung di dinding, serta perabotan-perabotan yang tampak baru padahal bila diperhatikan dengan baik, itu seperti benda-benda usang yang ditata ulang serta dibersihkan dengan terburu-buru. Ke mana larinya semua uang yang ia berikan untuk pembangunan rumah ini?
Shui memeriksa ruangan satu per satu tanpa banyak bicara, membuat suasana mencekam di antara orang-orang yang menunggu komentarnya. Shorya muncul di sisinya, memandangi setiap sudut ruangan dengan awas. Ada sesuatu dalam rumah ini yang menarik perhatiannya, bukan hal yang asing dan terasa sangat familier. Sebelumnya, rumah ini terasa hangat dan menenangkan. Energi yang berpusar di dalamnya tidak seberat saat ini.
Ada sesuatu yang gelap dan berbahaya tertinggal di sini. Dan itu membuat Shorya berusaha lebih keras mengingat kembali di mana dia pernah merasakan energi ini.
(11 April 2018)
---------------
Coba tebak, yang di mulmed itu siapa? *siul*
Kayaknya kalian tahu jawabannya ya~
Pasangan mulmed di atas tuh, mirip seperti Sheya dan Junuran dalam imajinasi saya. Waktu ngelihat gambar itu, saya langsung mbatin, 'Laaaah, Iki lho.... visualisasi Sheya karo Junuran!'
Wkwkwk... udah lama sebenarnya pengen unggah lagu itu. Tapi momen sama ceritanya nggak pas. Baru bagian ini yang rasanya agak-agak pas.
Nah... dengan begini, mari kita memasuki bagian inti dari The Conquered Throne.
Bab ini saya rasa bab paling penting yang menjabarkan musuh Shui dan Sheya kelak. Jadi jangan di-skip ;)
Dan saya cuma mau ngasih spoiler besar-besaran sih, kalau saya nggak berniat bikin cerita ini sad ending. Hidup di real life udah susah, paling enggak hidup di dunia novel yang seneng, dunk. Iye kan? Impian saya tuh, bisa bikin romance fantasy yang happy ending *malu*
Semoga aja terwujud . *smirk*
Mulanya saya cuma berniat bikin cerita ini sampai 30 bab aja. Nggak tahunya malah lebih. Saya minta maaf untuk ini. Gara-gara keasyikan mbangun emosi sama karakterisasi Sheya dan Shui, jadinya malah kebablasan. :))
Jangan lupa vote dan komen cerita ini ya. Kalau ada yang kurang puas, katakan aja :D
Bubye~
Update (Sabtu, 5 April 2025)
Mulai bulan ini saya akan pindah lapak, begitu juga dengan cerita-cerita saya. Sengaja saya sisakan sebagian cerita untuk menunjukkan kapan cerita saya pertama kali ditulis di sini. Terima kasih~~
KAMU SEDANG MEMBACA
The Conquered Throne
FantasíaSeorang Jenderal Kekaisaran menikahi gadis desa yang tinggal di perbatasan. Tidak ada senyum, tidak ada kebahagiaan, dan hanya ada rasa sakit. Mampukah keduanya bertahan dalam pernikahan tersebut? Atau... Bisakah mereka menyelami perasaan masing-mas...
