Hari berikutnya, wanita itu datang kembali sesuai janji. Kali ini dia tak hanya membawa keempat anak buahnya, melainkan juga sebuah kereta kuda, lengkap bersama sang kusir. Penampilannya masih sama seperti kemarin, mengenakan seragam hitam di balik jubah gelap panjang dengan tudung lebar, serta keempat prajurit lain yang menutup separuh wajahnya dengan kain hitam.
Dengan gaya berpakaian seperti itu serta aura tajam yang kurang menyenangkan, mereka terlihat seperti pembunuh berdarah dingin daripada utusan perdana menteri. Ekspresi Jun langsung berubah buruk ketika mereka datang. Dia memang tidak mengatakan apa-apa, tetapi dari sikapnya, aku yakin Jun tahu sesuatu tentang mereka.
Kami menunggu di halaman rumah Shamasinaike Ornuk, di bawah tatapan prajurit-prajurit Jun yang mengawasi dari markas. Para penduduk yang tadinya berkumpul, karena heran melihat kami berada di sana, sudah membubarkan diri dan diminta melanjutkan aktivitas seperti biasa.
Wanita itu turun dari atas kuda, kemudian mendatangi kami dengan tenang, diikuti keempat prajurit yang lain. Sesaat, dia sempat bertukar tatapan tajam dengan Jun. Ada semacam ketidaksenangan tersirat yang tampak dari keduanya. Hubungan tidak baik antara jenderal dan perdana menteri sepertinya mempengaruhi anak buah mereka pula. Setelah memberikan salam pada Iksook Inarha dan Shamasinaike Ornuk, wanita itu beralih menatapku.
"Kupikir, aku harus memanggilmu seperti kemarin. Bagus kalau kau sudah siap. Kita bisa secepatnya berangkat setelah kau berpamitan pada keluargamu," katanya dingin.
Aku mengangguk pelan, lantas menoleh ke arah Jun yang berdiri di sampingku. Tatapan Jun masih tertuju pada wanita itu, sehingga aku terpaksa menarik lengan seragamnya supaya dia menoleh padaku.
"Sampai jumpa lagi, Jun," pamitku.
Tanpa diduga dia meraihku dalam pelukannya, hingga membuat Shamasinaike Ornuk terkesiap dan Iksook Inarha terkekeh geli. Cuma adik-adikku yang terpana menatap keberanian calon kakak ipar mereka memelukku.
(27 Mei 2018)
-----------------------------------
note:
Heee.... maaf minggu kemarin enggak update. Saya ngerjain cerita lain minggu kemarin, sampai nggak fokus buat lanjutin TCT.
Entah kenapa, godaan buat nyelingkuhin cerita ini gede banget, sampai beberapa kali saya nulis outline2 cerita-cerita baru. Duh... rasanya ingin publish juga beberapa outline yang sudah mbentuk cerita, tapi kalau udah publish, pasti konsekuensinya masti ditamatin.
Lha satu cerita ini aja belum tamat, masak mau nambah cerita lain. Saya sadar diri sih, kalau kemampuan multitasking saya dalam membuat beberapa cerita berbarengan tuh lemah banget.
Yang Master's Decision aja belum selesai2 sampai sekarang =))
Sampai jumpa di chapter selanjutnya, jangan lupa share, voment, dan menikmati cerita ini ya ;)
Chapter depan adalah saatnya perkenalan dengan tokoh lama yang baru :D:D
Update (Sabtu, 5 April 2025)
Mulai bulan ini saya akan pindah lapak, begitu juga dengan cerita-cerita saya. Sengaja saya sisakan sebagian cerita untuk menunjukkan kapan cerita saya pertama kali ditulis di sini. Terima kasih~~
KAMU SEDANG MEMBACA
The Conquered Throne
FantasiaSeorang Jenderal Kekaisaran menikahi gadis desa yang tinggal di perbatasan. Tidak ada senyum, tidak ada kebahagiaan, dan hanya ada rasa sakit. Mampukah keduanya bertahan dalam pernikahan tersebut? Atau... Bisakah mereka menyelami perasaan masing-mas...
