Hujan darah, hujan darah, hujan darah sialan!
Rheiraka membanting mahkotanya tanpa memedulikan dua permata terlepas akibat perbuatannya barusan. Belum cukup membanting mahkota, dia pun mencampakkan jubah kebesarannya ke lantai, kemudian membanting semua barang-barang di dalam ruang kerjanya. Kemarahannya membara seperti kobaran api, membuat abdi-abdinya menggigil ketakutan. Tempramen Rheiraka memang buruk, tetapi yang lebih buruk adalah menghadapi kemurkaannya.
Kepala Kasim yang berupaya membujuknya pun mendapat satu lemparan vas bunga. Untunglah dia bisa menghindar, sehingga tidak perlu mendapat luka serius. Akhirnya, setelah memungut mahkota serta jubah yang ditinggalkan Rheiraka, sang kepala kasim pun terbirit-birit keluar dari ruang kerja bersama kepala pengawal kerajaan. Mereka menunggu di luar ruang kerja, membiarkan kaisar mereka bersumpah-serapah seperti orang gila sambil memecahkan barang-barang.
(22 September 2018)
---------------------------
Note:
Kelihatannya wattpad sudah nggak bermasalah dengan kolom komentarnya ya?
Kemarin saya bener-bener pundung, karena komentar-komentar saya sama sekali nggak masuk dan kalau pun kelihatan, itu pun nyempil setelah sekian detik (dan hanya bisa dilihat dari lepi), kan sebel. Semoga aja kolom komentarnya nggak bermasalah lagi.
Nah, bagaimana dengan bab kali ini?
Jumpa di bab selanjutnya dari sudut pandang Shui.
Jangan lupa vote dan komentarnya~~ ;)
Update (Sabtu, 5 April 2025)
Mulai bulan ini saya akan pindah lapak, begitu juga dengan cerita-cerita saya. Sengaja saya sisakan sebagian cerita untuk menunjukkan kapan cerita saya pertama kali ditulis di sini. Terima kasih~~
KAMU SEDANG MEMBACA
The Conquered Throne
FantasySeorang Jenderal Kekaisaran menikahi gadis desa yang tinggal di perbatasan. Tidak ada senyum, tidak ada kebahagiaan, dan hanya ada rasa sakit. Mampukah keduanya bertahan dalam pernikahan tersebut? Atau... Bisakah mereka menyelami perasaan masing-mas...
