Shania menghempaskan dirinya ke atas sofa. Boby sudah tertidur pulas dan ia yang tak bisa memejamkan mata karna sulit tidur, memilih bangkit lalu mengambil air minum di dapur. Shania membawanya menuju ruang keluarga dan menatap nanar layar televisi yang tak hidup. Hanya ada cahaya samar dari lampu dinding, selainnya adalah hitam, gelap seperti warna TV itu.
Ini sudah hampir tengah malam.
Mengingat pertengkarannya dengan Gracia barusan, membuat Shania tak sadar jika pikirannya kini telah terseret ke dunia masa lalu. Ia yang tak tahu harus merespon bagaimana dengan permintaan pacar adiknya kala itu.
"Dia, Gue minta adek lo."
".....???"
"Satu permintaan aja. Gue minta Gracia." Tegas perempuan itu kepadanya. Dengan ekspresi kelewat serius.
"A-apa? Kenapa? Gak mau lo apa-apain kan adek gue?" Parno Shania.
Biarpun dia emang mau ngasih Shani apa aja, tetep kan, dia harus waspada. Apalagi yang Shani minta itu adiknya. Buat apa coba? Kalau buat mau disiksa, mendingan Shania menyerahkan dirinya saja. Daripada harus mengorbankan adiknya yang tak tahu apa-apa mengenai perjanjian ini.
Jangan sampai Shania dicekam rasa bersalah seumur hidup karena lelucon seperti itu.
"Gue gak mau ngapa-ngapain dia. Apaan sih, gue cuma..."
"Cuma apa?" Shania menyipitkan matanya, pertanda curiga.
"Gue suka sama dia." Jawab Shani cepat.
Shania speechless untuk yang kedua kalinya." ... What?"
"Itu sebabnya kenapa gue udah kenal lo dari awal."
"Ya apa nyambungnya sih? Lo kenal gue sejak gue labrak Elaine di GI, kan? Lo yang bilang sendiri, kenapa sekarang lo bawa-bawa adek gue? Lo bahkan baru kenal sama dia!"
"Kata siapa gue baru kenal sama dia?" Sewot Shani. Ia sudah mulai merasa kesal dituduh-tuduh seperti itu.
"Maksudnya?" Shania tidak mengerti, Shani ini, beneran serius apa cuman main-main bilang suka sama adiknya?
"Ini pengakuan gue. Lo harus tau, gue udah kenal sama lo sebelum peristiwa di GI. Kenal dari mana? Dari instagramnya dia," Shani menunjuk Gracia dengan kedikan dari dagunya. "Gue tau dia dari mana? Dari instagramnya Okta. Gue tau gue creepy, nge-stalk gak jelas kayak gitu. Tapi mau gimana lagi? Gue gak mungkin tiba-tiba nyamperin dan bakalan lebih keliatan creepy lagi kalau gue malah jadi sok kenal di depan dia."
"Jadi intinya adalah..." Shania menaikkan kedua alisnya.
"Jadi intinya adalah, gue suka sama adek lo. Apalagi?"
Shania menyeringai. Sekarang ia baru ngeh dengan semua penjelasan Shani barusan. "Jadi intinya adalah," Shania bersedekap. "Lo mau gue jadi calon kakak ipar lo."
"Harus ya dari sekarang gue latihan manggil lo kakak juga? Kak Shania gitu?"
Shania menggeleng. "Gak. Aneh aja, gak usah deh. Risih. Begini aja, yang penting lo tetep menghormati gue. Hah. Gak nyangka gue takdir bisa selucu ini."
"Lo mau bilang apa sama dia? Gue yang jadi pembunuh, gitu?"
Shania merasa tidak nyaman dengan pertanyaan Shani barusan. "Oh iya yah. Gue harus bilang apa? Lo bunuh orang itu juga kenapa sih?"
"Bukan gue yang udah bunuh mereka semua. Tapi Alva." Kata Shani dengan suara bergetar.
Dari sinilah Shania mulai merasa ada yang aneh dengan kepribadian Shani. Tapi ia mencoba menepis hal itu. Bagaimanapun, Shani adalah orang yang telah menolongnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Pacar Shani ✔
Fanfiction[COMPLETED] "Gre, she loves you" "Who?" "Kalva Shani Indira. Siapa lagi?" "So.... What? Rasa suka aku udah hilang semenjak aku tahu siapa Kakak yang sebenarnya" ### Menjadi pacar Shani mulanya membuat Gracia hanya merasa muak. Tidak sampai ia tahu j...
