Part 27

11.9K 959 62
                                        

Malam ini, Shani melampiaskan semua perasaannya dengan memukul sesuatu yang berkali-kali memantul dan berbalik kearahnya. Itu semua tak lebih baik dari euforia yang ia rasakan ketika memukul sesuatu yang nyata dan hidup, atau lebih tepatnya adalah memukul seseorang kalau bisa sampai mati. Jika saja boleh, Shani ingin target itu adalah manusia-manusia yang memuakkan, terutama Dyo.

Seolah-olah semua teredam menjadi satu. Bercampur dengan rasa sakit dan lelah yang kini telah mau sampai puncak. Segala hal ada batasnya, bukan berarti semangat untuk berjuang -kepada Gracia- itu tidak.

Shani juga manusia. Dia juga punya hati. Tapi, kenapa keinginan berlawanan dengan realita dari kenyataan? Takdir berbicara, tak sesuai dengan apa yang diharapkannya. Dia mencintai Gracia, Gracia selalu membela Dyo. Terlihat mencintai Dyo disaat yang sama Dyo malah berbalik mencintainya. Mencurahkan sesuatu yang tidak dinginkannya, melainkan menginginkan hal yang sama didapat dari orang yang berbeda.

Apa bagusnya dari itu semua?

Bugh. Bugh. Bugh.

Tubuh Shani menegang, dia mengerang sebelum kembali membuahkan satu pukulan yang keras. Lagi-lagi perasaan sakit seolah menyelimuti seluruh suasana. Yang ada hanya gelap, tersisa warna abu, yang tak ada bedanya dengan hitam yang selama ini mewarnai dunianya.

Adanya Gracia membuat suatu graduasi, yang membuat apa yang hidup menjadi semakin 'hidup'. Ia pernah tidak menyadari tentang keindahan apa yang kan terjadi jika ia sadar soal kehidupan, namun Gracia menyadarkannya. Tanpa gadis itu menyadari seberapa besar pengaruh dirinya terhadap Shani.

Shani menghentikan pergerakannya untuk mengambil nafas, meski dengan mulut terbuka untuk mengambil oksigen sebanyak-banyaknya, kedua tangannya seketika memegang lutut. Dan keringat berjatuhan mengenai lantai. Shani memejamkan kedua mata selama beberapa saat. Membiarkan pikirannya terus terpenuhi.

Kalian paham kan?

Ini bukan masalah tentang menyerah atau tidak. Sekali kamu jatuh cinta, maka akan percuma bila itu bukan bersamanya.

Kenapa Shani bisa jatuh cinta kepada Gracia? Dia pun juga penasaran akan hal itu.

Akan tetapi, hal itu tidak sepenuhnya menyakitkan.

Itulah kenapa dia tak sanggup berpikir : 'Bahwa lebih baik diriku tak pernah bertemu dengannya.'

Dan hal itu, bagaimana bilangnya ya? Mungkin hal itu yang menjadikannya semakin rumit.

Shani kembali membuka mata untuk menegakkan diri. Ia telah melepaskan handwraps dan mengambil nafas dalam-dalam. Menikmati perasaan cinta dan rasa sakit yang dapat membuatnya semakin hidup.

Sekalipun dia akan terluka, dia akan terus mengharapkannya.

***

Drrrrttttttttt Drrrrrrrrrttttttttt

Shani berjalan mendekat menuju tas yang ia taruh di atas bangku yang berada tak jauh dari tempatnya dan mengernyit saat melihat nama Gracia tertera di sana.

Ada apa? Malam-malam begini?

Shani meletakkan ponsel di telinganya. Mendengar satu dua patah kata keluar dari mulut Gracia, dan dia mulai paham akan sesuatu. Sesuatu yang bergerak sangat halus dan licin di belakangnya.

Pacar Shani ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang