"Dari mana lo tau gue Shania? Dari mana lo tau dia cowok gue?" Tanya Shania saat ia melihat Boby yang tengah duduk di tempatnya duduk tadi, di depan gerobak martabak yang sama. Boby tidak melihatnya, Boby hanya memandang lurus ke depan ke seberang jalan, mungkin ke mobilnya. Boby masih menunggu kapan Shania akan pulang dan keluar dari tempat persembuanyiannya untuk lari dari Boby.
"Gue nonton drama kalian tadi di GI. Lo cocok jadi artis Korea."
Shania mungkin sudah gila, bukannya merasa terhina dan tersindir, dia malah tersenyum.
"Ayo gue bawa lo ke dia." Alva mengambil batu, melemparnya ke arah Boby. Shoot. Mengenai kepalanya. "Bob, ini bukan, yang lo cari-cari dari tadi?" Alva menunjuk Shania dengan jempolnya. Memanggil Boby seolah sudah kenal lama.
Boby melotot kaget, segera mendatangi Shania secepat yang ia mampu. "Shania? Lo kenapa? Lo abis dipukulin sama dia ya?" Tanyanya melirik tajam Alva yang terlihat santai.
Shania menggeleng lemah, mantalnya masih down. Ekspresi mukanya keliatan terharu. Antara senang dan sedih sama peristiwa tadi.
Boby mengepalkan tangannya kuat-kuat. Dibawanya Shania ke belakang punggungnya, seolah memberi kesan ingin melindungi. "Dari mana lo tahu nama gue? Dari mana lo bisa kenal sama gue? Gue sama sekali gak tau siapa lo! Kenapa lo yang bawa Shania dengan kondisi begini ke gue?"
Alva menahan tawa geli keluar dari mulutnya. "Lain kali, kalau mau bikin sinetron itu jangan lupa kamera, kru, sama sutradara. Kalian ikut drama Korea aja tuh, yang sering adek gue tonton di laptopnya. Nanti, kalau kalian yang main, gue janji bakalan nonton. Tapi sorry, gue gak janji bakalan ikut baper. Gue gak cengeng kayak Shania soalnya."
Boby melirik Shania yang yang malah makin lebar senyumnya. Ini yang salah tuh telinga dan penglihatannya apa Shania-nya ya?
"Apa yang lo mau, Alva? Gue janji bakalan kasih apa aja. Lo udah jadi penyelamat buat gue. Gue harus tepatin janji gue. Gue mau balas budi, biarin gue giliran jadi penyelamat buat lo." Shania melihat Alva seolah dia adalah malaikat yang sudah dikirim oleh Tuhan untuk dirinya.
"Shania! Apa maksud kamu janji bakalan ngasih apa aja?" Tegur Boby, menekankan pada kalimat 'apa aja'-nya.
Alva menaikkan kedua alisnya. "Tawaran yang menggiurkan. Gue hargai itu, tapi, gue gak lagi butuh apa-apa sekarang. Mungkin nanti, suatu saat, kalau gue butuh sesuatu gue bisa nyariin lo." Katanya sambil mengendikkan bahu.
Alva mengalihkan tatapannya pada Boby, "Lo jaga cewek lo baek-baek. Beliin dia martabak, dua bungkus. Terus anterin dia selamat sampai rumah. Mampir ke apotek beli obat. Obatin bibirnya sama lehernya. Lebam di pipi bisa dikasih es. Dan, jangan berantem lagi di depan umum kalau lo gak mau semua privasi lo diketahui banyak orang. Jangan salahin gue yang dengar semua perdebatan lo sama Elaine karna lo juga udah jadi tontonan. Berasa lihat sinetron kejar tayang secara LIVE. Makasih karna udah bikin gue merasa terhibur seharian ini," ledeknya sambil meninju bahu Boby yang keliatan begitu kesal dengan sikap Alva.
"Dan lo, Shania." Tunjuk Alva. "Dengerin dulu penjelasan cowok lo, gak usah cengeng jadi cewek. Gue terima tawaran lo, tapi gak mau gue gunakan sekarang. Ntar aja pas gue butuh. Dan, jangan sok-sok an kalau gak mau dapet masalah yang lebih gede lagi. Ponsel lo hancur, suruh beliin Boby ganti sebagai syarat buat balikan lagi."
Satu pesan masuk , ponsel Alva bergetar dari dalam saku. Setelah membaca pesan tersebut, Alva melirik jam di pergelangan tangannya. "Kayaknya gue harus pamit sekarang deh. Gue pergi dulu, semoga lo berdua bisa langgeng. Bye."
Alva berjalan pergi, saat Shania berteriak "MAKASIH, ALVA!" Dia hanya melambaikan tangannya tanpa menoleh ke belakang.
"Songong banget sih tuh anak. Mukanya kayak minta ditonjok. Untung dia cewek. Tipikal remaja sombong, sok gaul, sok cantik, sok iye, sok keren, sok kece. Untung masa gue seumuran dia, gue masih waras."
KAMU SEDANG MEMBACA
Pacar Shani ✔
Fanfiction[COMPLETED] "Gre, she loves you" "Who?" "Kalva Shani Indira. Siapa lagi?" "So.... What? Rasa suka aku udah hilang semenjak aku tahu siapa Kakak yang sebenarnya" ### Menjadi pacar Shani mulanya membuat Gracia hanya merasa muak. Tidak sampai ia tahu j...
