Part 10

18.3K 1.1K 55
                                        

Saat mesin mobil sudah berhenti dan Shani telah memarkirkan mobilnya, Gracia yang ceritanya mau lari dari mobil ke depan resto, di cegah Shani pas buka pintu. "Jangan keluar dulu."

Gracia melihat Shani mengambil payung yang katanya tadi dipinjam temannya di belakang, terus dia keluar sambil membuka payung itu dan berjalan memutar membukakan pintu untuk Gracia. Dia cuma bawa payung aja, udah keliatan berwibawa. Kapan sih, dia gak bisa gak keren pas dipandang?

Hujan turun begitu deras. Itu sebabnya Gracia harus mendekatkan jarak pada Shani. Bahunya sudah agak basah karena tertetesi air dari payung yang gak lumayan gede itu. Payungnya kayak lebih cocok buat satu orang aja sih. "Yuk,"

Dengan kikuk Gracia menuruti ajakan Shani. Sesampainya di teras Resto, Shani meletakkan payungnya di tempat yang sudah disediakan. Tangan Shani bergerak lebih dulu untuk membuka pintu, membiarkan Gracia masuk, kemudian baru dirinya.

Seandainya saja Shani tidak bersikap se-romantis itu sedari tadi, pasti Gracia gak mudah juga buat suka. Tapi, semua kondisi berjalan terbalik dengan apa sebenarnya terjadi saat ini.

Gracia mengikuti langkah Shani yang membawanya kayak ke tempat VIP. Buseet, orang kaya. Begitu pikirnya. Ia tidak terlalu memperhatikan saat para pegawai memberi hormat ketika mereka berpapasan dengan Shani. Ia terlalu sibuk mengagumi gaya unik tapi menarik dari tema resto yang dipilih Shani ini. Pinter juga dia milih tempat makan, bagus tempatnya. Batinnya.

Saat Shani duduk di sofa, Gracia juga ikut duduk di sampingnya. "Mau pesen apa?" Tanya Shani sambil memperlihatkan buku menu. Gracia bukan orang yang gaul. Gimana mau gaul, belajar gaul sama temen aja dia selalu gak dibolehin pergi sepulang sekolah buat hang out bareng temen. Selalu saat pulang sekolah, mobil Kak Shania sudah ada di depannya, dan itu bisa jadi membuatnya sangat kesal, menyebalkan. "Samain sama Kakak aja," Katanya dengan sopan. Ntar pas pesan sendiri takut khilaf, kemahalan gimana? Kan gak enak, orang yang bayar bukan dia. Makan ditraktir ini..

Mereka hanya diam, bingung memulai percakapan sampai saat pelayan membawakan pesananannya. Keliatan mahal sih, sup daging sapi gitu. Cocok buat cuaca dingin kayak gini. Minumannya ia dipesankan coklat hangat, tapi Shani pesan minum kopi hangat. Curang, tadi Gracia bilang kan disamain aja. Melihat ekspresi cemberut Gracia, Shani bisa menebak alasannya. "Jangan minum kopi. Kambuh ntar."

Gracia menaikkan kedua alisnya. "Tau dari mana aku gak boleh minum kopi?"

"Engg.."

"Dari Okta lagi, ya? Dia cerita apa aja sih?"

Shani hanya tersenyum simpul.

"Oh ya, nih gue pesenin juga air putih." Kata Shani sambil meletakkan sebotol air putih disamping makanannya.

Tau aja dia lebih suka minuman sehat itu. "Thanks."

Sambil makan, Gracia mengamati Shani yang sedang sibuk melihat ponsel. Ia mencuri lihat apa yang sedang Shani buka di ponselnya, chat-an sama pacarnya kah? Jangan bikin hati Gracia langsung hancur dan patah hati plis..

Gracia tersenyum saat ia melihat Shani hanya membuka e-mail, dan membalas beberapa e-mail lagi. Mungkin masalah pekerjaan, pikirnya. Ia yang sudah terlalu haus, mencoba membuka botol minuman itu. Susah juga, kok gak bisa dibuka ya? Segelnya udah gue buang kok.. Batin Gracia merasa gemas.

Ia sudah hampir tidak jadi meminum botol itu dan meletakkannya kembali ke atas meja, tidak saat Shani mengambilnya. Meski kedua matanya masih fokus pada smartphone yang kini ia letakkan di samping piring makannya guna mengecek beberapa e-mail yang belum ia baca, tapi kedua tangannya tetap cekatan membuka botol itu dengan mudah lalu meletakkannya tepat di hadapan Gracia yang lagi cengo.

Pacar Shani ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang