Sekali lagi, Gracia mencoba peruntungannya. Matanya mencoba melihat dengan tajam dan teliti. Mengecek keadaan di luar rumah yang malam ini tenang seperti biasa. Gracia menutup korden berwarna peach itu lalu melangkah mundur dari dekat jendela.
Matanya bergerak cepat menuju jam dinding yang terus berdetak di kamarnya. Pukul 7 malam. Masih terlalu awal. Kemudian ia menghela nafas begitu banyak dan menghembuskannya secara pelan-pelan. Mengusir rasa gugup.
Ia berbalik. Untuk menemukan dirinya tepat menghadap cermin besar dan panjang seukuran tubuhnya tuk melihat bagaimana penampilannya. Dress hitam selutut yang dipakainya dengan dandanan yang sederhana dan tidak mencolok. Tatanan rambut yang pas, terurai dengan gelombang yang indah di ujungnya. Gracia tersenyum miring. Tak ada yang dapat menghentikannya.
Sekalipun itu Shani.
"Go ready, Gre." Bisiknya sambil tersenyum. Mematut dirinya sekali lagi di depan cermin.
Dengan bersenandung ia berjalan menuruni tangga. Acara yang harus didatanginya sebenarnya baru akan dimulai satu jam lagi. Tapi, Gracia sangat bersemangat. Lagipula, ini semacam bentuk tindakan preventif yang nyata. Gracia sengaja mendahulukan waktu tuk bersiap-siap.
Sambil menenteng tas kecilnya yang berisi dompet dan ponsel, serta menenteng satu buah kotak yang berisi kado, Gracia melihat ke sekitar saat sudah sampai tangga terakhir. Ia menoleh ke kanan dan kiri seperti hendak menyebrang jalan raya. Tak ada tanda-tanda kehidupan dimana kakaknya sedang berada. Itu bagus, ia tak perlu mengarang alasan untuk sikapnya yang cenderung mencurigakan.
Ada alasan mengapa Gracia nekad seperti ini. Di beberapa waktu, Gracia pernah merasa terharu.
QueenFlower : Gue milih opsi yang kedua. Gue gak peduli.
GreVira31 : Lo yakin? Serius? Tapi ini party lo, lo gak papa jadi berantakan?
QueenFlower : Kalau itu memang harus ya gak papa. Que Sera-Sera, whatever will be, will be. Yang terjadi, terjadilah. Itu semua gak lebih buruk daripada sahabat gue gak dateng di perayaan hari spesial gue.
GreVira31 : :')
GreVira31 : Apa yang bakal lo lakuin kalau pacar gue beneran nekad?
QueenFlower : Tumben lo ngakuin dia.
Wah, virus haters buat Shani sepertinya tak hanya dia saja yang rasakan.
QueenFlower : Kita tinggal aja, kabur. Biarin party itu hancur. Dan gue tinggal nyulik lo, kemana aja. Malam ini lo harus ngabisin waktu sama gue. Kita gila-gilaan bareng. Seneng-seneng bareng. Dan, itu semua bakalan lebih seru daripada cuma nyanyi lagu happy birthday terus potong kue sebelum suap-suapan dia ntara banyak orang yang bertepuk tagan. So, are you ready?
GreVira31 : Agree.
GreVira31 : Yes 😎 Can't wait.
Gracia pikir, ia harus mulai mengendap-endap. Shania bisa jadi ada dimana-mana. Jadi Gre memutuskan untuk menenteng sepatu hak tingginya di tangan kirinya yang bebas. Bagus, sampai saat ini semua rencananya masih berjalan dengan baik.
Sayangnya ia tak memikirkan bagaimana rencana cadangan saat ia tahu jika rencana awal bisa saja terancam gagal. Gracia yang ceroboh dan tidak berpikir panjang.
Seperti saat Shania datang dari arah yang tak terduga dan menangkap dirinya. "Lo mau kemana Gre? Terus ngapain pakai acara jalan diam-diam gitu, mencurigakan tau gak."
Tak ada yang dapat Gre lakukan selain nyengir. "Ke party-nya Bunga dong."
Shania mengerutkan kening. "Jam segini? Lo lupa ya acaranya itu jam berapa?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Pacar Shani ✔
Fiksi Penggemar[COMPLETED] "Gre, she loves you" "Who?" "Kalva Shani Indira. Siapa lagi?" "So.... What? Rasa suka aku udah hilang semenjak aku tahu siapa Kakak yang sebenarnya" ### Menjadi pacar Shani mulanya membuat Gracia hanya merasa muak. Tidak sampai ia tahu j...
