Part 49

13.5K 984 198
                                        

"Ayo mati bareng gue, Gre"

Gracia terbungkam dengan kedua mata yang melotot lebar. Jadi, beginikah rasanya ketika orang yang kau cintai mengajakmu mati karena terlalu menderita untuk menjalani hidup? Tapi kenapa Shani harus menderita jika ia punya dirinya? Dia yang peduli dengan Shani, dia yang khawatir sekali dengan keadaan manusia putus asa itu, dia yang kini berusaha keras memutar kenop pintu namun hasilnya nihil. Pintu itu enggan terbuka karena dikunci dari dalam.

Ketika Gracia berdiam diri di depan pintu dengan tatapan nanar, ia memejamkan mata sejenak untuk berusaha menenangkan diri. Kemudian air mata itu meleleh dan meluncur di pipi. Tangis lirih yang tak tertahankan.

Apa yang harus dia lakukan?

Gracia mengambil ponsel, sengaja menghubungi si pengurung diri. Ia tau jika usahanya mungkin sia-sia. Tapi tak ada gunanya ia berteriak karena Shani pun seperti tuli untuk mendengarkannya. Sebelum ia ke sini mungkin sudah puluhan kali panggilan itu tak pernah terjawab. Dan pada kali ini pun sepertinya tidak menghasilkan sesuatu yang berbeda. Di percobaannya yang ke lima, Gracia menghela nafas panjang ketika Shani tak juga menerima panggilannya. Padahal samar-samar dari luar, Gre mendengar bunyi ponsel yang berteriak di kamar terus-menerus. Bunyi yang tak dihiraukan oleh si empunya.

Rasanya begitu aneh. Gre sudah mulai terbiasa dengan sikap Shani yang posesif, melebihi batas wajar. Namun sekarang, ia sangat abai. Sangat jauh. Sangat dingin. Sangat tak tersentuh.

"Ini gak adil." Kata Gre sambil menendang pintu kamar yang luar biasa terlihat menyebalkan di matanya. Pintu inilah yang menjadi penghalang dan batas yang seolah membuat Gre merasa kedekatannya dengan Shani seperti jarak antara bumi dan matahari. "Ada satu waktu dimana kamu terlihat sangat peduli sama aku. Di lain hari kamu bersikap begini dan tanpa kamu sadar itu sangat nyakitin hati aku. Apa-apaan ini?" Protes Gracia yang mulai tidak sabar dengan apa yang dihadapinya.

"Aku tau kamu ketakutan. Tapi aku juga! Semua orang merasa takut untuk hidup. Dunia memang mengerikan." Suara Gre yang awalnya penuh kemarahan kini telah berganti dengan nada memohon. Tidak hanya Shani yang merasa putus asa. "Buka pintunya."

Gracia mengira Shani adalah kehangatan, setidaknya dulu Shani memang seperti itu. Namun sekarang, dengannya ia dipeluk oleh dingin. Bisakah Gre bertahan untuk tidak menggigil?

Lagi-lagi, tidak ada jawaban. Hanya dering dari ponsel Gre yang memecahkan keheningan. Tertera di sana nama Shani dan ia pun menerima panggilan itu dengan nafas tercekat.

Tidak terdengar suara apapun selain nafas Shani yang memburu di telinga Gre, seperti habis dikejar mimpi buruk. Pelan sekali ucapan itu jika Gre tidak seksama mendengarkan.

"Selamatkan aku." Bisikan itu menggetarkan hati Gracia.

Pintu itu kemudian sedikit terbuka dan Gracia menemukan dirinya kehilangan kata-kata setelahnya.

***

"Sebenernya apa mau kamu?" Baru satu patah kalimat saja yang sejak tadi keluar dari mulutnya dan itu sudah berintikan tangis.

Bagaimana tidak? Gracia yang awalnya melangkah pelan ke sebuah kamar yang gelap dengan bau anyir bercampur parfum yang menyengat kemudian segera menghidupkan lampu. Kegelapan yang awalnya ada karena jendela yang ditutup dengan sebuah gorden yang menjadi batas antara si penghuni kamar dengan dunia luar itu pun seketika kembali dipenuhi cahaya.

Kamar ini kembali hidup, namun pemiliknya seolah mati. Terduduk dengan memeluk lutut di sudut.

Gracia berjongkok di depan Shani setelah sudah merasa cukup lelah untuk terus merasa kaget dan kaget. Pecahan parfum yang berserakan di sekelilingnya. Darah baik kering maupun basah di baju Shani, di lantai, di dinding. Luka-luka di sekujur tubuh Shani yang menggigil karena rasa takut. Dan itu sendiri justru membuat Gracia lebih takut. Apalagi melihat salah satu potongan kaca dengan buliran darah di sudut tajamnya. Ada apa dengan dirinya yang sekarang hobi menusuk tubuh?

Pacar Shani ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang