Pada akhirnya Gracia dan Elaine masuk bersama menuju ruang makan yang sudah penuh dengan makanan yang mungkin telah dipersiapkan oleh orang suruhan di villa Nadse ini. Meja sudah ribut dengan perdebatan antara Dyo dengan Nadse saat mereka akhirnya duduk dengan posisi saling berhadapan. Posisi Gre duduk di samping Dyo, sedang Elaine berada di samping Nadse.
"Alva mana Nad?" Tanya Elaine memotong kesibukan Nadse untuk menjawab perlombaan adu mulutnya dengan satu-satunya cowok di tempat itu.
Nadse mengendikkan bahu meski setelah itu ia tak dapat menahan matanya untuk tak berlari memandang Gre dengan tajam. Seolah menyuruh Elaine untuk lebih baik menanyakan hal itu kepada orang yang membuat Shani pergi menyendiri.
'Mungkin dia lagi bertapa, menghindar dari pacar gak pekanya.' Batin Nadse berspekulasi.
"Oh iya, itu juga yang mau gue tanyain." Dyo menjentikkan jarinya. "Tadi kok dia tiba-tiba masuk kayak hulk gitu sih perawakannya? Serem amat."
"Lo tadi liat dia?"
Nadse mendengus mendengar pertanyaan dari Gracia. Dalam hatinya ia bersinis, 'Emang masih pedulikah juga lo sama dia?'
"Iya gue tadi liat sebelum Nadse dateng buat berisik dan nyari rusuh."
"Dimana dia sekarang? Lo tadi liat dia pergi kemana Dyo?"
Gracia mengerutkan dahi. Bukankah justru harusnya dia yang bertanya seperti itu dengan nada khawatir? Kenapa Elaine malah mendahuluinya?
"Dia tadi ke belakang sih langsung. Gak tau juga, paling ke taman belakang, nyari angin seger kali. Emang tadi kalian abis ngobrol apa sih? Kok respon dia sampai kayak gitu?"
Krik-krik. Sepi. Tak ada di antara para gadis yang berani menjawab pertanyaan itu.
Dyo berdecak. "Kok pada diem? Gak ada yang mau jawab ya? Gak papa kok, gue juga gak kepo-kepo amat. Paling juga bahasannya seputar sepatu sama tas. Kali aja sih, logisnya kan mana mungkin Shani betah ikut bahas gituan. Makanya dia pergi dari kalian semua." Ucap Dyo dengan spekulasi asal-asalannya yang berhasil mencairkan suasana dari hening-hening canggung menjadi santai kembali.
Nadse terkekeh kecil sambil mengangguk-anggukan kepala. "Eh gue kaget loh, lo kok bisa ngomong masuk akal juga. Tumben lo, bisa aja benernya."
"Jangan salah ya, gue ini kan mahasiswa calon cumlaude dari luar negeri." Sombongnya.
"Dasar congkak." Desis Nadse yang membuat Elaine ikut tertawa.
Tawa mereka memudar begitu melihat Shani muncul dan melihat keempat orang sedang mengelilingi meja.
Nadse yang pertama menyadari hal itu. "Eh Shani, dari mana aja lo?"
"Mau gue cariin padahal, buat ajak lo ikut makan bareng." Kata Elaine melanjutkan sambutan Nadse untuk semakin cari muka.
"Gue gak dari mana-mana." Cuek Shani.
"Kenapa lo masih berdiri di situ? Duduk lo,"Celetuk Dyo bahkan tanpa menoleh ke belakang untuk menengok Shani yang sedang mendengus sinis. Dyo masih menyukai Shani, itu sebabnya ia memberikan perhatian meski tidak secara langsung.
Gracia menegakkan punggungnya. Ia menatap lurus terus ke mata pacarnya, namun Shani bahkan sama sekali tidak meliriknya. Ah, Gre baru sadar akan kekesalan Shani kepadanya pasti masih membuatnya merasa marah jika Shani mengingatnya, dan kemarahan itu dapat ditebak pasti juga belum reda.
Gre tau ia sedang diabaikan. Meski dalam hati Gre menyayangkan hal ini karena ini adalah kali pertama Shani tidak menganggap eksistensi keberadaannya itu nyata ada di hadapannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Pacar Shani ✔
Fanfiction[COMPLETED] "Gre, she loves you" "Who?" "Kalva Shani Indira. Siapa lagi?" "So.... What? Rasa suka aku udah hilang semenjak aku tahu siapa Kakak yang sebenarnya" ### Menjadi pacar Shani mulanya membuat Gracia hanya merasa muak. Tidak sampai ia tahu j...
