Part 24

12.5K 959 107
                                        

Drrrrrrttttt Drrrrrrtttt

Shani yang sedang fokus pada jalan, mengambil handsfree dan memakainya satu di telinga kirinya. Sambil terus menatap ke depan, ia menjawab panggilan itu tanpa merasa perlu tuk mengetahui username yang tertera di layar ponsel.

"Halo?"

"Kak?"

"Gracia?"

Shani mencoba memfokuskan pendengarannya. Tapi yang terdengar hanyalah alunan nafas yang tenang. Ini terlalu tenang, Shani merasa aneh. Perasaannya berubah jadi gelisah dalam seketika. "Are you there? Kamu baik-baik aja kan?"

"Kenapa?" Kenapa apa? "Kenapa sih Kakak selalu nyakitin Dyo? Gak cukup cuma nyakitin aku aja? Kenapa Kakak tega? Tadi, ciuman itu sengaja kan?" Tubuh Shani menegang, ia benci respon tubuhnya yang seperti ini. "Permainan apa yang sedang Kakak rancang? Kenapa main ngajak aku seenaknya, tanpa aku tahu terlibat dalam hal gila macam apa aku ada di samping Kakak, selama ini?"

"You don't know what you say. Jangan ngomong ngawur." Sahut Shani dingin.

"Ya aku tau aku bodoh. Makanya itu kan, Kakak memperlakukan aku seperti ini?"

"Memperlakukan kamu seperti apa?" Bentak Shani yang mulai merasa geram. Ia menambahkan kecepatan mobilnya dan berhasil menyalip mobil yang tak kalah cepat dalam berkendara.

"Seperti barang taruhan." Bisik Gre. "Aku bukan mainan Kakak. Berhenti anggap aku benda, aku manusia yang punya hati! Walaupun saat ini, dia sedang sakit. Gak secara fisik, i'm having a mental breakdown! Sakit tapi gak berdarah."

"Gre, stop merasa tersiksa-"

"Apa sih masalah Kakak sama Dyo? Hati aku teriris lihat pandangan Dyo tadi. Kakak gak tau gimana rasanya jadi aku! Kalau tujuannya cuma mau nyakitin, kenapa gak ambil pisau sekalian hah?" Shani memejamkan mata sebentar, mendengar nada bicara Gracia yang naik satu oktav dari sebelumnya. "Kakak tahu aku kesiksa, kenapa masih tega?" Rengek Gre, lengkap dengan isakannya yang tertahan di tenggorokan.

Bagaimana bisa Gracia berkata seperti itu? Selalu menyalahkannya, selalu meyudutkannya, selalu membuatnya merasa menjadi antagonis paling jahat sedunia. Apakah Gre tidak tahu, bagian hatinya ada yang merasa nyeri mendengarnya selalu seperti ini. Demi apapun, rasanya lebih menyakitkan saat tahu orang yang kita sayangi merasa sakit karena diri kita sendiri.

"Kenapa juga Kakak harus kabur? Kalau tau Dyo ada di sana, kenapa gak langsung hadapi dia face to face? Kenapa seolah sengaja mengumpankan aku, buat lihat tatapan terluka dari matanya? Why? Why you're so mean?"

Shani memutar bola mata, setengah mendengus ia berkata dalam hati. Maleslah ketemu dia!

"What do you want?"

You.

Shani mengeratkan kepalan tangannya yang memegang stir. Ia sangat tidak suka dengan cara Gracia berbicara, seperti menganggapnya seseorang yang ingin meminta sesuatu. Agar ketika Gre telah memberikannya, Shani bisa segera ia usir dari kehidupannya. Kenapa Gre harus se-frontal itu?

"What do you want right now? What do you want from me?" Geram Gracia, menahan kekesalannya.

You of course!

"Kakak udah tau persis gimana hubungan aku sama Dyo. Gimana aku benar-benar masih merasa sangat berhutang sama dia. Kenapa Kakak ngelakuin hal ini sama aku? Aku salah apa?"

Iya Shani tahu. Gracia pernah bercerita mengenai hal itu saat pertama mereka menjemput Dyo, saat sebelum Shani bertemu dengan sahabat masa kecilnya itu untuk yang pertama kali.

Pacar Shani ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang