Author Pov
Kinal dan Nabilah serta Oma mereka sudah berada di depan tiga makam yang akan mereka datangi. Memang ketiga Ayah mereka di makamkan di tempat serta bersebalahan. Karena memang ketiganya adalah saudara sepupu.
Kinal menatap datar pada batu nisan yang bertuliskan nama Ayahnya. Renaldy Wijaya. Orang yang sejak kecil tidak pernah dia temui. Entah kenapa, semenjak Ibunya meminta cerai kepada Ayahnya itu, Kinal tak pernah mau bertemu dengan Ayah kandungnya. Dan ini adalah pertemuan pertama mereka setelah hari dimana Ibunya membawa dia ke ruang persidangan.
Sedangkan Nabilah, dia tersenyum miris menatap batu nisan Ayahnya. Semenjak dia berusia tiga tahun, dia tak pernah lagi bertemu dengan Ayahnya. Bahkan dia sangat membenci Ayahnya. Bukan tanpa alasan dia membenci Ayahnya sendiri. Dulu, waktu dia masih sangat kecil, dia sudah mengetahui sesuatu hal yang membuatnya sangat membenci Ayahnya. Dia tahu dari beberapa tetangga rumahnya dulu. Jika Ayahnya berselingkuh. Hingga dia menjadi bahan perebutan antara Ibu dan Ayahnya. Dan setelah Ibunya tiada, karena takut jatuh ke tangan keluarga Ayahnya, sebelum meninggal, Nabilah di titipkan, di sebuah panti asuhan oleh Ibunya. Setelah usianya menginjak 7 tahun, Nabilah baru di temukan oleh orang tua Ibunya alias keluarga Kagawa.
Oma yang baru saja akan mendekati salah satu makam, langsung berhenti saat melihat sesuatu. Dia mengerutkan kening dan cepat dia memanggil salah satu bodyguard-nya.
"Bilang pada Tuan, jika Beby sudah datang sebelum kita datang tadi." Bodyguard itu mengangguk dan segera pergi menuju kepada Opa ketiga saudara itu.
Selesai memanjatkan doa, Nabilah dan Kinal berdiri. Keduanya langsung berbalik menuju mobil masing-masing tanpa berpamitan sedikitpun. Oma mereka hanya menghela nafas dan melirik kepada suaminya yang mendengus kesal.
"Maafkan mereka. Mungkin mereka memang sedang buru-buru." Kata wanita paruh baya itu. Suaminya hanya mengangguk kecil dan pergi bersama.
Di lain tempat, Beby meletakan kepalanya dengan nyaman di sebuah batu besar. Kini dia sedang menikmati langit di pantai dengan semilir angin yang begitu kencang. Dia mengingat bagaimana tadi dia melihat makam Ayahnya setelah bertahun-tahun tidak pernah melihatnya.
"Pa, kalo aja Papa nggak kasar sama Mama, aku bakal selalu dateng kesana." Gumamnya sambil memejamkan mata.
*****
Nabilah dan Kinal segera masuk ke dalam rumah setelah sampai. Ada yang aneh dengan rumah yang mereka tempati. Tidak seperti biasa. Dan tiba-tiba, dari arah atas, Bi Rita dengan air mata berlinang.
"Shania tidak ada di rumah, Nona!" Seru Bi Rita masih dengan air matanya. Kinal dan Nabilah membelalakan matanya tak percaya.
"Lo yang bener?!" Bentak Kinal dengan wajah memerah menahan amarah.
"Benar, Nona. Tadi saya mau membersihkan kamarnya. Tapi, waktu saya buka pintu kamarnya, barang-barangnya sudah tidak ada. Dan ini, dia meninggalkan surat."
Kinal langsung merebutnya dan membaca bersama Nabilah. Mereka mengeratkan rahangnya. Wajahnya memerah serta keringat mulai bercucuran.
"Ya udah, biar kita yang cari." Kata Nabilah. Keduanya langsung kembali keluar dan mencari Shania bersama-sama.
Sementara orang yang di cari, sedang duduk termenung di samping Gaby yang sedang menulis. Gaby yang sedaritadi mendiamkan Shania karena Shania yang belum mau cerita, hanya bisa meliriknya. Dia menghela nafas pelannya dan meletakan bolpoin yang dia pegang.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Angels Of Love
FanfictionSeiring berjalannya waktu, mereka sedikit demi sedikit luluh akan apa yang di perbuat Shania. Beby yang awalnya tidak menyukai Shania, akhirnya mengakui perasaan yang selama ini tidak ia percayai. Dan Kinal, mengakui semua yang dia rasakan pada saha...
