Author Pov
Mata Elang itu menatap dingin pada pria tua yang kini ada di hadapannya. Mungkin dia merasa bersalah sudah bertindak kurang ajar pada orang yang selama ini menjaganya. Tapi bohong pula jika dia tidak pernah nyaman dengan didikan yang pria itu berikan padanya.
"Opa boleh hancurin aku tahun lalu, tapi nggak buat Nabilah. Kami tau apa yang kami lakukan ini salah. Tapi apa harus kami di hukum seperti binatang? Bahkan binatang saja masih di beri tempat yang nyaman dan di perlakukan dengan baik." Dia menjeda ucapannya. Kakinya melangkah mendekat pada sang Opa yang kini menatapnya tajam.
"Opa, Beby udah tau semuanya. Semua perbuatan Opa yang buat Mama pergi ke mall itu dan siapa yang membuat mall itu terbakar. Beby udah tau. Se-mu-a." Setetes bulir bening meluncur dari sudut matanya. Mengingat apa yang beberapa bulan belakangan ini dia selidiki dan ternyata semua bukti yang dia dapatkan ada di kantor Opanya.
"Kenapa Opa tega ngebunuh anak kandung Opa sendiri? Apa karena dulu Oma sama kayak kami? Sesalah itukah anak-anak Opa sampai Opa lupa dengan darah yang mengalir dalam tubuh mereka? DI SANA ADA DARAH OPA! DARAH OPA MENGALIR DALAM TUBUH MEREKA DAN OPA TEGA NGEBUNUH ANAK OPA SENDIRI DEMI NAMA BAIK KELUARGA!"
Nabilah yang tadinya bersembunyi langsung berlari pada Beby yang sudah di penuhi amarah. Wajahnya memerah dan rahangnya mengeras. Air matanya menjadi tanda bahwa dia benar-benar terluka mengetahui kenyataan yang lebih pahit dari kenyataan yang sebelumnya dia dapatkan.
"Beb..." Lirihan Nabilah tak di hiraukan oleh Beby. Gadis bertubuh kurus itu menarik lengan Nabilah dan memposisikan tubuh Nabilah di depannya.
"Lihat dia sekarang! Mamanya pergi ke rumah Opa dengan mengemis belas kasihan agar Opa berhenti menyiksa orang yang sangat dia cintai, tapi apa? Opa malah menyuruh dia bunuh diri? Hah?! Ayah macam apa anda ini?!" Seruan Beby membuat Nabilah yang mendengar semua itu menatap Opanya dengan tidak percaya. Dia baru saja mengetahui kenyataan yang sangat pahit.
Baru saja Beby akan membuka mulutnya kembali, suara seseorang yang dia cintai membuatnya bungkam. "Beby!" Suara gadis jangkung yang baru saja turun dari sebuah mobil sedan berwarna silver itu membuat Beby menoleh. Di sana dia bisa melihat kalau Shania berdiri bersama seorang wanita dan seorang pria.
"Nju..." Lirih Beby menatap Shania yang mulai melangkah ke dekatnya.
"Jangan kayak gini, aku takut." Gumaman Shania sukses membuat gadis cungkring itu terdiam. Tangannya perlahan menggenggam tangan Shania dan mengusapnya lembut.
"Maaf udah buat kamu takut." Bisik Beby pelan. Dia menoleh pada Opanya yang menatap bengis padanya. Tapi bukannya takut, Beby malah balik menatap tajam pada sang Opa.
"Dia orang yang saya cintai, dan sampai kapanpun saya tetap mencintainya. Saya bukan Beby Antonie, saya Beby Chaesara. Saya tidak akan pernah melepaskan apa yang saya miliki." Ucap Beby dengan suara lantangnya. Mata Opanya semakin menajam. Rahangnya pun mulai terlihat semakin mengeras dan mulutnya mengatup kuat.
"Sampai kapanpun." Lanjut Beby yang sudah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Terlihat sang Opa mulai maju ke dekatnya. Namun, baru beberapa langkah kaki itu mendekat, suara seorang wanita membuat pria tua itu menghentikan langkahnya. Menatap pada wanita cantik yang menatapnya dengan tatapan penuh luka bercampur benci.
"Permisi, Tuan Kagawa." Ucap wanita itu berjalan mendekati Shania dan Beby. Dia berdiri di samping Shania dan merangkul gadis jangkung itu.
Pria tua itu melotot ketika tahu siapa yang ada di hadapannya. Dia tidak percaya kalau perempuan di hadapannya saat ini masih hidup.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Angels Of Love
FanficSeiring berjalannya waktu, mereka sedikit demi sedikit luluh akan apa yang di perbuat Shania. Beby yang awalnya tidak menyukai Shania, akhirnya mengakui perasaan yang selama ini tidak ia percayai. Dan Kinal, mengakui semua yang dia rasakan pada saha...
