Author Pov
"Kinal? Kok kamu di sini? Kapan dateng? Iih! Nggak bilang aku!"
Veranda seakan tidak menyadari akan pertanyaan dan amarah Kinal. Gadis itu malah melempar tas tangannya dan melangkah mendekati Kinal untuk memeluknya. Baru saja akan memeluknya, Kinal sudah mundur hingga Veranda hampir saja jatuh.
"Kok kamu malah mundur, sih? Aku kangen tau nggak!" Seru Veranda kembali mencoba memeluk Kinal. Tapi lagi-lagi Kinal menghindar.
"Siapa laki-laki itu?" Tanya Kinal dengan suara yang sangat dingin. Veranda yang mendengar pertanyaan yang sama hanya tersenyum. Dia meraih tangan Kinal dan meletakannya tepat di dada sebelah kirinya, dimana jantungnya berada.
"Rasain detak jantung aku, seberapa kencang dia berdetak karena kamu ada di sini. Setampan apapun laki-laki di sini, secantik apapun perempuan di sini, hati dan cintaku cuma buat kamu, Nal. Bahkan sejahat apapun kamu dulu sama aku, aku masih bisa cinta sama kamu." Ucap Veranda tersenyum begitu tulus. Dia memang tidak merasa melakukan kesalahan. Makanya dia berani memperlihatkan rasa yang kini ada dalam hatinya.
Kinal tertegun sebentar menatap manik mata Veranda yang begitu indah. Ketulusan yang amat dalam kini dia lihat dalam mata orang yang dia cintai. Inilah Verandanya, jujur apa adanya dan mampu membuatnya jatuh berulangkali dalam pesonanya.
"Mungkin ini yang di definisikan kelemahan. Aku selalu lemah di depan kamu. Aku cuma takut, takut kalau kamu berubah pikiran." Bisik Kinal dengan masih menatap Veranda.
Gadis bak bidadari itu tersenyum manis dan mulai melingkaran tangannya di leher Kinal. Rasanya malam ini dia menjadi orang terbahagia karena cintanya datang menemaninya. "Aku nggak akan bisa berubah pikiran kalo kamu masih ada di pikiran aku." Ucap Veranda menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Kinal. Tempat ternyaman yang Tuhan berikan untuknya.
"Kamu darimana?" Tanya Kinal memeluk pinggang Veranda dengan erat.
"Dari acara makan malem. Biasa, temen-temen sekelasku ngajak makan malem." Jawab Veranda masih memeluk Kinal. Dia benar-benar merindukan Kinalnya.
"Terus hp kamu kemana?" Ucap Kinal sedikit menjauhkan kepalanya untuk melihat wajah manis Veranda.
"Hp aku rusak, Nal. Dari kemarin mau beli baru, ada aja kerjaannya. Yang tugas, diskusi sama kelompok, belum lagi aku ikut organisasi di kampus. Jadi nggak sempet." Jelas Veranda memasang wajah cemebrutnya.
Kinal tersenyum dan mengusap pipi Veranda dengan lembut. Di kecupnya kening Veranda sedikit lama dan dia lepaskan. "Pake punya aku aja, biar aku aja yang beli lagi." Katanya merapikan anak rambut Veranda.
"Kamu pasti belum makan, aku masakin dulu, ya? Biar kamu malem-malem nggak ribut." Ucap Veranda mengecup sekilas bibir Kinal dan pergi menuju kamar untuk berganti pakaian.
Seperginya Veranda ke kamar, Kinal mengambil ponselnya yang ada di dalam saku celananya. Di ketiknya sebuah nama dalam kontaknya dan segera dia letakan di dekat telinganya.
"Cari tau semua pria yang berani mendekati Veranda, terutama pria pemilik mobil Mini Cooper itu." Ucap Kinal dengan tatapan tajamnya. Setelah itu dia langsung memasukan ponselnya lagi ke dalam saku dan pergi menuju ruang makan untuk menunggu Veranda.
*****
Semalam Shania dan Gaby terus bercerita banyak hal hingga larut. Dan kini gadis yang masih tidur di bawah selimut tebalnya itu hanya berdeham menjawab panggilan-panggilan Shania yang sudah bangun dengan posisi duduk di sebelahnya.
"Gaby! Banguuun!!! Lo mau sampe jam berapa di sini? Katanya ada kelas!" Seruan Shania seakan tak terdengar olehnya. Padahal Shania jelas tahu kalau gadis itu mendengarnya dengan sangat.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Angels Of Love
FanfictionSeiring berjalannya waktu, mereka sedikit demi sedikit luluh akan apa yang di perbuat Shania. Beby yang awalnya tidak menyukai Shania, akhirnya mengakui perasaan yang selama ini tidak ia percayai. Dan Kinal, mengakui semua yang dia rasakan pada saha...
