Author Pov
Ketiga bersaudara sepupu itu kini sudah berada di sebuah ruangan. Duduk di sofa panjang dengan memasang wajah datar. Sebentar lagi mereka akan bertemu dengan Oma dan Opa mereka. Meski ada sedikit rasa ragu, tapi mereka bertekad untuk mempertahankan hubungan mereka.
"Cucu-cucu Oma akhirnya datang juga. Ayo ke meja makan, Oma udah siapin makanan kesukaan kalian." Suara sang Oma membuat ketiganya menoleh dan mengangguk sopan.
Mereka berdiri dan melangkah menuju ruang makan. Tampak sang Opa sudah duduk di kursi makan dengan melipat kedua tangannya dan menatap ketiganya.
"Duduk!" Pinta sang Opa. Ketiganya pun duduk di kursi yang bersebelahan.
"Ayo-ayo, langsung di makan dong. Kok pada diem." Ucapan Oma mereka membuat mereka saling melirik dan mulai mengambil makanan masing-masing.
Kinal yang biasanya memiliki porsi makan sangat banyak pun tampak tak berselera setelah mendengar cerita Beby dan Nabilah 4 hari yang lalu. Sementara Nabilah dan Beby tampak biasa saja.
Mereka makan dalam diam. Itu adalah kebiasaan dalam keluarga mereka. Tidak ada yang mengobrol saat berada di meja makan dan tidak ada hal-hal lain selain makanan di hadapan mereka. Sesekali Kinal, Beby dan Nabilah saling melirik. Karena memang mereka bertiga biasanya tidak kaku seperti ini jika berada di meja makan.
Gue berasa kek robot. Gumam Nabilah dalam hati.
Tak lama kemudian, mereka sudah menghabiskan makanannya masing-masing. Sang Oma terdiam dan memperhatikan ketiga cucunya itu. Senyumnya mengembang saat matanya jatuh pada Nabilah yang sepertinya sudah gatal untuk berbicara.
"Nabilah, gimana lagu kamu?" Tanya sang Oma menatap Nabilah dengan senyumnya.
"Ba-baik, Oma." Jawab Nabilah tersenyum kikuk.
Sang Oma mengalihkan pandangannya pada Beby. Gadis berlesung pipi yang dulu sangat enggan makan satu meja dengannya dan yang lainnya. Kini gadis itu sudah mau makan di satu meja makan bersama kedua sepupunya. Bahkan ia bisa melihat kalau Beby sudah sangat akrab dengan sepupunya. Dan ia tahu siapa yang sudah membuat gadis keras kepala itu bisa berubah.
"Kalian sudah besar." Ucap sang Oma mulai membuka suara.
"Oma tau kalian sudah bisa memilih apa keinginan dan juga kebahagiaan kalian. Rasanya... baru kemarin kalian memakai seragam sekolah dasar yang sama, bertengkar hanya karena sesuatu yang tidak penting dan tidak mau makan di satu meja makan seperti saat ini." Ketiganya saling melirik dan mereka pun ikut mengingat masa-masa itu.
"Biar Opa kamu yang melanjutkan. Oma mau ke dapur dulu." Ujar sang Oma berdiri dari duduknya dan berjalan ke dapur, di ikuti oleh beberapa pelayan perempuan yang membawa piring-piring kotor.
Kinal menghela nafasnya pelan. Dia tidak bisa berfikir jernih jika sang Opa yang akan berbicara. Hatinya takut jika amarah Beby akan kembali terpancing seperti yang lalu. Namun saat dia melirik pada sepupunya itu, terlihat Beby sedang menggenggam sebuah bando kain di tangannya dengan amat erat. Dia bisa menebak kalau Beby sedang menahan emosinya.
Sementara Nabilah, gadis itu tampak mengalihkan pandangannya. Memperhatikan interior ruang makan yang bisa dia taksir harganya puluhan juta. Bahkan ruang makan di Happy House saja kalah mewah.
"Oke. Opa akan mulai. Setelah kejadian empat hari yang lalu, Opa dan Oma bertengkar hebat. Oma tidak mau berbicara dengan Opa selama dua hari berturut-turut karena... ya, kalian tahu sendiri. Ada seorang gadis yang membuka mata hati Opa akan apa itu cinta. Dia bilang...." Sang Opa tampak tersenyum tipis. Ketiga sepupu itu mengerutkan keningnya melihat Opa mereka tersenyum. Hal yang sangat jarang mereka lihat.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Angels Of Love
FanfictionSeiring berjalannya waktu, mereka sedikit demi sedikit luluh akan apa yang di perbuat Shania. Beby yang awalnya tidak menyukai Shania, akhirnya mengakui perasaan yang selama ini tidak ia percayai. Dan Kinal, mengakui semua yang dia rasakan pada saha...
