I hate you I love you
I hate that I want you
You want her
You need her
And I'll never be her
***
Perkenalin, namanya Adhitama Dirgantara, biasa kupanggil Tama. Seperti yang sudah kukatakan sebelumnya, aku sudah mencintai pria ini sejak umurku 7 tahun. Bagaimana bisa, kalian nanya?
Apa?
Kalian nggak nanya?
Yaudah, bodo amat, yang penting aku pengen cerita.
Deal?
Oke. deal, fix.
Jadi ceritanya aku sudah mencintai Tama sejak aku masih 7 tahun, saat gigi depanku masih ompong semua, sejak aku masih belum mengenal apa itu cinta, tapi nyatanya aku sudah mencintainya selama ini.
Tama sudah ada disampingku sejak aku baru lahir. Bagaimana bisa? Ya bisa aja dong soalnya 'kan dia lebih tua 13 tahun daripada aku. Oke oke aku bakal serius, jangan pergi dulu pliss.
Tapi aku nggak bercanda soal dia yang lebih tua 13 tahun dibandingkan aku. Jadi ketika aku masih jadi bayi merah yang baru dipotong tali pusatnya, Tama sudah mengalami puber, sudah merasakan 'mimpi basah' atau mungkin saja sudah mulai menyimpan rasa tertarik pada salah satu cewek di sekolahnya.
Fix, ini aku yang cerita kenapa aku juga yang jadi kesal ya?
Tolong jangan membahas cewek lain dalam satu kalimat yang sama dengan kalimat yang ada Tama-nya. Ngerti?
Nggak?
Bodo amat.
Sehingga di saat dimana aku baru pertama kali belajar berkata, saat aku baru pertama kali bisa berjalan sendiri, semua kejadian-kejadian penting dalam hidupku, selalu saja ada Tama didalamnya. Bahkan, kata Mama, pria itu membantu mengganti popokku ketika aku masih berusia beberapa bulan.
Bisa kalian bayangkan betapa memalukannya itu?
Dan bukan tidak jarang rasa minder itu menyerang diriku. Maksudku, hello, dia itu seorang pria dewasa yang keren, mapan, dan suami-able banget. Sedangkan aku? Aku masih bocah polos ingusan yang belum mengerti apa-apa.
Apa yang bisa kuberikan padanya? Tidak ada.
Maka dari itu, aku pun menunggu.
Aku terus menunggu tiba saatnya dimana aku sudah cukup matang untuk menjadi pendampingnya. Dan bayangkan betapa hancurnya aku, ketika 4 tahun yang lalu, di sebuah malam yang damai seperti malam-malam sebelumnya, ia mampir kerumahku dengan membawa sebuah kartu undangan.
Undangan pernikahannya dengan seorang cewek yang bahkan tidak kuketahui asal usulnya.
Bisa kalian bayangkan bagaimana perasaanku?
Hancur adalah kata yang paling mendeskripsikan diriku kala itu. Aku mogok makan, mogok sekolah, tidak mau keluar dari kamar. Aku membuat semua orang kewalahan. Aku membuat dia kewalahan. Ya, memang itulah tujuanku.
Aku bocah banget, bukan? Saat itu, kupikir dengan membuatnya merasa bersalah padaku seperti itu, ia akan membatalkan pernikahannya dan tetap bersama denganku.
Tapi ternyata aku salah.
Tidak ada seinci pun rasa bersalah dalam dirinya saat itu. Setelah bertahun-tahun lewat, barulah kusadari bahwa semua usahaku benar-benar sia-sia. Daripada rasa bersalah karena meninggalkanku, yang ia rasakan waktu itu lebih kepada rasa kasihan kepada anak tetangga yang terlalu lengket dengannya.
Dan semua usahaku untuk membuatnya tetap tinggal, dilihatnya hanya sebagai bentuk pemberontakan anak kecil yang tidak ingin orang yang disayanginya pergi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Look At Me ✔
Teen Fiction[Completed] [16+] Lebih dari setengah eksistensi hidupnya dihabiskan seorang Tavisha Kaelyn untuk mencintai Adhitama Dirgantara, duda yang lebih tua tiga belas tahun darinya. Hingga akhirnya Tavisha merasa bahwa cintanya sudah berbalas, ternyata sos...
